Blogger Tricks


0

Elang Negeri Sakura Itu, Mampir di Tahura SSH

Riau Pos - For Us Kamis, 15 Desember 2011

FOTO RAIN(CORRY SHIH CHUNG)FOR RIAU POS 
TERBANG: Elang Sikep Madu Asia (Pernis Ptilorhynchus) burung  migran. Berbiak di Asia bagian timur laut dan Cina. Mengembara pada musim dingin ke selatan sampai ke Indonesia melewati Pulau Sumatera. 

Mungkin sulit di percaya, elang yang berada di Jepang bisa mampir ke Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Syarif Hasyim (SSH). Namun begitulah yang terjadi, elang madu sikep asia (Pernis ptylorhinchus), jenis elang migran yang berbiak di negeri Sakura, pekan lalu, terlihat berada di Tahura SSH.
Laporan Andi Noviriyanti, Pekanbaru andinoviriyanti@riaupos.com

     Dr Syartinilia, tampak sumringah pagi itu (8/3), di Aula Balai Latihan Kehutanan (BLK). Peneliti elang migran ini dalam presentasinya menyampaikan betapa menariknya mengamati kehidupan elang migran. Elang migran itu, katanya, selalu bermigrasi di musim dingin melintasi berbagai negara yang hangat. Namun, setelah musim gugur, mereka selalu kembali ke daerah asalnya. Hebatnya lagi, selalu pada lintasan yang sama.
     Padahal elang-elang itu, menurutnya, tentu tidak mengenal GPS (Global  Positioning System). Sampai saat ini pun tak ada yang tahu pasti mengapa mereka turun temurun tahu jalan untuk pergi dan pulang di jalur yang sama. Selain melalui jalur-jalur yang sama, mereka ternyata juga mampir di habitat yang hampir-hampir mirip. 
     “Selalu saja, landscape yang kami amati, daerah singgah mereka adalah kawasan hutan sekunder, yang berdekatan dengan perkampungan dan hutan primer,” tuturnya saat memberi workshop Pelatihan Identifikasi dan Monitoring Raptor Sumatera yang diselenggarakan Raptor Indonesia (RAIN) dam Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
     Lalu, bagaimana doktor elang tamatan Universitas Tokyo ini yakin, bahwa elang migran selalu melintasi daerah yang sama. Dalam penelitian S3-nya di Jepang ia memantau pola migrasi elang migran yang berbiak di Jepang khususnya elang madu sikep asia atau dalam Bahasa Inggris  oriental-honey buzzards (OHB). Dalam penelitiannya yang menggunakan satellite tracking data (semacam pelacak yang ditempelkan di atas punggung elang, kemudian pergerakannya dipantau dengan menggunakan data satelit) terlihat pola migrasi elang-elang tersebut. 
     “Penggunaan satellite tracking date cukup canggih. Pasalnya ia mampu memantau elang tersebut dengan data real time. Dalam penelitian saya, saya membuktikan hal itu. Saya melihat elang-elang yang sudah dipasangkan alat deteksi tadi, terlihat dilokasi yang disebutkan. Saya meneliti habitat elang-elang migran tersebut ketika berada di Indonesia,” jelasnya.
     Lia, panggilan akrab Syartinilia, juga menyebutkan bahwa pergerakan elang yang dipasangkan alat pendeteksi itu terpantau selama tiga tahun. Itu sesuai dengan umur baterainya. 
Dalam presentasinya, ia juga menyebutkan, bahwa Riau merupakan lintasan penting bagi elang migran, terutama Pulau Rupat dan pulau-pulau kecil lainnya. 
     “Elang itu, terbang dari Malaysia masuk ke Pulau Rupat, melewati Siak, Pelalawan, dan Indragiri Hilir. Terus terbang ke bawah Pulau Sumatera dan masuk ke Jawa dan akhirnya bermukim di Borneo. Mereka tinggal di tempat itu sampai memasuki musim gugur. Pada musim gugur kembali lagi bermigrasi menuju Jepang,” paparnya.
     Ternyata penuturan Lia, benar adanya. Saat peserta Pelatihan Identifikasi dan Monitoring Raptor Sumatera  bersama Presiden of Raptor Indonesia (RAIN) Zaini Rahman dan Direktur Suaka Elang Gunawan melakukan pengamatan di Tahura SSH, Rabu (9/3) mereka melihat ada dua ekor elang sikep madu asia. 
Menurut Zaini, elang sikep madu asia, memiliki nama lain yakni alap-alap madu atau sikep madu. Deskripsinya berukuran sedang 50 cm. Warnanya sangat bervariasi dalam bentuk, terang, normal dari dua ras yang berbeda. Terdapat garis-garis tidak teratur pada ekornya.   
     Keberadaan elang migran di Tahura SSH membuktikan dugaan selama ini bahwa Riau merupakan lintasan penting bagi elang migran. Selama ini, menurut Zaini dan Lia, hal itu hanya diketahui dari studi literatur dan juga data satelit. Mengingat tak ada yang menelitinya di Riau.
     “Di Sumatera ini hanya ada empat orang peneliti dan pengamat elang. Jumlah itu sangat minim. Pasalnya 50 persen (36 jenis) elang yang ada di Indonesia ada di Riau,” ungkap Zaini. 
     Kondisi itu lah yang menurut Lia dan Zaini menjadi hal yang memprihatikan. Itulah yang menjadi latar belakang dilaksanakannya pelatihan untuk membantu mengkonservasi elang.
     Mereka berharap Riau yang menjadi tempat mampir elang migran dapat terus menjadi tempat singgah yang nyaman. Tentnya dengan tetap menjaga habitar mereka, yakni perpaduan hutan sekunder, pemukiman penduduk dan hutan primer. Seperti posisi Tahura SSH yang memiliki hutan skunder, primer dan juga berdekatan dengan pemukiman.***

0 komentar:

Posting Komentar