Blogger Tricks


Tampilkan postingan dengan label For Us. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label For Us. Tampilkan semua postingan
0

Tanam Jelutung di Bukitbatu

Riau Pos - For Us Minggu, 29 April 2012 ,
DOKUMENTASI : Peneliti dari LSM Askul  Jepang sedang mengambil dokumentasi tanaman Jelutung di lahan perekebunan masyarakat, di SM Bukit Batu.
  
Getah tanaman rawa hutan tropis ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan ban, pernis, dan barang kerajinan lainnya. Tidak kalah penting lagi, tanaman ini bermanfaat sebagai penutupan lahan rawa  dan bisa menyumbang penyerapan karbon. Artinya, tanaman yang disebut Jelutung  bisa mengurangi pemanasan global.

Laporan, MASHURI KURNIAWAN, Bukit Batu mashurikurniawan@riaupos.co
UPAYA  itulah yang menjadi dasar Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (PILI) melakukan penanaman kembali jelutung di Suaka Margasatwa Bukit Batu, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis. Dibantu Kelompok Masyarakat Peduli Hutan (KMPH) Temiang, PILI menanami lahan rawa yang rusak karena aktifitas penebangan liar beberapa tahun silam.
0

Lalek di Bukit Barisan

Riau Pos - For Us ,

LALEK :  Dua serangga keluarga Tipulidae ini tergolong dalam kelompok Trueflies dalam ordo Diptera. Masyarakat Rokan Hulu menyebut hewan ini Lalek

Dalam bahasa Rokan Hulu serangga ini disebut dengan lalek. Apakah lalek berarti lalat hal ini tidak diketahui secara pasti? Namun serangga ini banyak  dijumpai di hutan primer dan sekunder di kaki Bukit Barisan.
Serangga yang satu seperti nyamuk berukuran panjang 3,5-4 cm selalu bertengger di ujung daun. 
0

Ndit & Mbun

Riau Pos - For Us ,
0

Air Bersih di Lahan Gambut Bukan Impian

Riau Pos - For Us Senin, 23 April 2012 ,
 MESIN : Mesin RO ini sangat bermanfaat untuk penyulingan air di daerah yang kesulitan air bersih.  Penggunaannya sekarang sudah dilakukan di Desa Simpang Gaung, Kecamatan Gaung. Daerah ini digunakan untuk mengelola air sungai gambut menjadi air minum.
 
Masyarakat yang tinggal di daerah gambut seperti Indragiri Hilir (Inhil) kerap kesulitan mendapatkan air bersih. Mereka kerap hanya bergantung pada air hujan. Tapi kini dengan teknologi  Reverse osmosis (RO) atau osmosis mereka bisa mendapatkan air bersih , jernih dan dapat langsung di minum
0

Buah Aro Tumbuh Besar Sepanjang Sungai Rokan

Riau Pos - For Us ,
Yusri Syam

BUAH  Aro dalam bahasa Inggris disebut dengan fig. Buah ini tergolong kepada kelompok Rosales yaitu keluarga Moraceae (Mulberry family).  Buahnya sebagian besar dapat dimanfaatkan. Disepanjang Sungai Rokan tempat habitatnya sangat banyak jenisnya, lebih dari 20 jenis.
0

Ndit and Mbun

Riau Pos - For Us ,
0

Ada Kanker Dibalik Plastik

Riau Pos - For Us Selasa, 17 April 2012 ,

PLASTIK: Tanpa di sadari plastik sebagai pembungkus manakan yang digunakan sehari hari  berbahaya bagi kesehatan. Kebanyakan plastik yang beredar  itu berbahaya digunakan terutama untuk membungkus makanan panas dan dingin.
 
 Hati-hati mengunakan plastik untuk membungkus makanan. Terlebih lagi bila berhadapan dengan suhu tinggi dan minyak. Kandungan dioksin dan zat beracun serta adiktif yang menyusun plastik bisa bercampur dengan makanan. Jika terakumulasi zat tersebut bisa memicu berkembangnya sel kanker dan berbagai penyakit lainnya.
0

Kelabang Buruk Tika dan Kunkulum

Riau Pos - For Us ,

 
YUSRI SYAM For  RIAU POS
KELABANG : Hewan ini termasuk jenis kelabang. Fisiknya bersisik dan keras. Bisa ditemukan di hutan Rokan Hulu. 


KELABANG ini memiliki punggung bersisik dan keras. Termasuk kelompok Millipedes. Keluarga Oxydesmidae. Di Negara Tanzania, kelabangini berwarna agak kemerahan, dengan antena panjang. Kelabanga di negara itu disebut Tanzanian flat nacked.
0

Ndit & Ndut

Riau Pos - For Us ,
0

Tikus Perkotaan Hidup Beralaskan Sampah

Riau Pos - For Us Minggu, 08 April 2012 ,


     didik herwanto/ Riau Pos
TIKUS : Hewan pengerat ini berkembangbiak dengan cepat di Kota Pekanbaru. Limbah pembuangan masyarakatyang dibuang sembarangan dan lingkungan yang kotor menjadi tempat baik bagi tikus bertahan hidup.   didik herwanto


Masyarakat Kota Pekanbaru setiap hari memproduksi sampah sebanyak 3.000 kubik. Besarnya volume sampah ini juga memberikan peluang besar bagi hewan pengerat,  seperti tikus berkembang dengan cepat. Mamalia ini juga tumbuh besar. Karena persediaan makanannya yang banyak dari pembuangan limbah masyarakat itu.

Laporan  Mashuri Kurniawan  Pekanbaru mashurikurniawan@riaupos.co.id

Hewan pengerat itu biasanya  mudah dijumpai di perumahan, pasar, rumah sakit dan tempat umum lainnya.  Hewan itu pandai memanjat serta melompat.
Mamalia kecil ini bisa merusak dan membawa penyakit bagi manusia.  Di Kota Pekanbaru jenis tikus yang bisa dijumpai, tikus got,  coklat, dan tikus rumah besar. 
0

Ulat Menyerupai Predator

Riau Pos - For Us ,
Ulat Menyerupai Predator 
 Yusrisyam for Riau Pos
PREADTOR : Ulat menyerupai predator ini merupakan salah satu koleksi Pusat Informasi Kupu-Kupu Sumatera di Rokan Hulu

BENTUK anatomi menyerupai predator, seram sangat membantu dalam keselamatan seekor ulat kupu-kupu yang memiliki masa hidup antara 20-40 hari.

Masa hidup sebagai ulat dalam metamorfosis kupu-kupu menjadi ancaman dari serangga maupun predator lainnya. banyak bentuk-bentuk  ulat kupu-kupu yang menyerupai alam atau hewan yang ditakuti lainnya, dari koleksi Pusat informasi Kupu-kupu Sumatera di Rokan Hulu.
0

Ndit and Embun

Riau Pos - For Us ,
1

Meraup rupiah dari Silais dan Baung

Riau Pos - For Us Sabtu, 07 April 2012 ,


KERAMBA : Bukan hanya panorama alamnya yang indah, di Tasik Betung. Masyarakat sekitar memanfaatkannya untuk budidaya ikan baung dan selais. Dengan menggunakan keramba, masyarakat sekitar melaksanakan budidaya ikan.

 Ikan selais dan baung dapat dimanfaatkan sebagai komoditi. Kedua jenis ikan ini juga bisa dimanfaatkan sebagai komoditas ekonomi. Masyarakat Desa Tamiang Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis dan Desa Tasik Betung Kecamatan Sungai Mandau Kabupaten Siak, melihat potensi tersebut sebagai penambah pendapatan mereka.    

Laporan Mashuri Kurniawan, Siak mashurikurniawan@riaupos.co.id
Dipasaran harga ikan selais dan baung bila di salai rata-rata mencapai Rp80.000 per kilogram.Sedangkan ikan basah selais Rp55.000 per kilogram dan baung Rp35.000 per kilogram.

Masyarakat di Desa Tasik Betung, Kecamatan Sungai Mandau, Kabupaten Siak, memanfaatkan ketenangan air dan debit  air yang stabil untuk melakukan budidaya ikan.
0

Telur Kupu-Kupu yang Excotis

Riau Pos - For Us ,
Telur Kupu-Kupu
yang Excotis

 Yusrisyam for Riau Pos
TELUR : Bentuk telur kupu-kupu nan excotis. Tergantung jenis spesiesnya. 
 
TELUR kupu-kupu memiliki berbagai bentuk, terkadang mewakili benda yang dilihat sehari-hari di alam makro. Misalnya saja telur kupu-kupu spesies Troides cuneifera berukuran 2 mm, menyerupai sebuah bakpau yang menggiurkan.
0

Menelusuri Lumbung Padi di Lahan Gambut

Riau Pos - For Us Sabtu, 24 Maret 2012 ,
Menelusuri Lumbung Padi di Lahan Gambut
PETANI: Para petani di Desa Desa Kemuning, Kecamatan Bunga Raya, Kabupaten Siak, mengolah padi

Hamparan padi terbentang di areal sawah seluas 516 hektar, di Desa Kemuning, Kecamatan  Bunga raya, Kabupaten Siak. Masyarakat di desa itu mampu berswasembada beras bahkan menjadi lumbung padi bagi Kabupaten Siak. Suatu upaya untuk memanfaatkan lahan gambut lebih arif dan menjaga ketahanan pangan.

Laporan  Mashuri Kurniawan  Siak mashurikurniawan@riaupos.co.id
Burung walet terbang tinggi diatas padi yang sudah mulai menguning, Selasa siang (18/3) lalu. “Pemanfaatan lahan tidur untuk budidaya padi sawah ramah lingkungan” sebutan itulah yang menjadi slogan masyarakat petani di daerah itu. Aliran air irigrasi mengalir deras di sekitar lokasi sawah.
0

Ndit and Embun

Riau Pos - For Us ,
0

Bunga Bangkai Rokan

Riau Pos - For Us ,
Bunga Bangkai Rokan
 TALAS : Bunga Bangkai termasuk Famili Araceae sebangsa talas dengan nama spesies Amorphophallus titanum.

BUNGA bangkai termasuk Famili Araceae sebangsa talas dengan namaspesies Amorphophallus titanum.Tanaman ini beda sekali dengan bunga raflesia. Namun, banyak orang menyamakannya, jenis Amorphophallus titanu ini merupakan endemic Sumatera.
0

Makan Seekor Babi, Berpuasa Dua Hari

Riau Pos - For Us Sabtu, 17 Maret 2012 ,
 Makan Seekor Babi, Berpuasa Dua Hari 

BBKSDA Riau for Riau Pos
HARIMAU :Raja Hutan yang tertangkap di Gaung, Kabupaten Indragiri Hilir 4 Oktober 2011, sejak 5 Februari 2012 dibawa ke Taman Safari Indonesia untuk dirawat. .

Luas hutan menyempit. Harimau Sumatera (Phantera tigris sumatrae) jadi terjepit. Gara-gara konflik, si raja hutan ditangkap. Mereka tersingkir dari habitat. Termasuk harimau asal Gaung, Indragiri Hilir yang awal Februari lalu dibawa ke Taman Safari Indonesia (TSI). Di penangkarania biasa makan seekor babi dan berpuasa dua hari.

Laporan  Mashuri Kurniawan, Minas mashurikurniawan@riaupos.co.id

Masih ingat dengan harimau  hasil tangkapan Balai Besai Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA), di Kecamatan Gaung, Kabupaten Indragirihilir 4 Oktober 2011 lalu? Sejak sebulan lalu, karena alasan sakit ia yang sebelumnya di rawat di Arboretum Sinar Mas Forestry, dibawa ke Taman Safari Indonesia.
Harimau dengan panjang 120 centimeter, berat 60 Kilogram dibawa tangal 5 Februari 2012 lalu dengan mempergunakan pesawat ke TSI. Berdasarkan informasi BBKSDA Riau, harimau tersebut sekarang sedang dirawat oleh tim dokter hewan, dari Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua. Bila sudah sembuh hewan itu akan dibawa kembali ke Riau dan dilepaskan ke habitatnya.

Dari penuturan Kepala BBKSDA Riau, Bambang Dahono Adji melalui Humas Muhammad Zanir SH, harimau ini sedang dalam perawatan. Kondisi kesehatannya sedikit terganggu, makanya untuk mngantisipasi kondisi tidak baik, hewan itu dibawa ke TSI untuk perawatan intensif.

‘’Bila harimau sudah sembuh langsung dibawa kembali ke Riau dan dilepaskan ke habitatnya. Sekarang sudah sehat harimau itu. Hanya saja masih dalam pengawasan tim dokter hewan dari TSI. Bila sudah dinyatakan boleh dibawa pulang ke Riau, kita segera bawa,’’ ujar Zanir kepada Riau Pos, Kamis (15/3) kemarin.
Menurutnya, sebagai predator utama dalam rantai makanan, harimau mempertahankan populasi dengan memangsa liar yang ada dibawah pengendaliannya. Sehingga keseimbangan antara mangsa dan vegetasi yang mereka makan dapat terjaga.

Harimau hidupnya di alam, maka biarkan mereka hidup. Harimau punya peranan dalam ekosistem, mereka mengkontrol dan mengendalikan populasi-populasi yang ada di rantai bawah. Secara  ekologis mereka sangat penting peranannya.

Harimau terangnya lagi, memiliki indera pendengaran dan penglihatan yang sangat tajam. Harimau Sumatera merupakan hewan soliter dan mereka berburu di malam hari, mengintai mangsanya dengan sabar sebelum menyerang dari belakang atau samping.

Humas WWF Program Riau, Syamsidar mengatakan, saat melakukan penelusuran jejak Harimau dengan tim surveyor WWF Program Riau belum lama ini. Permasalahan konflik harimau terjadi karena daerah jelajah harimau sumatera telah berkurang, seiring tidak terkendalinya pemanfaatan hutan di Sumatera. 

Data WWF Program Riau mengungkapkan hasil kamera trap, dari kecocokan belang yang didapatkan diperkirakan sebanyak 36 ekor harimau yang masih bertahan hidup, di Riau. Harimau Sumatera yang ada di empat tempat di Riau yaitu di antaranya Tesso Nilo, Kerumutan, Rimbang Baling dan di koridor yang menghubungkan kawasan konservasi Suaka Margasatwa Rimbang Baling dengan Bukit Tiga Puluh.

Kawasan hutan lindung yang dikenal sebagai koridor biologi satwa antara Suaka Margasatwa (SM) Bukit Rimbang Baling dan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) itu telah rusak dan beralih fungsi menjadi perkebunan sawit milik perseorangan. Daerah hutan lindung memiliki karakteristik pergunungan ini, hancur akibat dirambah dan beralih fungsi menjadi perkebunan sawit. Padahal, kawasan lindung yang ditetapkan melalui SK Menteri Kehutanan (Menhut) No 254/1984 dan Peraturan Daerah Riau No 10/1994 sebagai kawasan hutan lindung tersebut terkesan dibiarkan rusak dan terbengkalai.

Sementara itu data yang pernah dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan lewat hasil penilaian populasi dan keberlangsungan habitat atau PHVA (Population and Habitat Viability Assessment) tahun 1992 memperkirakan harimau Sumatera di alam sekitar 400 ekor.

Masih data WWF Program Riau Harimau Sumatera dapat berbiak kapan saja. Masa kehamilan adalah sekitar 103 hari. Biasanya harimau betina melahirkan dua atau tiga ekor anak harimau sekaligus, dan paling banyak enam ekor. Mata anak harimau baru terbuka pada hari kesepuluh. Anak harimau hanya minum air susu induknya selama delapan minggu pertama. Sehabis itu mereka dapat mencoba makanan padat, namun mereka masih menyusu selama lima atau enam bulan.

Anak harimau pertama kali meninggalkan sarang pada umur dua pekan, dan belajar berburu pada umur enam bulan. Mereka dapat berburu sendirian pada umur 18 bulan, dan pada umur dua tahun anak harimau dapat berdiri sendiri. Harimau Sumatera dapat hidup selama 15 tahun di alam liar, dan 20 tahun dalam kurungan.
Sementara itu perkiraan terkini menurut data dari berbagai lembaga yang terdiri dari lembaga pemerintah dan non pemerintah angka minimal harimau Sumatera sekitar 300 ekor  tetapi angka ini baru mengacu pada estimasi di delapan kawasan dari setidaknya 18 kawasan yang teridentifikasi keberadaan harimau di Pulau Sumatera (Departemen Kehutanan: Strategi dan Rencana Aksi Harimau Sumatera 2007-2017).
Melihat Lokasi Observasi Harimau Sumatera

Pemandangan disekitar lokasi  observasi Harimau Sumatera (Phantera tigris sumatrae) dikelilingi pepohonan hijau.  Pohon Akasia, Meranti, Tembresi menjulang tinggi di areal arboretum milik perusahaan Sinar Mas Forestry ini. Lokasi inilah menjadi tempat penangkaran harimau liar di Riau.  Dibalik jeruji besi berukuran 6 x 6 x 2,5 meter itu harimau liar di observasi.

Tidak boleh sembarangan orang boleh masuk dalam lokasi observasi ini.  Tulisan  ”dilarang mendekati kandang” penangkaran terlihat jelas dilokasi tersebut. Larangan ini dimaksudkan agar Harimau Sumatera yang masuk dalam kandang tidak terganggu dengan kebisingan suara manusia. Si Raja Hutan bisa stress bila bertemu dengan manusia.

Saat Riau Pos berkunjung ke lokasi observasi akhir pekan lalu kandang itu tidak ada penghuninya. Kandang dengan jarak jeruji besai 5 x 5 centimeter itu sejak tangal 5 Februari 2012 lalu memang sudah kosong. Sebelumnya di kandang itu pernah menjadi penangkaran harimau jantan berusia 2,5 tahun (sekarang berada di TSI Cisarua).

Humas BBKSDA Riau, Zainur menjelaskan, dalam kandang tersebut setiap harimau diberikan makan satu ekor babi hutan dalam keadaan hidup. Ini dilakukan untuk melatih hewan liar itu agar bisa mandiri, bila sudah dilepasliarkan ke habitatnya. Untuk habitat pelepasliarkan dipilih Suaka Margasawta Kerumutan, di Kabupaten Pelalawan.

‘’Provinsi Riau dikenal sebagai daerah konflik antara manusia dengan harimau Sumatera. Karenanya, dibangunlah tempat untuk rehabilitasi raja hutan tersebut, sebelum dilepaskan ke alam liar,’’ ungkapnya.
Lanjut cerita, setiap makan satu ekor babi hutan, lanjutnya, harimau bisa tidak makan dua hari. Sebanyak, dua orang petugas menjaga dan memberikan makan harimau tersebut. Untuk memberikan makan harimau, seeokor babi dilepaskan melalui kandang pelepasan yang dibatasi jeruji besi. Setiap makan mangsanya, harimau ini tidak ingin dilihat oleh penjaganya. 

Dalam hal ini petugas berasal dari BBKSDA Riau, Sinar Mas dan Yayasan Perlindungan Harimau Sumatera (YPHS). ‘’Kita pergunakan CCTV di setiap sudut kandang harimau tersebut. Karena, harimau tidak akan mau makan, bila masih ada manusia disekitarnya,’’ terang Zanir.
Lanjut cerita, setiap makan satu ekor babi hutan, lanjutnya, harimau bisa tidak makan dua hari. Sebanyak, dua orang petugas menjaga dan memberikan makan harimau tersebut. Untuk memberikan makan harimau, seeokor babi dilepaskan melalui kandang pelepasan yang dibatasi jeruji besi. Setiap makan mangsanya, harimau ini tidak ingin dilihat oleh penjaganya.  

Dalam hal ini petugas berasal dari BBKSDA Riau, Sinar Mas dan Yayasan Perlindungan Harimau Sumatera (YPHS). ‘’Kita pergunakan CCTV di setiap sudut kandang harimau tersebut. Karena, harimau tidak akan mau makan, bila masih ada manusia disekitarnya,’’ terang Zanir.
Kawasan Observasi Harimau Berdampingan dengan Tujuh Ekor Gajah.

Di lokasi observasi ini juga tujuh ekor gajah liar hidup dipenangkaran tersebut. Gajah ini dikawal tujuh pawangnya. Setiap satu gajah disuh oleh satu pawang. Gajah ini terlihat masih liar. Hanya dengan pawangnya saja, gajah itu patuh. Gajah liar itu diberi makan pelepah pisang dan dedaunan yang ada dilokasi arboretum.
Humas BBKDA Riau, Muhammad Zanir SH menjelaskan, tujuh ekor gajah ini nasibnya sama dengan harimau dipenangkaran. Karena, tidak ada lagi habitatnya kawanan gajah masuk kemukiman warga. Habitatnya  kini berubah fungsi sebagai lahan perkebunan sawit. Kondisi ini membuat hewan yang dilindungi dunia tersebut harus berjuang keras agar tidak mati karena kelaparan.***
0

Ndit and Embun

Riau Pos - For Us Minggu, 11 Maret 2012 ,
0

Rekening Bank dari Sampah Masuk Sekolah

Riau Pos - For Us ,

 Jangan buang sampah sembarangan. Tabung Saja di Bank Sampah, bisa menjadi uang