Blogger Tricks


0
Riau Pos - For Us Minggu, 01 Juli 2012
 Selamatkan Tanaman Langka


Terus berkurangnya luas kawasan hutan di Riau tak hanya berimbas pada ketidakseimbangan alam. Banyak populasi makhluk hidup menghilang, termasuk diantaranya pohon-pohon endemik yang keberadaannya semakin langka dan sulit ditemui. Para pekerja ini berperan  menyelalatkannya dari kepunahan.

Laporan BUDDY SYAFWAN, Pekanbaru

Pagi-pagi sekali, Mawardi, serta beberapa rekannya sudah berada di pusat pembenihan yang menjadi areal pembenihan tanaman dan nursery PT RAPP Estate Pelalawan. Sambil memindah dan mengontrol kondisi tanaman, dia mengisahkan bagaimana sulitnya mendapatkan bibit tanaman yang dipeliharanya dan memastikannya agar tetap hidup dalam masa pengawasan.
Namun, hal tersebut baru sebagian kecil dari persoalan nasib hidup tanaman yang ditangkar. Setelah siap ditanam kembali ke habitat aslinya, di lahan gambut, tanaman ini juga kembali akan berhadapan dengan fakta tak semua dari tanaman tersebut bisa bertahan hidup. ‘’Kadang, 50 persen saja masih bertahan hidup itu sudah lumayan. Begitulah sulitnya,’’ ungkap Mawardi, menemani Riau Pos saat berkunjung awal pekan lalu didampingi Binsar Sinaga dari Environment serta Muhammad Muttaqin Sazali dari Occupational Health and Savety RAPP.
Sebuah helm putih  serta seragam lapangan berwarna hijau plus sepatu boat sedikit menutupi keringat yang membasahi tubuhnya. Namun, dia tetap bersemangat menjelaskan tentang keinginannya untuk bisa mempertahankan populasi tanaman langka di lahan gambut. “Andai saja, dari 100 bibit tanaman yang ditangkarnya bisa hidup sebanyak 90 batang saja, itu sudah menjadi kebanggaan. Namun, hal tersebut sepertinya sulit terwujud dikarenakan proses alami yang harus dilalui oleh tanaman-tanaman tersebut”, ungkapnya.
‘’Dulu pernah kita coba untuk tidak memindahkan bibit-bibit ini dari hutan ke pusat nursery ini, namun tanaman dari berbagai jenis pohon langka itu tetap mati. Akhirnya kita berinisiatif dengan lebih memperhatikan kondisi tanaman tersebut agar tidak stres,’’ sebut dia.
Jenis tanaman langka seperti meranti, pulai, trembesi, kulim, ramin, rambutan hutan, rengas, ternyata termasuk jenis tanaman yang sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan. Perubahan situasi cuaca, tutupan, guncangan, termasuk sistem pengairan tak jarang menyebabkan tanaman ini sangat mudah mati.
Di habitat aslinya juga demikian. Karenanya, populasi tanaman ini juga terancam keberadaannya bila tak ada upaya penyelamatan.
Nursery tanaman langka milik PT RAPP di Estate Pelalawan ini didirikan tak sekedar untuk mengumpulkan populasi tanaman tersebut. Lebih jauh juga dijadikan media untuk kembang biak tanaman yang diharapkan nantinya akan bisa ditanami kembali di kawasan gambut sejenis yang populasi tanaman aslinya sudah berkurang. Tak jarang juga, di areal seluas sekitar 8 hektare tersebut digunakan oleh para pihak untuk penelitian, pemeliharaan sebelum tanam. Karenanya, ada ratusan ribu bibit tanaman bisa disaksikan bila berkunjung ke pusat pembibitan itu.
Seberapa sulit mendapatkan bibit-bibit tanaman langka tersebut? Jawabnya gampang-gampang sulit. Untuk jenis-jenis tanaman tertentu yang populasinya masih mudah didapatkan di alam terbuka, mungkin tidak terlalu sulit mendapatkan bibitnya untuk ditangkar kembali. Namununtuk jenis tertentu, seperti ramin yang berasal dari kawasan gambut asli Riau, Mawardi mengaku cukup sulit untuk mendapatkannya.
Pihak perusahaan memang menyediakan areal khusus untuk konservasi jenis tanaman langka yang diberi nama Kawasan Pelestarian Plasma Nuftah (KPPN) yang jaraknya berkisar 40 kilometer dari pusat pembibitan yang dikelola oleh Mawardi dan kawan-kawan. Dengan uasan yang berkisar 180 hektare, diakui dia, tidak mudah juga untuk bisa mendapatkan bibit yang perlu ditangkar.
‘’Untuk Ramin, sudah enam bulan lebih, kami tak pernah mendapatkan bibitnya. Selain populasinya terbatas, ternyata ramin juga sulit untuk berkembang, walau berada di dalam kawasan hutan. Sampai sekarang, kami baru menemukan populasi ramin terbesar di daerah Kepulauan Meranti. Cuma memang tidak dikembangkan di Pelalawan, karena akan ada pusat pembenihan tanaman langka di estate setempat,’’ jelas dia.   
Satu hal yang juga menjadi persoalan, dijelaskan Mawardi adalah, bahwa untuk tanaman langka, proses tumbuhnya kebanyakan tidak dilakukan melalui biji. Kebanyakan merupakan dalam bentuk tunas-tunas tanaman yang proses pengambilannya dilakukan berdasarkan perencanaan kerja. ‘’Bisa saja, minggu ini, kita mencari bibit-bibit balam atau bintangur, namun, minggu berikutnya bisa saja cempedak air, ketapang, medang dan berbagai jenis lainnya. Semua tergantung permintaan dan rencana kerja saja,’’ sebut Mawardi.

Berjam-jam di Hutan
Menjalankan tugas sebagai penangkar tanaman langka khas gambut sepintas terlihat biasa saja. Namun, menelusuri proses yang dilakukan Mawardi dan kawan-kawan, jelas ini bukan pekerjaan mudah.
Proses pencarian bibit yang dilakukan bersama 15 orang personelnya, langsung di dalam hutan memerlukan waktu berjam-jam dalam sehari. Seminggu bisa dua sampai tiga kali ke hutan. Hal tersebut juga yang menyebabkan akhirnya mereka sangat hapal dengan kondisi kawasan hutan yang dilalui.
‘’Kadang turun sendiri, tapi biasanya minimal dua orang supaya lebih aman,’’ imbuh  Mawardi. Kawasan hutan yang mereka masuki tentu saja bukan kawasan hutan yang lazim dilalui oleh awam. Walau tetap saja ada masyarakat umum yang masuk, namun, jumlahnya sangat sedikit sekali. Hutan yang mereka sebut sebagai kawasan Selempayan ini, juga memiliki risiko bila tak menguasai arealnya. ‘’Harimau masih ada, karena kawasan tersebut adalah perlintasannya, beruang, babi hutan, rusa, macan dahan, ular, juga masih sering melintas. Karenanya, biasanya kalau masuk hutan minimal berdua. Apalagi bila sampai berjam-jam dan jumlah bibit yang dicari banyak, pastinya itu bukan pekerjaan mudah,’’ timpal Binsar yang sempat menemani Riau Pos menelusuri kawasan konservasi plasma nuftah tersebut.
Selepas mengambil bibit di hutan, selanjutnya bibit yang diangkut sekaligus dengan tanah gambut aslinya dibawa ke nursery untuk diperhatikan pertumbuhannya. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui untuk memperhatikan apakah tanaman yang dipindahkan tersebut mampu bertahan atau tidak. Di mulai dari routing area, tanaman dijaga kelembabannya, tutupan termasuk juga penyiraman.
Tanaman ini tidak diberikan pupuk layaknya tanaman yang ditangkar kebanyakan, karena, hal tersebut penting untuk tidak menyulitkan ketika dikembalikan lagi ke alam. ‘’Kalau dipupuk, kita khawatir, ketika kembali ke alam, tanaman tak bisa bertahan dan akhirnya mati. Dari proses ini, setidaknya ada 30-40 persen tanaman yang mati,’’ jelas Muttaqin.
Selanjutnya, setelah beberapa pekan, bibit tanaman yang bertahan hidup dipindahkan ke open area. Setelah melalui tahapan ini, biasanya, kondisi kelabilan tanaman mulai berkurang dan mulai bisa beradaptasi. ‘’Kalaupun ada yang mati, biasanya tak lebih dari 10 persen,’’imbuh Muttaqin.

Komitmen Pelestarian
Setidaknya ada 39 jenis tanaman langka khas hutan gambut Riau yang saat ini menjadi bagian dari tugas Mawardi dan kawan-kawan. Seperti arang-arang, balam, bintangur, cempedak air, durian, durian hutan, jangkang, kedondong, kelat, ketapang, knema, malutua, mangga-mangga, mangis, matoa, medang basah, medang bulu, medang telur, meranti, pasir-pasir, plajau, perupuk, pisang, pulai, rambutan, secang, tanjung, trembesi, tenggayun, mongeris, nasi, kantong semar, palam, jambu batu, belinjo dan beberapa lainnya.
Meski begitu, bukan berarti perusahaan yang bergerak di industri kehutanan ini bisa begitu saja menebang seluruh jenis tanaman. ‘’Kita tetap memilih tanaman, tidak semuanya ditebang, karena ada ketentuan dan rencana kerja. Untuk jenis-jenis kayu yang dilindungi, tidak kita tebang, seperti jenis pohon sialang, seperti bintangur, beringin, meranti, ramin, itu dijaga. Bahkan, rencananya akan dibuatkan bank data untuk memastikan keanekaragaman,’’papar Muttaqin.
Komitmen tersebut, dijelaskan dia adalah bagian dari komitmen untuk mempertahankan keberadaan plasma nuftah yang menjadi bagian dari mata rantai kehidupan di kawasan hutan gambut di Riau.***

0 komentar:

Posting Komentar