Blogger Tricks


0

Info Green: Botol Plastik Tiket Masuk Monas

Riau Pos - For Us Senin, 26 Desember 2011



        Ternyata tak perlu susah-susah untuk membeli tiket masuk ruang-ruang diorama di Monumen Nasional (Monas) dengan uang. Kini tiketnya bisa hanya dengan memberikan sepuluh botol kemasan bekas air mineral. Ini sebagai salah satu langkah pengelola Monas untuk mengaitkan antara wisata dengan kesadaran lingkungan hidup.
      Untuk semakin melengkapinya, juga dihadirkan sebuah mesin berbentuk kotak berkelir merah-kuning yang mirip dengan mesin ATM. Tapi, bedanya mesin ini lebih besar dan dilengkapi unit untuk memindai dan lubang cukup besar. Nama alat ini adalah Reserve Vending Machine (RVM) atau dalam bahasa Indonesianya mesih pengolah sampah. Paling tidak dengan adanya program sepuluh botol plastik bekas ini bisa mengajarkan kepada masyarakat cara membuang sampah yang benar. Bagaimana dengan tempat wisata lainnya? Berminat mencoba! (afra-gsj/int/new)
0

Our Green: Francisco Pineda , Sumber Air untuk Kehidupan

Riau Pos - For Us




         Eksplorasi tambang emas semakin meresahkan masyarakata di El Salvador. Tak lain dan tak bukan, karena ini berhubungan langsung dengan keselamatan air yang menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat pedesaan di sana. Oleh karena itulah dengan beraninya Fransisco Pineda memimpin gerakan warga untuk memberhentikan operasi tambang emas yang telah menghancurkan serta membuat terjadinya krisis air di El Salvador.

Bagi petani kecil dan masyarakat di pedesaan El Salvador, air lebih berharga daripada emas. Tanpa adanya kiriman air yang teratur dari pusat air di kota, orang-orang di daerah pedesaan harus bergantung pada sumber air terdekat untuk memberi makan tanaman mereka serta mempertahankan kebutuhan pribadi mereka. Namun, diperkirakan bahwa 90 persen dari sumber air permukaan telah terkontaminasi ketika itu.
Bahkan hampir semua air limbah kota dan industri dibuang ke sungai dan anak sungai tanpa sterilisasi terlebih dahulu. Ini berdampak pada berkurangnya ketersediaan air bersih bagi penduduk pedesaan. Hanya tiga persen dari sungai di daerah ini yang masih bersih yakni di Lempa Rio, sungai terpanjang di El Salvador dengan DAS memanjang sampai hampir setengah dari negara. Dan sebanyak empat juta orang tergantung pada sumber air ini.
Ketika itu jugalah hadir pertambangan emas yang menjadi ancaman besar untuk pasokan air di El Salvador ini. Perjanjian tentang perdagangan bebas (CAFTA) antara Amerika Serikat, Republik Dominika dan Amerika Tengah membuah perusahaan asing lebih mudah untuk memasuki El Salvador.  Dengan demikian izin eksplorasi telah dikeluarkan untuk berbagai proyek pembangunan, termasuk tambang emas dan perak.
Dan seperti yang kita ketahui pertambangan emas ini sangat merusak lingkungan. Operator tambang sering menggunakan proses yang dikenal sebagai leeching sianida, dimana sianida, bahan kimia yang sangat beracun, dicampur dengan air untuk mengekstrak emas. Dan Limbah beracun ini kemudian menyebar ke wilayah sekitarnya dan sering berakhir mencemari sungai, anak sungai dan air tanah.
Karena itulah Pineda sebagai seorang petani dengan gelar di bidang pertanian berkelanjutan dan merupakan pendiri dan presiden dari Komite Lingkungan dari Cabañas, sebuah asosiasi relawan masyarakat memimpin masyarakat untuk melawan hal tersebut. Dan dalam proses pengorganisasian masyarakat untuk melawan tempat pembuangan limbah yang menganggu pasokan air setempat ini, ia rela bersusah payah untuk belajar secara otodidak tentang ekologi air dan menjadi pemimpin lingkungan di wilayahnya.
Pada tahun 2002, Sebuah pertambangan dari Kanada memulai tahap eksplorasi tambang emas dan perak di Cabañas. Kekhawatiran atas konsekuensi lingkungan untuk hutan wilayah dan Lempa Rio sebagian besar diabaikan oleh pemerintah. Tapi hal ini akhirnya mendapatkan titik terang pada tahun  2004 ketika Pineda menemukan bahwa sungai irigasi yang memasok air untuk tanaman telah benar-benar berhenti mengalir.
Ketika itu Pineda berjalan di sepanjang tepi air ke daerah eksplorasi hulu dan menemukan pompa menyedot Pasifik Rim sungai. Menyadari situasi yang berpotensi akan merugikan, ia dan tetangganya langsung mendekati pejabat pemerintah lokal dengan keprihatinan mereka tentang pasokan air. Namun, para pejabat menyatakan bahwa peluang untuk lapangan kerja di pertambangan serta untuk pengembangan daerah melebihi potensi masalah tersebut. Dan setelah diamati lebih dekat, Pineda dan rekan-rekannya menyadari bahwa penduduk lokal tidak mendapatkan keuntungan apa-apa dari pertambangan tersebut. Karena itulah mereka memulai suatu gerakan untuk mengehntikan pertambangan tersebut.
 Pineda dan rekan-rekannya pun mengunjungi masyarakat yang menghadapi perjuangan serupa terhadap operasi pertambangan di Honduras. Dimana mereka melihat efek dari keracunan kimia pada orang-orang dan menjadi sadar akan potensi kekerasan yang akan mereka hadapi dalam perjuangan mereka melawan Pacific Rim. Pineda dan rekan-rekannya kembali ke El Salvador dan segera mulai mendidik orang-orang Cabañas dengan pergi dari pintu ke pintu. Tak hanya itu saja mereka juga menyelenggarakan pertemuan masyarakat. Sejak tahun 2004, gerakan ini telah berkembang dengan lebih dari 450 anggota. Pineda membantu mendirikan Dewan Anti-Pertambangan Nasional dan dengan koalisinya menyelenggarakan serangkaian demonstrasi lokal dan nasional untuk membawa perhatian lebih terhadap masalah ini.
Namun hal ini berbuntut pada terbunuhnya tiga orang rekan Pindeda pada tahun 2009. Tak hanya itu saja sebulan kemudian, sekelompok pembunuh ditetapkan untuk membunuh anggota lain dari komite lingkungan tersebut yaitu ia sendiri, tetapi ketika mereka tidak menemukan dia di rumahnya mereka membunuh istrinya yang sedang hamil sebagai gantinya. Sementara itu aktivis lainnya diculik dan tubuhnya yang telah disiksa ditemukan di sebuah sumur.
Dan karena itulah hidup Pineda berada di bawah perlindungan polisi. Namun, ini tidak membuatnya patah arang dan dia telah bersumpah untuk melanjutkan perjuangan tak peduli konsekuensinya. Berkat perjuangannya yang gigih inilah akhirnya dia diberikan pernghargaan Goldman Environmental Prize pada tahun 2011. Luar biasa ya pengorbanannya! (afra-gsj/int/new)
"Pekerjaan saya adalah sebagai seorang environmentalis,. Ini adalah prinsip untuk hidup saya ketika saya mulai memahami dampak dari eksplorasi pertambangan, saya tidak bisa tinggal diam." - Fransisco Pineda
0

Green Teacher: Menonton Film dan Seminar

Riau Pos - For Us


Siti Aminah S Pd
Guru Bahasa Inggris
SMKN 1 XIII Koto Kampar



Bagi saya, lingkungan itu nomor satu. Karena kita hidup di lingkungan. Lingkungan yang kita miliki sekarang ini hanya satu. Tuhan hanya menganugerahkan satu bumi kepada manusia. Meskipun banyak upaya oleh para ahli astronomi atau angkasa untuk mencari planet pengganti bumi. Namun hingga saat ini belum ditemukan yang benar-benar sama. Subhanallah ciptaan Allah SWT.
Kendatipun persoalan lingkungan tengah kritis-kritsinya namun masih banyak orang menyepelekan persoalan lingkungan ini, memang agak sulit untuk membangkitkan kesadaran mereka untuk menjaga lingkungan. Di sekolah sembari berkumpul, saya sempatkan untuk mengajak rekan-rekan sesama guru untuk menjaga kebersihan lingkungan. Selalu mengingatkan para siswa untuk selalu menghargai tempat mereka bernaung. Karena di sana mereka bisa melanjutkan hidup.
Polemik bangsa kita saat ini adalah perusak lingkungan yang terdiri dari stakeholder atau para pembuat keputusan. Mereka yang seharusnya menghasilkan keputusan baik untuk masyarakat umum malah sebaliknya menghasilkan keputusan untuk kepentingan kelompok dan diri mereka pribadi.
Ironis memang. Namun sebagai seorang guru, adalah tugas kita untuk melindungi generasi muda dari berbagai ancaman yang datang dari orang-orang seperti itu. Memutuskan rantai perusak lingkungan adalah tugas para pendidik. Sebab rantai tersebut akan bisa putus jika kita mendidik karakter anak bangsa dengan prilaku dan pola pikir yang mencintai lingkungan.
Untuk menciptakan kesadaran menjaga lingkungan terhadap anak-anak didik bisa di lakukan dengan memberikan pengetahuan tentang penyakit-penyakit yang bisa diakibatkan oleh lingkungan yg kotor ataupun bahaya-bahay bencana yang bisa ditimbulkan oleh lingkunagn yang kotor. yah... itu semua memang tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan, tapi itulah tugas yang diemban sebagai seorang guru untuk selalu mengingatkan siswa-siswi kita!
Selain itu, cara menjaga lingkungan yang bisa diterapkan oleh para siswa bisa dengan, mendaur ulang. Sebagai wali kelas atau guru kita harus kreatif, misalnya dengan    memanfaatkan bekas kemasan minuman yang kita beli seperti botol air mineral dan sejenisnya menjadi pohon hias ruangan, atau menjadi bunga hias, dan kreasi-kreasi kreatif lainnya.
Ini sudah kami terapkan di Kelas XI Agribisnis Produksi Tanaman yang kebetulan saya sendiri yang jadi wali kelasnya. Selain kelas menjadi Indah, juga bisa menciptakan kesadaran kebersihan lingkungan kepada siswa.
Cara berikutnya adalah dengan dengan mengadakan acara nonton bareng di sekolah yang bertemakan bencana alam akibat ulah manusia yang tidak menjaga lingkungan. Percaya atau tidak, film merupakan media pendidikan yang cukup efektif untuk meningkatkan kesadaran siswa-siswi. Karena melalui film siswa-siswi melihat langsung bagaimana kondisi lingkungan hancur oleh akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab.
Jalan berikutnya dengan mengadakan seminar-seminar yang bertemakan tentang lingkungan. Seperti hari Sabtu kemarin tanggal 18 Desember 2011, sekolah kami kedatangan tamu istimewa dari Daerah Aliran Sungai (DAS) yang mensosialisasikan perubahan cuaca. Mereka membahas berbagai macam dampak lingkungan yang kotor dan cara pencegahannya.
Melalui seminar tersebut siswa-siswi jadi belajar langsung dari para ahlinya. Kami guru-guru juga merasa sangat senang karena terbantu dalam menerapkan pola pikir ramah lingkungan kepada para siswa kami.
Begitulah yang bisa kita lakukan untuk menjadikan generasi muda kita generasi yang baik terhadap lingkungan. Kepentingan manusia untuk mengeksplorasi lingkungan mungkin memang tinggi. Namun kepentingan itu akan menjerat leher manusia sendiri jika tidak dicapai dengan cara baik-baik. Lingkungan harus dijaga dari kepentingan para serakah dan perusak.***
0

Cara Unik Jaga Lingkungan: Ubah Kebiasaan

Riau Pos - For Us


Stephanie Anggun Mering
SMA Cendana Pekanbaru


Tak pernah terlintas di pikiran saya akan masa depan bumi ini setelah 50 tahun ke depan. Bila kini banyak orang yang bersikap acuh tak acuh terhadap lingkungan dan sumber daya yang terkandung di dalamnya. Pernahkah kita berpikir akan kelangsungan hidup anak cucu kita dengan lingkungan dan sumber daya yang mungkin sudah sangat menipis karena telah habis terpakai oleh kita?
Ketika saya mengikuti seminar tentang topik lingkungan, saya sadar akan satu hal, ternyata selama ini kita telah mewariskan neraka bagi anak cucu kita. Segala sumber daya kita pakai secara habis-habisan. Dengan melesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi, bukannya manusia dapat memanfaatkannya untuk masa depan yang baik. Sekarang malah banyak manusia yang menyalahgunakan kemajuan tersebut untuk memakai hasil alam tanpa mengenal batas. Beberapa oknum-oknum yang tidak bertangung jawab hanya dapat memakai, kemudian ditinggalkannya dalam keadaan rusak, seperti kata pepatah “habis manis, sepah dibuang.”
Mungkin pada saat itu manusia dapat menikmati semua sumber daya secara bebas.Namun pada suatu hari nanti, mungkin 50 tahun mendatang, semua itu akan berhenti di satu titik puncak dimana bumi telah kehabisan segala suatunya. Di titik itulah manusia akan menyesal akan perbuatannya di hari-hari sebelumnya. Bayangkan anak cucu kita nanti, mungkin saja di masa-masa mereka air sudah menjadi salah satu sumber daya yang sangat langka. Air yang sekarang selalu dipandang sepele orang banyak itu mungkin saja akan menjadi emas yang berharga di kemudian hari.
Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menyelamatkan bumi kita ini. Mulai dari kebiasaan kecil contohnya seperti menghemat air dan menghemat segala sesuatu yang biasa kita pakai dalam kegiatan sehari-hari. Selain menipisnya Sumber Daya Alam (SDA), perusakan lapisan ozon bumi juga semakin lama semakin parah. Tak pernah kita sadari bahwa ada beberapa kelakuan kita yang secara sengaja maupun tidak sengaja telah merusak lapisan pelindung bumi. Ada pula dampak-dampak yang mungkin terjadi bila lapisan ozon semakin menipis. Contohnya saja terjadi penaikan suhu dari suhu normal suatu tempat. Kota kita pun sempat mengalami penaikan suhu dari suhu normalnya, yaitu 300C. Penaikan suhu ini tergolong dampak-dampak yang masih biasa.  
Bayangkan, apa yang akan terjadi di tahun-tahun berikutnya bila kita terus melakukan kegiatan yang selalu merugikan bumi kita. Mungkin orang-orang akan banyak yang terjangkit penyakit atau bahkan mati karena permasalahan tersebut. Contohnya saja kanker kulit, sinar Ultra Violet (UV) B yang datang akibat menipisnya lapisan ozon bumi dapat mengakibatkan kanker kulit bila kulit seseorang terlalu lama terpampang oleh sinar tersebut.
Terlalu banyak permasalahan di bumi ini. Permasalahan tersebut terjadi akibat tingkah laku manusia yang seenaknya sendiri. Kita selalu melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang, maka dari itu mulai dari sekarang. Selamatkanlah bumi kita demi masa depan anak cucu kita. Janganlah wariskan neraka pada mereka. Mari lakukan kegiatan-kegiatan positif yang bermula dari hal-hal yang kecil, karena dengan melakukan hal-hal kecil tersebut,berarti kita telah menyelamatkan sepersekian persen dari kerusakan bumi kita.
So, nggak kalah gaul kan? Mengubah kebiasaan dengan lebih ramah pada lingkungan bisa memperpanjang usia bumi. Kalian pilih yang mana? Gaul dengan cara merusak diri dan lingkungan serta mewariskan neraka kepada anak cucu kita. Or, Save the world for a better future!***