Blogger Tricks


1

Green Techno: Australia dan Pembangkit Listrik Gelombang Laut

Riau Pos - For Us Selasa, 20 Desember 2011


      Sebuah pembangkit listrik dengan gelombang laut dikembangkan di Australia. Pembagkit Listrik ini dikenal dengan BioWave yang memanfaatkan energi gelombang laut sebagai sumber energinya. 
     Energi gelombang laut ini menyerap dengan menggunakan pelampung yang kemudian dialirkan menuju generator untuk menghasilkan listrik dengan bantuan pompa hidrolik yang dikenal dengan O-Drive. Saat ini prototipe berkapasitas 250 kilo Watt ini siap beroperasi pada kedalaman 30 meter. Sedangkan untuk skala komersialnya berkapasitas 1 megaWatt yang beroperasi pada laut yang lebih dalam berkisar 40-45 meter. Tak ada salahnya juga Indonesia mencontoh yang dilakukan Australia ini bukan? (afra-gsj/int/new)
0

Info Green: Jual Beli Satwa Langka di Perbatasan

Riau Pos - For Us



          Ternyata banyak hal yang bisa mengancam keberadaan satwa liar dan langka yang ada di hutan Indonesia. Tak hanya perburuan yang semakin marak, ternyata jual beli satwa langka juga marak terjadi di kawasan perbatasan, seperti di Pontianak, Kalimantan Timur dan Barat serta sejumlah titik di wilayah Sumatera.
            Beberapa lokasi di Sumatera kerap menjadi jalur penyelundupan ke Malaysia melalui jalur laut di Kepulauan Riau, Sumatera Utara dan Aceh. Sedangkan untuk ke Filipina biasanya melalui jalur laut di Maluku.
Menurut Darori, Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan, ketatnya pengawasan melalui kerja sama pihak kepolisian setempat bekerja sama dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) diharapkan mengatasi hal tersebut. (afra-gsj/int/new)
0

Cara Unik Jaga Lingkungan: Sentuhan Kreativitas

Riau Pos - For Us




Paradigma sekarang tentang anak muda yang identik dengan kebebasan berekspresi  sepertinya patut diacungi jempol. Karena dengan adanya hal itu dapat memacu munculnya kreativitas anak muda yang terbiasa atau membiasakan dirinya berfikir di luar kotak (out of box), yaitu mencoba menembus batas-batas pikiran yang biasanya diakui oleh orang-orang kebanyakan.
Pola pikir seperti ini terbukti mampu memberikan benefit di bidang industri kreatif yang tidak mengesampingkan faktor perubahan pada lingkungan. Bahkan bisa dikatakan bahwa kondisi lingkungan dan kekhawatiran manusia menjadi sebuah inspirasi penuh bagi pelaku industri kreatif untuk bisa tampil di publik. Sebagai contohnya, ada beberapa industri sepatu berskala rumahan yang tentunya dimotori oleh anak muda lahir dari sisa-sisa potongan kain batik yang melahirkan produk sepatu berkualitas dan punya gaya. Lalu ada industri tas dan dompet yang lahir dari sisa-sisa wallpaper juga pada dasarnya mempunyai pola pikir yang sama, yaitu jika sisa-sisa benda tersebut dibuang maka sudah pasti akan menjadi limbah yang mengganggu lingkungan, daripada dibuang lebih baik dimanfaatkan.
            Adanya contoh-contoh sederhana tersebut rasanya patut kita jadikan teladan dalam hal menjaga lingkungan. Apa lagi jika kita mampu menghasilkan produk yang bagus tentu saja hal ini dapat mengangkat perekonomian kita pribadi. Faktor yang dirasa cukup penting saat kita mencoba untuk berkarya dari sisa-sisa barang bekas adalah dengan tidak melakukan plagiarism.
Kebanyakan dari mereka yang berkecimpung di dunia ini adalah dengan melihat kondisi di lingkungan sekitar mereka pribadi. Kita juga bisa mulai dari lingkungan sekitar kita, apa yang ada dan apa yang bisa kita perbuat. Kita yang sudah jengah dengan prilaku sekumpulan orang yang sama sekali tidak peduli dengan keadaan lingkungan, dan butuh cara baru untuk memberikan perubahan di publik mungkin bisa memilih cara ini dengan memproduksi suatu barang menjadi alternative kampanye kita terhadap lingkungan. Dengan demikian, orang-orang yang dahulunya tidak peduli sekalipun, secara tidak langsung ternyata juga mendukung soft campaign yang kita lakukan.
            Hal tersebut diatas sebagai sebagai gambaran jika kita memposisikan diri sebagai calon produsen untuk suatu produk ramah lingkungan. Namun partisipasi kita lebih sederhana lagi jika kita memposisikan diri sebagai konsumen produk ramah lingkungan, cukup dengan menggunakan produk-produk tersebut. Selain terlibat secara tidak langsung terhadap soft campaign dari produsen, kita juga turut serta dalam kampanye cinta produk dalam negeri, dan tetap mempertahankan keberlangsungan usaha kecil menengah di Indonesia. Ditambah lagi jika produk yang dibeli adalah produk fashion yang memang diproduksi khusus dengan target pasar anak muda. Benar-benar sebuah efek domino yang positif, bukan?
            Hal itu kemudian akan menjadi cara gaul dalam menjaga lingkungan. Sebab dalam mengembangkan produknya tentu produsen melihat selera pasar namun mereka juga harus idealis terhadap upaya penyelamatan lingkungan. Dengan cara seperti ini, tidak terasa baik produsen maupun konsumen telah ramah terhadap lingkungan. Apalagi jika kemudian, produsen sengaja menyisipkan pesan-pesan lingkungan terhadap produk-produk mereka. Lihatlah bahwa go green telah menjadi gaya hidup. Bukan hanya bagi beberapa kalangan. Namun anak muda atau remaja yang ingin punya citra bagus dilingkungannya mereka harus mengetahui apa itu semangat go gree. Pergeseran makna gaul tersebut dari yang tadinya identik dengan hura-hura sekarang lebih kepada go green merupakan kemajuan. Tapi jangan lupa sentuhan kreativitas itu perlu.



Teguh Budianto
Mahasiswa UIN Sultan Syarif Kasim Riau

0

Green Teacher: Ajarkan Kearifan Lokal

Riau Pos - For Us





Masyarakat Indonesia merupakan bagian dari rumpun besar melayu dunia. Kita memiliki beranekaragaman kebudayaan dan adat istiadat. Riau tidak kalah dengan daerah-daerah lain. Riau kaya akan kearifan lokal yang menjadi budaya dan tata prilaku masyarakatnya. Kearifan tersebut berlaku bukan hanya antara manusia. Namun juga menjadi sebuah khasanah hidup bagi hubungan dengan Tuhan dan alam.
Kearifan masyarakat Melayu Riau terhadap alam tak terperi dan terbilang bijaknya. Kita memiliki pendahulu/nenek moyang yang sangat santun menyikapi alam. Mereka berkebun, mereka bertani namun mereka tidak pernah mengeksploitasi. Mereka memelihara, mencintai, menyanyangi dan mengasihi. Mereka menjadikan alam sahabat. Bagi mereka jika alam kesakitan maka manusia akan lebih sakit menanggung akibatnya.
Itu gambaran tentang penghargaan pendahulu kita kepada alam. Alam diibaratkan sebagai sumber daya namun juga sumber bencana. Oleh karena itu jika manusia mampu mengelola alam tersebut tanpa merusak keseimbangannya antara sumber daya dan bencana. Ia akan menjadi kehidupan bagi manusia. Begitu juga sebaliknya alam akan menjadi bencana jika sumber daya yang dikandungnya dikuras habis, sebab alam juga butuh diri mereka sendiri untuk mampu memenuhi kebutuhan manusia.
Ajaran kearifan lokal dari leluhur kita tentang alam. Saat ini seolah sebagai ajaran kuno namun tidak klasik. Karena kalau klasik masih banyak orang yang mengincarnya untuk dijadikan pelajaran alih-alih dikoleksi. Barang kuno adalah barang yang tidak lagi berguna untuk saat ini. Karena sudah ada barang modern sebagai penggantinya yang ”mungkin” lebih canggih. Namun apakah kecanggihan itu ramah terhadap alam?
Menelaah ini, adalah tugas para pengajar, bukan hanya guru di sekolah namun juga orangtua dan masyarakat di lingkungan siswa untuk mengingatkan siswa atau anak-anak kita bahwa Riau punya kearifan terhadap alam.
Nenek moyang orang Riau memiliki sudut padang berkelanjutan terhadap pengelolaan alam. Meski sekalipun mereka tidak mengenal apa itu global warming, apa itu perubahan iklim. Sebab mereka memahami bahwa jika alam rusak manusialah yang akan menanggung akibatnya. Ini secara jelas juga tercantum dalam kitab suci al-quran.
Sekarang para siswa kita diajarkan tentang berbagai ilmu. Mulai dari ilmu sosial, alam, etika dan sebagainya yang semuanya bernafaskan modernisasi. Namun muatan lokal hanya menggambarkan tentang budaya. Padahal dalam mata pelajaran ini termakhtub kearifan yang bisa digali oleh para guru sebagai bagian dari manusia melayu Riau seutuhnya. Manusia peduli alam.
            Mengajarkan siswa kearifan lokal menjadi hal yang krusial saat ini. Sebab sudah saatnya kita kembali pada kearifan yang kita miliki, kearifan lokal yang peduli kepada ala. Riau memilikinya itu tergambar dari hutan larangan adat dan adat-istiada atau prilaku lainnya yang tercermin dibeberapa masyarakat saat ini. Mereka begitu bijak bahkan meperlakukan hewan sekalipun. Sebab bagi mereka itu adalah bagian dari keseimbangan alam.
            Ketika kita bicara keanekaragaman hayati, mungkin mereka tidak akan mengetahuinya. Namun mereka percaya bahwa keberadaan harimau dapat mengotrol hama babi hutan dikebun mereka. Oleh karena itu si dia tidak boleh diburu sembarangan. Kemudian ketika berkebun, masyarakat pendahulu memperhatikan bahwa ada kawasan-kawasan terlarang dari hutan untuk dibuka. Karena di sana merupakan sumber daya kehidupan. Yaitu air yang mengalir. Hutan harus lestari. Hingga budaya modern datang dengan teknik perkebunan modernnya. Hutan hilang, air tiada yang muncul adalah bencana bagi manusia. Nah, sekarang siapa yang lebih modern?***