Hai teman-teman, perkenalkan nama saya Cindy Muthi’ah Sani. Saya biasa dipanggil Muthi. Saya adalah seorang siswi di Sekolah Dasar 007 Bukit Raya, saat ini saya kelas empat. Saya lahir pada 19 September 2002. menurut saya jaga lingkungan dengan cara yang sederhana. Saya suka sekali bermain sepeda, apalagi pada saat hari libur sekolah. Saya biasa bermain sepeda di pekarangan rumah. Namun, sambilan bermain saya juga turut serta membantu umi untuk menjaga kebersihan rumah. Umi sangat memperhatikan masalah kebersihan rumah. Terutama sampah. Saya tidak takut untuk kotor,karena berani kotor itu baik. Dengan demikian, kita akan mendapatkan dua manfaat sekaligus loh. Ikut serta menjaga lingkungan dan membantu orangtua. Nah, bagi teman-teman, sambilan bermain saat hari libur sekolah, tidak ada salahnya kan membantu orangtua di rumah.***
0
Raoul memulai karirnya di bidang lingkungan ketika mempelajari dampak lingkungan dari proyek tenaga air di selatan Afrika. Dan kemudian ia direkrut di sebuah organisasi internasional yang terkoordinasi dan bekerja untuk konservasi badak dan gajah di seluruh benua. Dari sini, Raoul pun mulai mempromosikan model inovatif untuk konservasi badak yang terkait dengan pembangunan pedesaan.
Our Green Inspiration: Raoul Du Toit, Selamatkan Badak Hitam
Kondisi habitat badak di Zimbabwe semakin menyusut ketika itu. Ditambah lagi dengan perburuan yang semakin mengancam keberadaannya. Badak hitam Afrika itu pun diambang kepunahan. Raoul sebagai seseorang yang telah menghabiskan banyak waktu luangnya di alam terpanggil untuk ikut serta menyelamatkan sia-sisa dari peradaban badak hitam tersebut.
Raoul memulai karirnya di bidang lingkungan ketika mempelajari dampak lingkungan dari proyek tenaga air di selatan Afrika. Dan kemudian ia direkrut di sebuah organisasi internasional yang terkoordinasi dan bekerja untuk konservasi badak dan gajah di seluruh benua. Dari sini, Raoul pun mulai mempromosikan model inovatif untuk konservasi badak yang terkait dengan pembangunan pedesaan.
Selain sebagai tokoh sentral dalam pengembangan konservasi di Zimbabwe selama tahun 1990-an. Ia juga menjadi salah sau dari para profesional yang tersisa untuk menjaga proyek-proyek penangkaran badak yang layak selama tahun 2000-an. Ketika itu banyak profesional yang meninggalkan negara tersebut, karena adanya kekurangan komoditas dasar dan bencana devaluasi mata uang Zimbabwe. Tapi, ketika itu Raoul yakin kalau ia dan timnya masih bisa melanjutkan proyek mereka.
Kini, populasi badak hitam di kawasan Lowveld telah stabil berkat upaya yang dilakukan oleh Raoul. Meskipun banyak yang mengancam populasi badak tersebut sejak tahun 2000. Sekarang ada 350 badak hitam di wilayah tersebut.
Sebagian besar badak kini berada di bawah pengawasan Rhono Trust Lowveld yang didirikan olehnya pada tahun 2009 dengan dukungan dari Yayasan Badak Internasional serta sumbangan dari pemerhati badak lainnya. Programnya ini juga tidak hanya berfokus pada konservasi satwa liar, tapi ia juga menggabungkan antara kebijakan internasional, keanekaragaman hayati dalam konteks yang lebih luas serta penggunaan lahan yang seimbang antara konservasi dan pembangunan. Dan bagi Raoul pengelolaan lingkungan dan konservasi satwa liar merupakan aspek penting untuk perkembangan Zimbabwe. Tak lupa Raoul juga mengajak masyarakat setempat untuk ikut serta dalam melestarikan badak.
Berkat perjuangannya inilah akhirnya Raoul dianugerahi penghargaan lingkungan Goldman Enviroment Prize pada tahun 2011 atas upayanya dalam melakukan konservasi badak hitam di Zimbabwe ini. Memang sudah seharusnya kita melestarikan keanekaragaman hayati dan satwa yang ada di negara kita sendiri. (afra-gsj/int/new)
Kini, populasi badak hitam di kawasan Lowveld telah stabil berkat upaya yang dilakukan oleh Raoul. Meskipun banyak yang mengancam populasi badak tersebut sejak tahun 2000. Sekarang ada 350 badak hitam di wilayah tersebut.
Sebagian besar badak kini berada di bawah pengawasan Rhono Trust Lowveld yang didirikan olehnya pada tahun 2009 dengan dukungan dari Yayasan Badak Internasional serta sumbangan dari pemerhati badak lainnya. Programnya ini juga tidak hanya berfokus pada konservasi satwa liar, tapi ia juga menggabungkan antara kebijakan internasional, keanekaragaman hayati dalam konteks yang lebih luas serta penggunaan lahan yang seimbang antara konservasi dan pembangunan. Dan bagi Raoul pengelolaan lingkungan dan konservasi satwa liar merupakan aspek penting untuk perkembangan Zimbabwe. Tak lupa Raoul juga mengajak masyarakat setempat untuk ikut serta dalam melestarikan badak.
Berkat perjuangannya inilah akhirnya Raoul dianugerahi penghargaan lingkungan Goldman Enviroment Prize pada tahun 2011 atas upayanya dalam melakukan konservasi badak hitam di Zimbabwe ini. Memang sudah seharusnya kita melestarikan keanekaragaman hayati dan satwa yang ada di negara kita sendiri. (afra-gsj/int/new)
0
Ditemui di kantor Program Studi Diploma 3 (D3) Teknik Sipil, Universitas Riau (15/12), Fakhri, begitu ia kerap dipanggil menyambut tim Riau Pos-For Us dengan ramah. Tanpa banyak basa-basi tim langsung menanyakan tentang awal mulanya Ketua Prodi D3 Teknik Sipil ini mengolah sawit menjadikan furniture rumah tangga.
“Mungkin ini agak menjauh dari disiplin ilmu Teknik Sipil, hanya saja tetap ada kaitannya. Sebab, sebagai ilmu yang mempelajari tentang konstruksi bangunan, semula kita ingin mencari bahan konstruksi alternatif selain kayu, besi dan baja,” ungkapnya memulai obrolan menjelang siang itu.
Batang Sawit Pengganti Kayu
Normalnya, sebanyak 180 haktare kelapa sawit yang telah berumur 30 tahun ditumbangkan setiap hari. Kerapatan batang perhektare mencapai 120 batang sawit. Dimata orang awam batangan tersebut hanya limbah tak berguna. Tapi bagi Fakhri, Dosen D3 Teknik Sipil Unversitas Riau, itu merupakan potensi besar sawit selain buahnya.
Ditemui di kantor Program Studi Diploma 3 (D3) Teknik Sipil, Universitas Riau (15/12), Fakhri, begitu ia kerap dipanggil menyambut tim Riau Pos-For Us dengan ramah. Tanpa banyak basa-basi tim langsung menanyakan tentang awal mulanya Ketua Prodi D3 Teknik Sipil ini mengolah sawit menjadikan furniture rumah tangga.
“Mungkin ini agak menjauh dari disiplin ilmu Teknik Sipil, hanya saja tetap ada kaitannya. Sebab, sebagai ilmu yang mempelajari tentang konstruksi bangunan, semula kita ingin mencari bahan konstruksi alternatif selain kayu, besi dan baja,” ungkapnya memulai obrolan menjelang siang itu.
Awalnya ada dua alternatif, lanjutnya, pertama mengolah kayu dari pohon akasia dengan umur pendek namun sudah bisa diproduksi atau mengolah sawit. Akhirnya pilihan jatuh ke sawit karena banyaknya limbah batang sawit yang tidak dikelola, padahal potensinya sangat besar. Dengan luas lahan sawit kurang lebih 20 juta haktare, Riau, menyimpan potensi ekonomis lain dari batang sawit yang telah tua, yaitu dengan menjadikannya papan pengganti kayu.
Jika batangan sawit yang telah tua dan tidak menghasilkan buah lagi ditumbangkan kemudian tidak diolah. Maka itu akan menjadi limbah yang dapat merusak lingkungan. Kita tahu bahwa tanaman sawit itu sendiri sudah cukup banyak menuai kontroversi pendapat dari kalangan aktivis. Nah, bayangkan saja jika batang sisa penumbangan karena akan diganti dengan sawit baru tidak diolah. Masalah baru lagikan?
Tergerak untuk menjadi solusi terhadap persoalan itu dan juga demi mendorong perekonomian masyarakat. Maka Fakhri yang telah mengabdi sejak 1996 di Prodi D3 Teknik Sipil tersebut, selama lima tahun terakhir telah meneliti tentang manfaat lain dari limbah sawit. “Kebutuhan masyarakat terhadap kayu tidak dapat dihentikan begitu saja. Kita akan membutuhkan kayu terus menerus. Sementara keberadaan kayu menjadi komoditi yang sangat langka dengan nilai selangit,” tuturnya. Oleh karena itu, tambah pria kelahiran Kuok, Bangkinang ini, dibutuhkan alternatif lain pengganti itu. Batang sawit merupakan pilihan yang bagus.
Memproduksi kayu dari batang sawit tua bisa dilaksanakan dengan skala usaha kecil menengah (UKM) berbeda dengan kayu partikel yang harus diproduksi secara massal sehingga harus melibatkan industri besar. Oleh karena itu, kayu batang sawit bisa menjadi alternatif bagi perekonomian masyarakat.
Pengolahannyapun tinggal pilih. Ingin memakai alat berat yang tentunya dengan finansial yang cukup tinggi atau secara sederhana saja namun hasil yang didapatkan tidak kalah bagusnya.
Fakhri berbagi ilmu bagi pembaca For Us Riau Pos yang berminat terhadap usaha pengolahan batang sawit menjadi kayu ini. pengolahannya cukup sederhana dan terdiri dari empat tahap.
Berikut adalah tahapan-tahapan yang dibeberkan oleh pria 42 tahun ini. Tahap pertama disebut dengan penebangan. Pohon sawit yang sudah tua dan tidak berproduksi lagi ditebangin dengan chainsaw atau alat penebang lainnya. Kemudian potong batang menjadi beberapa bagian jangan lupa untuk memberi tanda bagian luar dan dalam batang yang telah dipotong.
Tahap kedua, adalah pembelahan. Belah batang sawit menjadi papan dengan ketebalan antara 2 -3 cm. Hindari ukuran bentuk balok yang tebal, lebih dianjurkan dibelah dan dipotong ukuran pendek-pendek dan tipis.
Tahap ketiga, dikatakan sebagai tahap pengawetan. Ini merupakan tahap yang urgent, sebab jika batang sawit yang telah dibelah tidak segera diawetkan ia akan cepat berjamur. “Ini merupakan kekurangan dan kendala dalam pengolahan limbah sawit ini,” ungkap Fakhri. Bahkan diawal-awal, ceritanya, saya kerap mengalami hal tersebut karena keterlambatan melakukan pengawetan.
Batang sawit yang telah berbentuk papan atau balok diawetkan dengan memakai bahan kimia. “Kaporit merupakan pilihan yang baik untuk mengawetkannya,” seru Fakhri memberi tips. Rendamlah papan atau balok sawit dengan air telah diberi kaporit selama dua jam. Setiap 30 menit cairan pangawet diaduk.
Nah, sekarang masuk pada tahap keempat, yaitu pengeringan. Pada tahap ini papan sawit dikeringkan selama kurang lebih sepuluh hari. “Sampai kadar air di dalamnya mencapai 15 persen,” ungkap alumni master Teknik Sipil UGM tersebut.
Setelah melalui semua tahapan pembuatan batang hingga menjadi kayu. Selanjutnya tinggal pada kreasi masing-masing orang ingin menjadikan kayu tersebut menjadi apa. “Kalau dijadikan konstruksi bangunan, kayu sawit ini bukan bahan yang kuat. Karena gaya gesernya kaku,” tutur Fakhri mengungkapkan kelemahan dari kayu sawit. Struktur bangunan tersebut contohnya dijadikan jembatan yang akan dilalui oleh mobil-mobil besar. Namun kayu sawit cukup bagus untuk dijadikan peralatan rumah tangga seperti furniture atau meuble.
Masyarakat bisa memanfaatkan kayu tersebut sebagai kayu bekisting (papan cor), dinding partisi, panil pintu, plafon ringan, bahan bangunan atau kreasi-kreasi lain seperti hiasan dinding, figura foto, pot bunga, asbak rokok. Hal itu juga ditunjang dengan warna dan corak dari kayu sawit yang telah dilaminasi dengan kayu lain sangat bagus dan berwarna warni.
“Sudah delapan tahun ini, kursi tamu di Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Universitas Riau terbuat dari kayu sawit. Kondisinya baik-baik saja sejauh ini,” promosi pria yang tengah berupaya mengembangkan desa binaan di Desa Sibuak, Kecamatan Tapung, Kampar tersebut.
Fakhri dan anak-anak Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) UNRI gelombang tiga bimbingannya di Kecamatan Tapung memang sedang memperkenalkan teknologi pengolahan limbah batang sawit ini kepada masyarakat di lokasi-lokasi perkebunan sawit. “Di sana kami lebih kepada aplikasi yang mudah, misalnya membuat pot bunga dari kayu sawit, terangnya.
Animo yang tinggi dari masyarakat dan dukungan penuh dari kepala desa Sibuak menjadikan Fakhri dan para mahasiswa tersebut bersemangat memperkenalkan metode ini. Saat ini yang masyarakat butuhkan adalah teknologi sederhana tepat guna, ungkap Dosen Konstruksi Kayu ini.
Teknologi tepat guna tersebut misalnya pengolahan limbah, sampah, air bersih, pangan yang murah, ekonomis, praktis namun bisa diaplikasikan dengan mudah. Oleh karena itu, dalam menunggu hak paten keluar Fakhri juga kerap mensosialisasikan penemuannya ini kepada masyarakat di pedesaan.(tya-gsj)
Jika batangan sawit yang telah tua dan tidak menghasilkan buah lagi ditumbangkan kemudian tidak diolah. Maka itu akan menjadi limbah yang dapat merusak lingkungan. Kita tahu bahwa tanaman sawit itu sendiri sudah cukup banyak menuai kontroversi pendapat dari kalangan aktivis. Nah, bayangkan saja jika batang sisa penumbangan karena akan diganti dengan sawit baru tidak diolah. Masalah baru lagikan?
Tergerak untuk menjadi solusi terhadap persoalan itu dan juga demi mendorong perekonomian masyarakat. Maka Fakhri yang telah mengabdi sejak 1996 di Prodi D3 Teknik Sipil tersebut, selama lima tahun terakhir telah meneliti tentang manfaat lain dari limbah sawit. “Kebutuhan masyarakat terhadap kayu tidak dapat dihentikan begitu saja. Kita akan membutuhkan kayu terus menerus. Sementara keberadaan kayu menjadi komoditi yang sangat langka dengan nilai selangit,” tuturnya. Oleh karena itu, tambah pria kelahiran Kuok, Bangkinang ini, dibutuhkan alternatif lain pengganti itu. Batang sawit merupakan pilihan yang bagus.
Memproduksi kayu dari batang sawit tua bisa dilaksanakan dengan skala usaha kecil menengah (UKM) berbeda dengan kayu partikel yang harus diproduksi secara massal sehingga harus melibatkan industri besar. Oleh karena itu, kayu batang sawit bisa menjadi alternatif bagi perekonomian masyarakat.
Pengolahannyapun tinggal pilih. Ingin memakai alat berat yang tentunya dengan finansial yang cukup tinggi atau secara sederhana saja namun hasil yang didapatkan tidak kalah bagusnya.
Fakhri berbagi ilmu bagi pembaca For Us Riau Pos yang berminat terhadap usaha pengolahan batang sawit menjadi kayu ini. pengolahannya cukup sederhana dan terdiri dari empat tahap.
Berikut adalah tahapan-tahapan yang dibeberkan oleh pria 42 tahun ini. Tahap pertama disebut dengan penebangan. Pohon sawit yang sudah tua dan tidak berproduksi lagi ditebangin dengan chainsaw atau alat penebang lainnya. Kemudian potong batang menjadi beberapa bagian jangan lupa untuk memberi tanda bagian luar dan dalam batang yang telah dipotong.
Tahap kedua, adalah pembelahan. Belah batang sawit menjadi papan dengan ketebalan antara 2 -3 cm. Hindari ukuran bentuk balok yang tebal, lebih dianjurkan dibelah dan dipotong ukuran pendek-pendek dan tipis.
Tahap ketiga, dikatakan sebagai tahap pengawetan. Ini merupakan tahap yang urgent, sebab jika batang sawit yang telah dibelah tidak segera diawetkan ia akan cepat berjamur. “Ini merupakan kekurangan dan kendala dalam pengolahan limbah sawit ini,” ungkap Fakhri. Bahkan diawal-awal, ceritanya, saya kerap mengalami hal tersebut karena keterlambatan melakukan pengawetan.
Batang sawit yang telah berbentuk papan atau balok diawetkan dengan memakai bahan kimia. “Kaporit merupakan pilihan yang baik untuk mengawetkannya,” seru Fakhri memberi tips. Rendamlah papan atau balok sawit dengan air telah diberi kaporit selama dua jam. Setiap 30 menit cairan pangawet diaduk.
Nah, sekarang masuk pada tahap keempat, yaitu pengeringan. Pada tahap ini papan sawit dikeringkan selama kurang lebih sepuluh hari. “Sampai kadar air di dalamnya mencapai 15 persen,” ungkap alumni master Teknik Sipil UGM tersebut.
Setelah melalui semua tahapan pembuatan batang hingga menjadi kayu. Selanjutnya tinggal pada kreasi masing-masing orang ingin menjadikan kayu tersebut menjadi apa. “Kalau dijadikan konstruksi bangunan, kayu sawit ini bukan bahan yang kuat. Karena gaya gesernya kaku,” tutur Fakhri mengungkapkan kelemahan dari kayu sawit. Struktur bangunan tersebut contohnya dijadikan jembatan yang akan dilalui oleh mobil-mobil besar. Namun kayu sawit cukup bagus untuk dijadikan peralatan rumah tangga seperti furniture atau meuble.
Masyarakat bisa memanfaatkan kayu tersebut sebagai kayu bekisting (papan cor), dinding partisi, panil pintu, plafon ringan, bahan bangunan atau kreasi-kreasi lain seperti hiasan dinding, figura foto, pot bunga, asbak rokok. Hal itu juga ditunjang dengan warna dan corak dari kayu sawit yang telah dilaminasi dengan kayu lain sangat bagus dan berwarna warni.
“Sudah delapan tahun ini, kursi tamu di Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Universitas Riau terbuat dari kayu sawit. Kondisinya baik-baik saja sejauh ini,” promosi pria yang tengah berupaya mengembangkan desa binaan di Desa Sibuak, Kecamatan Tapung, Kampar tersebut.
Fakhri dan anak-anak Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) UNRI gelombang tiga bimbingannya di Kecamatan Tapung memang sedang memperkenalkan teknologi pengolahan limbah batang sawit ini kepada masyarakat di lokasi-lokasi perkebunan sawit. “Di sana kami lebih kepada aplikasi yang mudah, misalnya membuat pot bunga dari kayu sawit, terangnya.
Animo yang tinggi dari masyarakat dan dukungan penuh dari kepala desa Sibuak menjadikan Fakhri dan para mahasiswa tersebut bersemangat memperkenalkan metode ini. Saat ini yang masyarakat butuhkan adalah teknologi sederhana tepat guna, ungkap Dosen Konstruksi Kayu ini.
Teknologi tepat guna tersebut misalnya pengolahan limbah, sampah, air bersih, pangan yang murah, ekonomis, praktis namun bisa diaplikasikan dengan mudah. Oleh karena itu, dalam menunggu hak paten keluar Fakhri juga kerap mensosialisasikan penemuannya ini kepada masyarakat di pedesaan.(tya-gsj)
0
Laporan Mashuri Kurniawan Bengkalis
Ikan baung adalah nama yang termasuk ke dalam marga Hemibagrus , suku Bagridae. Penyebarannya sampai di India, Asia Tenggara, dan Cina Selatan. Biasanya jenis ikan itu membuat sarang berupa lubang di dasar perairan yang lunak dengan aliran air yang tenang.
Ikan baung menyukai tempat yang tersembunyi, berlindung dibawah akar pohondi dalam air. Ikan itu keluar sarang sebelum hari petang. Setelah hari gelap, ikan baung akan keluar dengan cepat untuk mencari mangsa. Namun begitu tetap berada disekitar sarang dan segera, masuk ke sarang bila ada gangguan.
Di Riau sendiri ikan ini bisa ditemukan di Sungai Kampar dan Sungai Siak. Hanya saja, habitatnya sudah mulai berkurang. Dikarenakan, ulah manusia yang selalu melakukan eksploitasi berlebihan terhadap sungai. Pembuangan sampah dan limbah cair ke dalam sungai mengakibatkan ikan ini sulit berkembang biak.
Padahal, ikan baung ini termasuk ikan yang sangat digandrungi diseluruh dunia. Khususnya masyarakat Riau. Secara distribusi geografis ikan baung, selain di perairan Indonesia, juga terdapat di Hindia Timur, Malaya, Indocina, dan Thailand. Ikan yang menyebar luas di India, Cina selatan dan AsiaTenggara.
Di Indonesia ikan ini dikenal dengan banyak nama daerah, seperti Ikan Sogo (Jawa Tengah) , Sengol (Jawa Barat) , Baung (kebanyakan Sumatera) , Ikan Teiken (Sumatera Utara) , Ikan Tagih atau Tegeh (JawaTimur) , Ikan Niken (Kalimantan Barat) , Ikan Patik (Kalimantan Selatan) , Ikan Kendiya (Kalimantan Tengah) , Ikan Baung Putih (Kalimantan Timur).
Permasalahan inilah yang memerlukan perhatian serius oleh seluruh masyarakat Riau. Sebab, bila terus dilakukan pengrusakan habitat ikan pada sungai, bukan hanya ikan baung saja musnah, tetapi seluruh ekosistim di sungai bisa terganggu. Perkembangbiakan ikan harus dilakukan. Jangan sampai musnah.
Melihat permasalahan inilah, masyarakat Desa Temiang, Kecamatan Bukit Datuk, Kabupaten Bengkalis melakukan pengembangbiakan Ikan Baung. Bagi masyarakat Desa Temiang, ikan itu membawa berkah bagi seluruh masyarakat. Kelestariannya juga mulai dijaga dengan baik oleh masyarakat.
Rabu (14/12) lalu, Riau Pos berkunjung ke lokasi Desa Temiang ditemani Slamet (37). Desa ini dikelilingi perkebunan kelapa sawit dan karet. Hampir diseluruh rumah masyarakat ditanami perkebunan sawit dan karet. Kebanyakan mereka yang tinggal di Desa Temiang bekerja sebagai petani dan nelayan. Hanya sedikit sebagai PNS.
Panas terik matahari begitu terasa di kulit siang itu. Waktu menunjukan pukul 10.15 WIB. Pemandangan pohon sawit berdiri dengan buahnya yang bernilai tingi, Riau Pos menelusuri perkampungan Desa Temiang untuk melihat secara langsung lokasi pengembangbiakan Ikan Baung.
Dalam perjalanan tersebut, Riau Pos berhentilah disalah satu perumahan warga yang berhasil mengembangbiakan Ikan Baung dan Lele. Pria separuh baya ini mengaku bernama Bambang (51). Dia menyambut kedatangan Slamet dan Riau Pos masuk kedalam pekarangan rumahnya.
“Mencari apa nak,” Tanya Bambang kepada Slamet. “Ini pakde ada teman mau melihat pengembangbiakan Ikan Baung,’’ kata Slamet. Bambang membawa Riau Pos dan Slamet menuju kolam dibelakang rumahnya. Bersama dengan enam kepala keluarga di Desa Temiang Bambang melakukan pengembangbiakan Ikan Baung.
Selama melakukan pengembangbiakan ikan itu, Bambang dibantu Fakultas Pertanian, Universitas Islam Riau. Kolam milik Bambang berukuran 6 meter x 7 meter. Didalam kola mini ikan dimasukan dalam jarring rapat. Dengan begitu ikan tidak akan mudah keluar dari dalam jaring. Kemudian, memberikan kemudahan memberi makan.
Bambang menyebutkan, biasanya ikan itu paling disukai adalah perairan yang tenang, bukan air yang deras. Karenaitu, ikan baung banyak ditemukan di rawa-rawa, danau-danau, waduk dan perairan yang tenang lainnya. Sayang, kata dia, banyak rawa dan danau sekarang ini berubah menjadi bangunan beton.
Pencemaran yang terjadi di sungai dan anak sungai, sambungnya, sangat mengganggu perkembangbiakan ikan tersebut. Karena, sifat ikan itu sangat rentan terhadap penyakit dan gangguan. Permasalahan inilah yang mendapatkan perhatian masyarakat Desa Temiang.
Menurut dia, bagaimana memanfaatkan lahan tidur atau tidak dipergunakan menjadi berguna. Untuk awal pembuatan kolam memang dinilai Bambang memerlukan waktu yang lama. Ikan Baung tidak sembarangan bisa hidup selain di habitatnya. Apalagi habitat buatan.
Namun lanjutnya, dibantu Fakultas Pertanian UIR, upaya pengembangbiakan Ikan Baung berhasil dilakukan. Bahkan, sekarang ini nilai ekonomis ikan itu memberikan dampak besar pada peningkatan ekonomi mereka.
Apalagi, kalau ikan tersebut dijadikan salai, harganya bisa mencapai Rp130.000 per kilogram. Kalau ikan basah Rp55.000 hingga Rp60.000 per kilogram. Kebanyakan pembelinya langsung datang ke Desa Temiang untuk membeli Ikan Baung salai maupun yang basah.
Pemandangan disekeliling kolam milik Bambang ditanami pepohonan hijau dan rindang. Udara disekeliling kolam terasa sejuk. Bersama dengan Slamat, Riau Pos diperkenankan memancing Ikan Baung didalam kolamnya. Mata kail dikasih umpan cacing. Begitu mata kail masuk ke dalam air ratusan ikan langsung menyambarnya secara bergantian.
Sayangnya ikan baung tidak bisa tertangkap. Usaha terus dilakukan, akhirnya setelah menunggu selama 15 menit Ikan Baung berukuran dua jempol manusia berhasil dididapatkan Slamet. ‘’Lumayan sulit narik ikannya ya pakdem’’ ujar Slamet seraya tersenyum kearah Bambang.
Bambang mengatakan, induk ikan baung dapat dikembangbiakkan di kawasan tersebut berasal dari Balai Benih Ikan UIR. Tetapi, ada juga dari sungai dan rawa yang ada di Desa Temiang. Hal tersebut dilakukan agar karakter dan sifat peranakan yang dihasilkan nantinya sesuai dengan tempat pemeliharaannya, yakni di dalam kolam.
“Perlu diketahui bahwa sebagian besar petani ikan di Riau dan sekitarnya menggunakan media sungai sebagai tempat membesarkan ikan. Kami di dalam kolam sebagai tempat penangkarannya,” katanya.
Waktu menunjukan pukul 16.12 WIB, saat berbincang dengan Bambang, seorang pria yang merupakan petani ikan baung dan lele, Miriadi (47) mendatangi kolam. Wajahnya tersenyum mengarah pada Bambang.
Perbincangan antara Bambang, Misriadi, Slamet, dan Riau Pos berlangsung penuh senyuman. Dalam penjelasannya Misriadi mengemukakan, untuk penangkaran Ikan Baung memang santat perlu dilakukan mayarakat Riau. Bagi dia, ikan itu menjadi salah satu simbol keunggulan Riau.
Misriadi sendiri menmgaku memiliki kolam dengan luas 5 meter x 6 meter. Kolam itu berada di belakang rumahnya. Banyak keuntungan yang dinilai Misriadi dari ikan baung. Bukan hanya keuntungan materi saja, bila sudah mendekat ke kolam dan memberi makan bisa membuat fikiran menjadi tenang.
‘’Cobalah dek, buat sebuah kolam. Lalu kembangbiakan Ikan Baung atau Lele, pasti bisa menambah penghasilan,’’ cerita Misriadi kepada Riau Pos. Bagi para petani ikan yang ingin mendapatkan bibit ikan baung, Misridai mempersilakan untuk datang sekaligus membelinya di Desa Temiang. Yang pasti, kata dia, Ikan Baung menjadi berkah bagi petani ikan di Desa Temiang. Cukup dengan memanfaatkan lahan tidur, ikan ini bisa dikembangbiakan dengan baik.
Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian UIR, Rosyadi mengungkapkan, pengembangbiakan Ikan Baung ini memang sudah seharusnya dilakukan masyarakat Riau. Karena, jumlah populasinya yang mulai dirasakan berkurang oleh nelayan dipinggiran sungai.
Habitatnya juga sudah mulai berkurang. ‘’Kami berusaha melakukan pembelajaran cara mengembangbiakan Ikan Baung. Alhamdulillah sebanyak tujuh KK di Desa Temiang sudah mulai menuai hasil pekerjaan mereka,’’ ungkapnya.
Dari penuturan Rosyadi, Ikan Baung tetap memerlukan oksigen yang tinggi untuk kehidupannya.Ikan baung tumbuh dan berkembang di perairan tropis. Daya adaptasinya tergolong rendah, kurang tahan terhadap perubahan lingkungan, dan serangan penyakit
Pada fase benihyaitu dari ukuran 0,5 2 cm. Ikan baung dapat hidup pada ketinggian sampai 1.000 m di atas permukaan laut, kandungan oksigen minimal 4 ppm, dan air yang tidak terlalu keruh dengan kecerahan pada pengukuran alat secchi disk Ikan baung tergolong ke dalam benthopelagic, dan hidup di perairan tawar dan payau dengan kisaran pH 7 - 8,2 dan suhu 22 – 250 derajat Celsius.
Perlu ketelitian dalam mengembangbiakan Ikan Baung. Bila salah melakukan perkembangbiakan bisa mengakibatkan pada kematian secara masal ikan ini. Ikan baung suka menggerombol di dasar perairan. Aapa yang dilakukan di Desa Temiang merupakan hal pertama menurut dia, di Provinsi Riau.
Biasanya Ikan Baung pengembangbiakan dilakukan di dalam keramba sepanjang aliran sungai. Padahal dan danau. Budidaya Ikan Baung ini sangat langka dilakukan.
Ia mengatakan, selama ini ada kabar menyebutkan jenis ikan Baung sangat sulit untuk dibudidayakan.
‘’Ternyata tak ada jenis ikan yang tidak bisa dibudidayakan asal masyarakat mau mencoba untuk mengembangkannya,’’ ujar Rosyadi.
Sementara itu Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Riau, Irwan Efendi mendukung penuh budidaya Ikan Baung yang dilakukan, di Desa Temiang. Ia menilai, apa yang sudah dilakukan masyarakat tersebut sudah sepatutnya ditiru oleh petani ikan lainnya.
Mempergunakan lahan yang tidak dimanfaatkan lagi, dibuat kolam, dan melakukan budidaya ikan, menurut dia, itu sangat bagus. Dia berharap, tidak ada lagi eksploitasi terhadap Ikan Baung dan ekosistim air Sungai, Danau dan Rawa secara berlebihan
Menjaga lingkungan tetap hijau, sungai tetap jernih dan tidak membuang sampah ke dalamnya, memang sudah sepatutnya dilakukan secara bersama. ***
Budidaya Ikan Baung di Lahan Tidur
internet
BUDIDAYA : Ikan Baung sudah mulai dilakukan pembudayaannya oleh petani ikan Desa Temiang. Bagi masyarakat sekitar ikan ini membawa berkah.
Memanfaatkan lahan tidur untuk membudidayakan ikan baung belum banyak dilakukan petani ikan di Riau. Namun di Desa Temiang, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis budidaya itu sudah dilaksanakan dan berhasil. BUDIDAYA : Ikan Baung sudah mulai dilakukan pembudayaannya oleh petani ikan Desa Temiang. Bagi masyarakat sekitar ikan ini membawa berkah.
Laporan Mashuri Kurniawan Bengkalis
mashurikurniawan@riaupos.co.id
Ikan baung adalah nama yang termasuk ke dalam marga Hemibagrus , suku Bagridae. Penyebarannya sampai di India, Asia Tenggara, dan Cina Selatan. Biasanya jenis ikan itu membuat sarang berupa lubang di dasar perairan yang lunak dengan aliran air yang tenang.
Ikan baung menyukai tempat yang tersembunyi, berlindung dibawah akar pohondi dalam air. Ikan itu keluar sarang sebelum hari petang. Setelah hari gelap, ikan baung akan keluar dengan cepat untuk mencari mangsa. Namun begitu tetap berada disekitar sarang dan segera, masuk ke sarang bila ada gangguan.
Di Riau sendiri ikan ini bisa ditemukan di Sungai Kampar dan Sungai Siak. Hanya saja, habitatnya sudah mulai berkurang. Dikarenakan, ulah manusia yang selalu melakukan eksploitasi berlebihan terhadap sungai. Pembuangan sampah dan limbah cair ke dalam sungai mengakibatkan ikan ini sulit berkembang biak.
Padahal, ikan baung ini termasuk ikan yang sangat digandrungi diseluruh dunia. Khususnya masyarakat Riau. Secara distribusi geografis ikan baung, selain di perairan Indonesia, juga terdapat di Hindia Timur, Malaya, Indocina, dan Thailand. Ikan yang menyebar luas di India, Cina selatan dan AsiaTenggara.
Di Indonesia ikan ini dikenal dengan banyak nama daerah, seperti Ikan Sogo (Jawa Tengah) , Sengol (Jawa Barat) , Baung (kebanyakan Sumatera) , Ikan Teiken (Sumatera Utara) , Ikan Tagih atau Tegeh (JawaTimur) , Ikan Niken (Kalimantan Barat) , Ikan Patik (Kalimantan Selatan) , Ikan Kendiya (Kalimantan Tengah) , Ikan Baung Putih (Kalimantan Timur).
Permasalahan inilah yang memerlukan perhatian serius oleh seluruh masyarakat Riau. Sebab, bila terus dilakukan pengrusakan habitat ikan pada sungai, bukan hanya ikan baung saja musnah, tetapi seluruh ekosistim di sungai bisa terganggu. Perkembangbiakan ikan harus dilakukan. Jangan sampai musnah.
Melihat permasalahan inilah, masyarakat Desa Temiang, Kecamatan Bukit Datuk, Kabupaten Bengkalis melakukan pengembangbiakan Ikan Baung. Bagi masyarakat Desa Temiang, ikan itu membawa berkah bagi seluruh masyarakat. Kelestariannya juga mulai dijaga dengan baik oleh masyarakat.
Rabu (14/12) lalu, Riau Pos berkunjung ke lokasi Desa Temiang ditemani Slamet (37). Desa ini dikelilingi perkebunan kelapa sawit dan karet. Hampir diseluruh rumah masyarakat ditanami perkebunan sawit dan karet. Kebanyakan mereka yang tinggal di Desa Temiang bekerja sebagai petani dan nelayan. Hanya sedikit sebagai PNS.
Panas terik matahari begitu terasa di kulit siang itu. Waktu menunjukan pukul 10.15 WIB. Pemandangan pohon sawit berdiri dengan buahnya yang bernilai tingi, Riau Pos menelusuri perkampungan Desa Temiang untuk melihat secara langsung lokasi pengembangbiakan Ikan Baung.
Dalam perjalanan tersebut, Riau Pos berhentilah disalah satu perumahan warga yang berhasil mengembangbiakan Ikan Baung dan Lele. Pria separuh baya ini mengaku bernama Bambang (51). Dia menyambut kedatangan Slamet dan Riau Pos masuk kedalam pekarangan rumahnya.
“Mencari apa nak,” Tanya Bambang kepada Slamet. “Ini pakde ada teman mau melihat pengembangbiakan Ikan Baung,’’ kata Slamet. Bambang membawa Riau Pos dan Slamet menuju kolam dibelakang rumahnya. Bersama dengan enam kepala keluarga di Desa Temiang Bambang melakukan pengembangbiakan Ikan Baung.
Selama melakukan pengembangbiakan ikan itu, Bambang dibantu Fakultas Pertanian, Universitas Islam Riau. Kolam milik Bambang berukuran 6 meter x 7 meter. Didalam kola mini ikan dimasukan dalam jarring rapat. Dengan begitu ikan tidak akan mudah keluar dari dalam jaring. Kemudian, memberikan kemudahan memberi makan.
Bambang menyebutkan, biasanya ikan itu paling disukai adalah perairan yang tenang, bukan air yang deras. Karenaitu, ikan baung banyak ditemukan di rawa-rawa, danau-danau, waduk dan perairan yang tenang lainnya. Sayang, kata dia, banyak rawa dan danau sekarang ini berubah menjadi bangunan beton.
Pencemaran yang terjadi di sungai dan anak sungai, sambungnya, sangat mengganggu perkembangbiakan ikan tersebut. Karena, sifat ikan itu sangat rentan terhadap penyakit dan gangguan. Permasalahan inilah yang mendapatkan perhatian masyarakat Desa Temiang.
Menurut dia, bagaimana memanfaatkan lahan tidur atau tidak dipergunakan menjadi berguna. Untuk awal pembuatan kolam memang dinilai Bambang memerlukan waktu yang lama. Ikan Baung tidak sembarangan bisa hidup selain di habitatnya. Apalagi habitat buatan.
Namun lanjutnya, dibantu Fakultas Pertanian UIR, upaya pengembangbiakan Ikan Baung berhasil dilakukan. Bahkan, sekarang ini nilai ekonomis ikan itu memberikan dampak besar pada peningkatan ekonomi mereka.
Apalagi, kalau ikan tersebut dijadikan salai, harganya bisa mencapai Rp130.000 per kilogram. Kalau ikan basah Rp55.000 hingga Rp60.000 per kilogram. Kebanyakan pembelinya langsung datang ke Desa Temiang untuk membeli Ikan Baung salai maupun yang basah.
Pemandangan disekeliling kolam milik Bambang ditanami pepohonan hijau dan rindang. Udara disekeliling kolam terasa sejuk. Bersama dengan Slamat, Riau Pos diperkenankan memancing Ikan Baung didalam kolamnya. Mata kail dikasih umpan cacing. Begitu mata kail masuk ke dalam air ratusan ikan langsung menyambarnya secara bergantian.
Sayangnya ikan baung tidak bisa tertangkap. Usaha terus dilakukan, akhirnya setelah menunggu selama 15 menit Ikan Baung berukuran dua jempol manusia berhasil dididapatkan Slamet. ‘’Lumayan sulit narik ikannya ya pakdem’’ ujar Slamet seraya tersenyum kearah Bambang.
Bambang mengatakan, induk ikan baung dapat dikembangbiakkan di kawasan tersebut berasal dari Balai Benih Ikan UIR. Tetapi, ada juga dari sungai dan rawa yang ada di Desa Temiang. Hal tersebut dilakukan agar karakter dan sifat peranakan yang dihasilkan nantinya sesuai dengan tempat pemeliharaannya, yakni di dalam kolam.
“Perlu diketahui bahwa sebagian besar petani ikan di Riau dan sekitarnya menggunakan media sungai sebagai tempat membesarkan ikan. Kami di dalam kolam sebagai tempat penangkarannya,” katanya.
Waktu menunjukan pukul 16.12 WIB, saat berbincang dengan Bambang, seorang pria yang merupakan petani ikan baung dan lele, Miriadi (47) mendatangi kolam. Wajahnya tersenyum mengarah pada Bambang.
Perbincangan antara Bambang, Misriadi, Slamet, dan Riau Pos berlangsung penuh senyuman. Dalam penjelasannya Misriadi mengemukakan, untuk penangkaran Ikan Baung memang santat perlu dilakukan mayarakat Riau. Bagi dia, ikan itu menjadi salah satu simbol keunggulan Riau.
Misriadi sendiri menmgaku memiliki kolam dengan luas 5 meter x 6 meter. Kolam itu berada di belakang rumahnya. Banyak keuntungan yang dinilai Misriadi dari ikan baung. Bukan hanya keuntungan materi saja, bila sudah mendekat ke kolam dan memberi makan bisa membuat fikiran menjadi tenang.
‘’Cobalah dek, buat sebuah kolam. Lalu kembangbiakan Ikan Baung atau Lele, pasti bisa menambah penghasilan,’’ cerita Misriadi kepada Riau Pos. Bagi para petani ikan yang ingin mendapatkan bibit ikan baung, Misridai mempersilakan untuk datang sekaligus membelinya di Desa Temiang. Yang pasti, kata dia, Ikan Baung menjadi berkah bagi petani ikan di Desa Temiang. Cukup dengan memanfaatkan lahan tidur, ikan ini bisa dikembangbiakan dengan baik.
Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian UIR, Rosyadi mengungkapkan, pengembangbiakan Ikan Baung ini memang sudah seharusnya dilakukan masyarakat Riau. Karena, jumlah populasinya yang mulai dirasakan berkurang oleh nelayan dipinggiran sungai.
Habitatnya juga sudah mulai berkurang. ‘’Kami berusaha melakukan pembelajaran cara mengembangbiakan Ikan Baung. Alhamdulillah sebanyak tujuh KK di Desa Temiang sudah mulai menuai hasil pekerjaan mereka,’’ ungkapnya.
Dari penuturan Rosyadi, Ikan Baung tetap memerlukan oksigen yang tinggi untuk kehidupannya.Ikan baung tumbuh dan berkembang di perairan tropis. Daya adaptasinya tergolong rendah, kurang tahan terhadap perubahan lingkungan, dan serangan penyakit
Pada fase benihyaitu dari ukuran 0,5 2 cm. Ikan baung dapat hidup pada ketinggian sampai 1.000 m di atas permukaan laut, kandungan oksigen minimal 4 ppm, dan air yang tidak terlalu keruh dengan kecerahan pada pengukuran alat secchi disk Ikan baung tergolong ke dalam benthopelagic, dan hidup di perairan tawar dan payau dengan kisaran pH 7 - 8,2 dan suhu 22 – 250 derajat Celsius.
Perlu ketelitian dalam mengembangbiakan Ikan Baung. Bila salah melakukan perkembangbiakan bisa mengakibatkan pada kematian secara masal ikan ini. Ikan baung suka menggerombol di dasar perairan. Aapa yang dilakukan di Desa Temiang merupakan hal pertama menurut dia, di Provinsi Riau.
Biasanya Ikan Baung pengembangbiakan dilakukan di dalam keramba sepanjang aliran sungai. Padahal dan danau. Budidaya Ikan Baung ini sangat langka dilakukan.
Ia mengatakan, selama ini ada kabar menyebutkan jenis ikan Baung sangat sulit untuk dibudidayakan.
‘’Ternyata tak ada jenis ikan yang tidak bisa dibudidayakan asal masyarakat mau mencoba untuk mengembangkannya,’’ ujar Rosyadi.
Sementara itu Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Riau, Irwan Efendi mendukung penuh budidaya Ikan Baung yang dilakukan, di Desa Temiang. Ia menilai, apa yang sudah dilakukan masyarakat tersebut sudah sepatutnya ditiru oleh petani ikan lainnya.
Mempergunakan lahan yang tidak dimanfaatkan lagi, dibuat kolam, dan melakukan budidaya ikan, menurut dia, itu sangat bagus. Dia berharap, tidak ada lagi eksploitasi terhadap Ikan Baung dan ekosistim air Sungai, Danau dan Rawa secara berlebihan
Menjaga lingkungan tetap hijau, sungai tetap jernih dan tidak membuang sampah ke dalamnya, memang sudah sepatutnya dilakukan secara bersama. ***
Langganan:
Postingan (Atom)
For Us 










