Blogger Tricks


Tampilkan postingan dengan label Green Holic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Green Holic. Tampilkan semua postingan
0

Nikmati Manfaat Bersepeda

Riau Pos - For Us Minggu, 26 Februari 2012
 TEGUH-GSJ/RIAUPOS
BERSEPEDA: Dua orang sedang asiknya bersepeda di Car Free Day (CFD) setiap minggu paginya.
KEGIATAN bersepeda baik ke tempat kerja, olahraga, sekolah maupun ke pasar terlihat sangat disenangi masyarakat, di Kota Pekanbaru. Khususnya di lokasi Car Free Day. Di tempat itu beberapa ruas jalan raya ditutup, dimanfaatkan oleh orang banyak untuk berolahraga. Khusus di Pekanbaru sendiri, kegiatan Car Free Day (CFD) sendiri yakni dijalan Diponegoro dan Gajah Mada. Yang mana CFD diadakan setiap Sabtu dan Ahad dari pukul 06.00-09.00 WIB.
0

B2W-Pekanbaru, Bersepeda Tunggal Ika

Riau Pos - For Us Senin, 20 Februari 2012
   Apapun jenis sepedanya tapi komunitasnya tetap Bike to Work Pekanbaru. Paling tidak itulah yang tergambarkan jika kita melihat komunitas pekerja bersepeda ini. Bike to Work Pekanbaru atau yang lebih dikenal dengan B2W-Pekanbaru ini sebenarnya baru berdiri pada bulan Maret 2011. Namun sebenarnya sejarah berdirinya B2W-Pekanbaru awalnya berasal dari B2W-Jakarta yang telah ada cukup lama.

0

DBC, Utamakan Safety

Riau Pos - For Us Senin, 06 Februari 2012
afra-gsj/riau pos
SENYUM: Anggota Dishub Bicycle Community tersenyum saat mejeng di car free day

   UNTUK menyemarakkan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012 yang akan diselenggarakan di Riau, Dinas Perhubungan Provinsi Riau atau yang disingkat Dishub yang juga terlibat dalam PON mendirikan sebuah komunitas sepeda. Komunitas ini bernama Dishub Bicycle Community (DBC). Komunitas ini sendiri baru berdiri diawal tahun 2012, bertepatan dengan pergantian tahun baru.
0

Bike to Work, Sehat dan Style

Riau Pos - For Us
   BERSEPEDA memang lagi boomingnya sekarang ini. Bike to Work atau yang biasa orang-orang bilang dengan sebutan B2W. Namun bagaimana respon sebagian orang kantoran sekarang dengan B2W? Apa saja manfaat yang akan didapatkan dari Bike to Work?
0

DBC, Semarakkan PON dengan Bike to work

Riau Pos - For Us Minggu, 05 Februari 2012



   Untuk menyemarakkan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012 yang akan diselenggarakan di Riau, Dinas Perhubungan Provinsi Riau atau yang disingkat Dishub yang juga terlibat dalam PON mendirikan sebuah komunitas sepeda. Komunitas ini bernama Dishub Bicycle Community (DBC). Komunitas ini sendiri baru berdiri diawal tahun 2012, bertepatan dengan pergantian tahun baru.
   Awal terbentuknya,  Dishub Bicycle Community (DBC) hanya terdiri atas 5 orang anggota saja. Sebulan berjalan kini DBC telah beranggotakan 20 orang. Semua anggotanya sendiri terdiri dari semua pegawai dari berbagai bidang yang bekerja di Dinas Perhubungan Provinsi Riau beserta keluarganya. Berbagai golongan tanpa mengenal kasta semua ada di komunitas ini membaur dalam kebersamaan. Meskipun baru berdiri, komunitas ini sendiri sangat aktif mengikuti kegiatan yang ada di Pekanbaru khususnya, salah satunya fun bike yang diadakan Riaupos tanggal 5 Februari 2012.
   Selain untuk menyemarakkan PON 2012, DBC sendiri berdiri juga karena pikiran dari beberapa staf pegawai Dishub untuk melaksanakan Bike to Work. Salah satunya Bambang Feriyanto pioner pencetus berdirinya DBC yang kini menjabat sebagai Kasubag Bina Program di Dinas Perhubungan Provinsi Riau.
   “Dishub terlibat langsung di PON, oleh karena itu kami semua yang bekerja di Dishub berwacana untuk ikut menyemarakkannnya. Salah satunya dengan mengadakan Bike to Work, hingga akhirnya terbentuklah Dishub Bicycle Comunity (DBC),” terang Bambang Feriyanto yang juga merupakan alumni lulusan S2 teknik Arsitektur Universtas Gajah Mada (UGM).
   Ia juga menambahkan dengan bersepeda otomatis tubuh akan menjadi lebih segar, berfikirpun bisa lebih fresh  karena peredaran darah yang lancar. Selain itu dengan bersepeda juga dapat membuat kita merasa jauh lebih fit. Begitu juga yang gemuk bisa jadi “kempes” manfaatnya terasa, tambahnya sambil tertawa.
   Untuk keselamatan atau safety, komunitas sepeda yang memilih MTQ, Car Free Day Diponegoro dan Buryam Jakarta sebagai tempat nongkrongnya ini sendiri memiliki persyaratan yang cukup lengkap. Seperti sepeda yang layak jalan dengan rem dan juga perlengkapan saat bersepeda diantaranya baju, helm, sarung tangan dan juga pelindung lutut. Jenis sepeda yang dipilih yakni jenis sepeda MTB, karena track jalan raya yang sering ditempuh sangat cocok dengan jenis sepeda ini.
   “Yang tidak lupa dalam komunitas ini, semua anggota diwajibkan untuk memiliki lampu di masing-masing sepedanya. Hal ini juga untuk keselamatan pengemudi, karena apabila berangkat subuh keadaan jalan masih sedikit gelap,” ucap Onki Hertawan ketua dari DBC yang juga merupakan salah satu staf di Dishub Provinsi Riau.
   Bike to Work merupakan salah satu visi dan misi dari Dishub Bicycle Community (DBC). Untuk itu, setiap hari kamis seluruh anggota DBC mengaplikasikannya dengan menggunakan sepeda menuju kantor. Selain demi menjaga lingkungan untuk tetap bersih terbebas dari polusi udara, DBC sendiri juga memiliki visi dan misi lainnya. Seperti untuk mengajak seluruh staf pegawai Dinas Perhubungan (Dishub) untuk memberdayakan bersepeda, khususnya tidak hanya di Dishub Provinsi Riau saja tapi juga diseluruh Dishub yang ada dimasing-masing kabupaten kota Provinsi Riau.
“Kebetulan setiap hari kamis kami berolahraga, jadi minimal setiap hari kamis kami selalu melaksanakan program Bike to Work dengan bersepeda ke kantor,” tambah Onki Hertawan atau yang biasa dipanggil bang Onki oleh teman-temannya ini.
   Tidak hanya pada hari kamis diluar jadwal Bike to Work, Dishub Bicycle Community (DBC) juga mempunyai agenda rutin. Seperti ngumpul setiap hari minggu pagi untuk bersepeda bersama. Start dari Purna MTQ pada pukul 05.30 wib , seluruh anggota DBC melalui beberapa rute seperti ke Pelitapantai dan juga  car free day Diponegoro.
   “Paling gak kita bisa menjaga udara di pekanbaru agar tetap bersih dengan bersepeda, apalagi tahun ini bumi lancang kuning merupakan tuan rumah Pekan Olahraga Nasional atau yang biasa disingkat PON. Jadi apasalahnya kita semarakkan PON ini dengan ikut menjaga kebersihan udara pekanbaru yang selama ini dinilai tidak terlalu bersih,” terang Boyke Hendra salah satu anggota DBC.
   Ia juga menambahkan, dengan bersepeda kita juga bisa nantinya memberikan atau mewariskan anak cucu kita udara yang bersih. Sehingga kelak anak cucu kita bisa hidup dengan udara yang segar. Pastinya kedepan kota kita akan menjadi lebih sejuk untuk ditempati. (teguh-gsj/new)

0

For Us Bike Community: Fixstop, Cool and being Friendly Environmental.

Riau Pos - For Us Kamis, 02 Februari 2012

   We always hear that keeping our environment in a good condition can be defined as heir the better environment to the next generation. Yet, how’s our current generation? Do they care about their future? A better future for the environment.

   For answering that question, For Us Bike Community (FBC) talked with one of young generation whose hobby is biking, Enda (22). She’s a member of Fixie Street of Pekanbaru (Fixstop).  “At first, biking is just my hobby,” Enda said to start the conversation, Friday (20/1). But now biking is more than a need. Because our environment need us to not force them sniffing carbon dioxide (CO2) from our vehicles.
   Therefore, the members of Fixstop always go to their cool place by bike. “Cool, it means that we always go hang up at that place by bike. We don’t go there by motorbike anymore, even thought we have our own motor vehicles,” Enda, the alumni of Politeknik Caltex Riau, said.
   That guy who wants to be called Enda also told about the schedule of Fixstop gowes. There are two schedules, morning and afternoon. There are also at night, it’s on Wednesday and Friday. “About at 8 pm, we gather at Diponegoro street, near to Patung Perjuangan. After that, we go to Pruna MTQ. This place is where we can do Freestyle Fixie and say that young people also care about environment without leaving being cool”, Enda said.
   ‘We also do it in the afternoon. But the schedule is changeable. We inform the schedule internally”, added Enda. Other unique of this community is that there’s no seniority or structural organization. “For those who wants to join us, just join when we are doing Gowes. Okay?,” Enda, a contractor employee, said.
This community, that has around 70 members, also has another activity. That is, attending Car Free Day every Sunday. “Biking is an activity that can make us healthy and being friendly to environment. But, no matter how good we are at biking, we must concern and prior our safety,” Enda adviced.



1

Rumbai Riders Fixie, Mengkayuh Untuk Lingkungan

Riau Pos - For Us Minggu, 29 Januari 2012

   Salah satu cara yang dapat kita lakukan apabila ingin mengurangi polusi adalah dengan bersepeda. Rumbai Rider Fixie merupakan salah satu club sepeda yang ada di Riau khususnya Pekanbaru yang bertekad untuk tetap menjaga lingkungan terbebas dari polusi.
   Rumbai Rider Fixie sendiri baru berdiri pada tannggal 17 September 2011 silam, yang pada mulanya hanya beranggotakan 10 orang yang mana Herry Marcyanda dan Admanedi merupakan dua orang pioner dari berdirinya klub sepeda fixie ini. Basecamp Rumbai Rider Fixie sendiri yakni di Rumbai itu sendiri, tepatnya disebuah bengkel di jalan paus.
   “Terbentuknya club sepeda ini sendiri yakni berawal dari sebuah ide untuk mencegah terjadinya polusi udara, hidup sehat, ramah lingkungan dan berolahraga dengan sepeda,” jelas Herry Marcyanda yang merupakan ketua dari Rumbai Riders Fixie ini.
   Dikomandoi oleh Herry Marcyanda yang menjabat sebagai pencetus juga sekaligus ketua Rumbai Rider, club ini dari awal terbentuknya hanya terdiri dari 10 anggota. Kini club sepeda yang bisa terbilang baru ini dari waktu ke waktu telah memiliki cukup banyak anggota. Perempuan laki-laki mulai dari yang tua hingga yang muda, berbagai golongan pekerjaan tanpa mengenal kasta semua ada di club ini membaur dalam kebersamaan.
   “Filosofi nama Rumbai Riders Fixie sendiri, berasal dari daerah asal kami yang rata-rata anggotanya semua berasal dari daerah rumbai. Selain itu dibalik nama rumbai terbesit satu pesan kami kalau kami ingin menjadikan lingkungan sekitar kami terutama rumbai terbebas dari polusi,” tambah Herry Marcyanda yang juga berprofesi sebagai guru lukis ini.
   Untuk menyampaikan pesan tersebut terkadang mereka juga melakukan kegiatan lain, seperti selalu hadir di Car Free Day setiap ahad paginya. Bahkan mereka sengaja mengkayuh sepeda mereka langsung dari rumbai menuju pusat kota, tepatnya depan Hotel Aryaduta tempat dimana mereka sering berkumpul.
“Mengkayuh dari rumbai lumayan capek, tapi seru karena selain sehat kita juga bisa mengurangi dampak dari polusi apabila kita menggunakan kendaraan bermotor,” ucap Agus Subekti atau yang biasa dipanggil Boim dengan tertawa, yang merupakan salah satu anggota dari Rumbai Riders Fixie.
   Membudayakan bersepeda seperti bike to school, bike to campus dan bike to work demi untuk mengurangi polusi terutama polusi yang ada di sekitar Ruang Terbuka Hijau (RTH), merupakan salah satu visi dan misi club sepeda yang juga memiliki kegiatan untuk selalu berkumpul tiap rabu malam di Purna MTQ ini.
Meskipiun sempat tersendat dalam mengembangkan club ini, kini dengan anggota yang ada Rumbai Rider Fixie berharap dapat mengubah pandangan orang-orang untuk ikut menjaga kebersihan udara sekitarnya atau terbebas dari polusi. Salah satunya dengan bersepeda. (teguh-gsj/new)
0

Bangkitkan Lagi Sepeda “3D” Lowrider !!!

Riau Pos - For Us

   Bersepeda merupakan salah cara yang dapat kita lakukan untuk menikmati udara yang segar. Selain dapat menikmati udara yang segar, tapi kita juga bisa menikmati sebuah seni dengan sepeda yang kita gunakan.
Seiring berjalannya waktu yang semakin modern, kebanyakan orang hanya mengetahui beberapa jenis sepeda tertentu saja. Seperti Ontel, MTB dan juga Fixie, tapi ada satu jenis sepeda lagi yang mungkin jarang kita temui yakni Lowrider. Di Rumbai tepatnya dijalan Paus, terdapat sebuah bengkel yang merupakan satu-satunya bengkel di Riau khususnya Pekanbaru yang hanya membuat serta mempopulerkan jenis sepeda Lowrider.
   “Tidak hanya ramah lingkungan dan terlihat gaul, kini dengan bersepeda kita juga bisa menikmati sebuah seni. Hal itu yang dirasakan apabila menaiki jenis sepeda tertentu seperti Lowrider, Cooper dan Cruiser,” terang Admanedi yang merupakan kepala mekanik bengkel tersebut.
Awal terbentuknya sepeda ini karena adanya ide untuk mencampurkan lingkungan dengan seni, maka terbentuklah sepeda jenis Lowrider beserta komunitasnya. Komunitas sepeda ini sendiri terbentuk di tahun 2007an.
   “Kesan seni sendiri dapat diperoleh dengan bentuk sepeda yang sengaja dibuat mirip seperti motor harley. Selain itu dengan jenis sepeda seperti ini kita juga bisa berkreasi, karena kita bisa membuat model standar, stang dan juga spion sesuai dengan selera kita sendiri,” tambah Admanedi atau yang biasa disebut Nedi.
Ia juga menambahkan, Lowrider bisa juga disebut sepeda 3D (3 Dimensi). Hal ini dikarenakan Lowrider merupakan perpaduan dari tiga jenis kendaraan. Seperti perpaduan antara sepeda pada framenya, motor dan juga mobil pada bannya.
   Awalnya pengguna sepeda jenis ini cuma terdiri dari 10 orang saja, yang mana dikomandoi oleh Herry Marcyanda juga sebagai pencetus adanya sepeda tersebut. Terdiri atas tujuh sepeda jenis cooper, dua sepeda jenis lowrider dan satu sepeda jenis cruisser, semua anggotanya merupakan anak muda. Terutama mereka-mereka yang juga memiliki jiwa seni dan menjaga lingkungan agar tetap terlihat asri dan bersih, yang membaur dalam semangat kebersamaan dan juga seni.
   Jenis sepeda ini cukup langkah penggunanya, sehingga sangat sulit untuk mempromosikannya kepada orang lain. Sekalipun telah mengikuti ivent2 terutama pameran yang ada di beberapa pusat perbelanjaan di Pekanbaru, tapi tetap saja sepeda jenis ini sedikit penggunanya. Hingga pada akhirnya tahun 2010an, komunitas orang-orang yang memakai sepeda jenis lowrider inipun satu per satu menghilang.
Alasannya sedikitnya orang yang menggunakan sepeda seperti ini diantaranya biaya pembuatan yang cukup mahal, karena sepeda jenis ini tidak ada dijual dipabrik-pabrik melainkan dibuat sendiri. Selain itu jenisnya yang memanjang kebelakang juga membuat jalannya sepeda ini tidaklah bisa cepat.
   “Padahal dengan menaiki Lowrider, orang-orang bisa lebih menikmati susasana sekitarnya dibandingkan apabila menaiki sepeda yang lain. Lowrider sendiri merupakan sepeda yang disetting untuk berjalan dengan santai,” jelas Herry Marcyanda yang juga merupakan salah satu guru lukis ini.
   Ia juga menambahkan untuk membuat satu sepeda lowwrider, terkadang ia beserta teman-temannya juga melakukan daur ulang limbah. Seperti memanfatkan limbah ban dan besi bekas dalam proses pengerjaan sepeda yang akan dibuat.
   Kini diawal tahun 2011, dengan makin banyaknya pengguna sepeda di Riau khususnya Pekanbaru, Herry Marcyanda dan Admanedi beserta beberapa temannya yang lain bertekad untuk kembali menghidupkan komunitas sepeda jenis Lowrider. Menjadikan jenis sepeda ini diketahui orang banyak dan juga digunakan oleh orang banyak seperti jenis sepeda yang lainnya. (teguh-gsj/new)
0

CMBC, Asiknya Menelusuri Bukit dengan Berepeda

Riau Pos - For Us Selasa, 24 Januari 2012

   Menelusuri bukit atau gunung dengan bersepeda sudah biasa, namun menelusuri bukit dengan sepeda gunung (MTB) dapat membuat kita memperoleh sesuatu yang baru. Challenger Mountain Bike Club atau yang biasa disebut CMBC Pekanbaru merupakan salah satu klub sepeda gunung (MTB) yang dapat menyalurkannnya, club ini ada Indonesia khususnya Pekanbaru.
   “CMBC sendiri berdiri pada tannggal 12 Mei 2004 yang pada mulanya hanya beranggotakan 10 orang yan gmana Suyatno dan Syaiful merupakan dua orang pioner dari berdirinya klub sepeda gunung ini,” jelas Edward yang merupakan ketua ke III CMBC yang kini menjabat sebagai penasehat.
Dikomandoi oleh Robin Gunawan yang kini memegang tongkat estafet ke VI ketua CMBC, club ini dari waktu ke waktu telah memiliki cukup banyak anggota. Mulai dari yang tua hingga yang muda, mulai dari eksekutif muda sampai berbagai golongan pekerjaan tanpa mengenal kasta semua ada di club ini membaur dalam kebersamaan.
   Selain demi menjaga lingkungan untuk tetap bersih terbebas dari polusi, CMBC sendiri memiliki visi dan misi dalam setiap tahunnya, seperti untuk terus berjuang menjadi club sepeda gunung (MTB) terbaik khususnya di kota Pekanbaru.
   “Misi kami yakni membina kegiatan bersepeda, khususnya sepeda gunung. Selain itu kami juga ingin mengajak masyarakat untuk memasyarakatkan kegiatan bersepeda seperti Bike to Work, Bike to School maupun Bike to Campus,” tambah Edward yang merupakan asli kelahiran Palembang ini.
   Tenayan, Rumbai dan Alamayang merupakan rute dalam kota yang sering ditempuh anggota CMBC. Selain berkumpul pada setiap hari minggu pagi di car free day dengan beroff road ria, setiap 3 atau 4 bulan sekali CMBC juga melakukakan aktifitas keluar kota. Seperti melakukan touring ke luar kota menjajal single track di Sumatera Barat terutama kota Payakumbuh ataupun Bukit Tinggi.
   Track Gunung Sago, Track Gunung Singgalang dan Manggilang merupakan salah satu lokasi yang sering dipilih setiap melakukan touring. Hal ini dipilih karena rata-rata track sendiri hampir 90 persennnya merupakan offroad, seperti menyebarang sungai, menobros semak-semak, melewati lembah dan terutama mendaki tanjakan curam.
   Challenger Mountain Bike Club sendiri merupakan salah atu club sepeda yang juga sangat perduli terhadap lingkungan sekitar, seperti pada tahun 2007 saat Sungai Siak meluap dimana CMBC melakukan bakti sosial. Selain itu setiap melakukan touring, club sepeda ini sangat menjaga kebersihan lingkungan sekitar mereka. Salah satunya dengan membawa perbekalan seperti nasi yang hanya dibungkusi dengan daun pisang, biasa nasi ini disebut nasi berburu, sehingga tidak menimbulkan sampah baru.
   “Berbeda jika kita membawa nasi bungkus setiap mendaki gunung, sampah plastik yang ada pasti akan sulit terurai bahkan bisa bertahun-tahun lamanya, karena itu kami memerintahkan setiap anggota untuk hanya membawa perbekalan berupa nasi berburu yang hanya dibungkusi daun pisang,” lajut Edward pria kelahiran 40 tahun silam ini.
   Challenger Mountai Bike Club sendiri sudah cukup terkenal, hal ini dibuktikan dengan dipercayanya anggota CMBC untuk ikut serta melakukan survey track sepeda gunung untuk acara Petualang  yang diselenggarakan oleh salah satu stasiun TV swasta yang ada di Indonesia.
   Semoga saja dengan adanya club sepeda seperti ini, kelak ke depannya akan banyak masyarakat yang lebih memasyarakatkan budaya bersepeda dan akan lebih memperdulikan lingkungan alam sekitarnya, terutama Challenger Mountain Bike Club sendiri yang akan lebih peduli terhadap keindahan dan juga kelestarian alam terutama perbukitan ataupun pegunungan.
1

Fixstop, Gaul dan Tetap Ramah Lingkungan

Riau Pos - For Us


   Sering kita mendengar ungkapan bahwa menjaga lingkungan saat ini berarti mewariskan lingkungan yang lebih baik untuk generasi muda di masa depan. Namun bagaimana dengan generasi muda sekarang? Pedulikah mereka dengan masa depan sendiri? Masa depan dengan lingkungan yang lebih baik.
   Menjawab hal itu, For Us Bike Community (FBC) berbincang dengan perwakilan generasi muda yang hobi bersepeda, Enda (22). Ia merupakan anggota Fixie Street of Pekanbaru (Fixstop). “Awalnya bersepeda karena hobi,” tutur Enda memulai perbincangan, Jumat (20/1). Namun, tambahnya, sekarang bersepeda lebih kepada kebutuhan. Karena lingkungan kita membutuhkan kita untuk tidak memaksa mereka (lingkungan, red) menghirup karbon dioksida (CO2) dari kendaraan yang kita pakai.
   Oleh karena itu, para anggota Fixstop selalu memakai sepeda untuk pergi ketempat gaul mereka. “yah, gaul dengan sepeda berarti kita pergi main ke tempat-tempat nokrong itu sambil bersepeda. Gak pake kendaraan bermotor lagi. Sekalipun kita punya,” ujar Alumni Politeknik Caltex Riau itu.
   Pria yang hanya menginginkan disebut dengan nama Enda itu juga menceritakan tentang jadwal Fixstop gowes.  Ada dua jadwal, pertama siang dan sore hari. Jadwal Fixstop gowes malam adalah Rabu dan Jumat malam. “Malam sekitar jam delapan kita akan berkumpul dulu di Jalan Diponegoro tepatnya di depan patung perjuangan, kemudian setelah dirasa oke, kita akan jalan ke pruna MTQ. Di sanalah tempat kita bisa latihan freestyle Fixie sambil ngungkapin, anak muda juga bisa jaga lingkungan tanpa ketinggalan untuk gaul,” terang Enda.
   Jadwal kedua dilakukan pada sore hari. Namun ini tidak tentu, setelah jadwal sore biasanya kita akan informasikan secara internal, tambah Enda. Hal unik lain dari komunitas ini adalah tidak adanya hirearki senioritas atau struktur organisasi baku. “Siapa yang gabung, ikut aja pas kita lagi gowes, udah deh, gabung sama kita,” tutur karyawan kontraktor itu.
   Kegiatan lain komunitas dengan anggota sekitar  70 tersebut juga selalu hadir di Car Free Day setiap Ahadnya. “Bersepeda merupakan aktivitas yang menyehatkan dan ramah lingkungan. Namun semahir apapun kita bersepeda, harus tetap utamakan keselamatan (safety),” pesan Enda.(tya-gsj)
0

Cara mengajak teman menjaga lingkungan: Tanaman Dapur

Riau Pos - For Us Senin, 16 Januari 2012


Teman, ketika kita bicara soal lingkungan, maka kita akan berbicara sesuatu yang sangat urgen. Sebab sisi mana dari lingkungan yang saat ini yang masih baik? Susah untuk menyebutkannya.
Bagaimana cara saya mengajak temen-teman saya menjaga lingkungan? Saya belumlah melakukan yang terbaik namun saya kerap mengajak teman saya untuk menanam tanaman yang bermanfaat di pekarangan atau di pot-pot bungan dekat rumah. Misal, kalau dirumah, saya pribadi lebih suka menanam tanaman-tanaman yang bermanfaat bisa seperti cabe, terong, pepaya, dan masih banyak lagi.
Namun saya hanya menyarankan kepada mereka. Walau kadang dibilang aneh. Karena kata mereka “Tanaman pelindung kek saranin, ini malah tanaman dapur. Kayak mak-mak aja”. So, di sini saya mengajak teman-teman semua jika kalian memiliki jiwa keindahan, nilai estetika yang tinggi, bisa juga menanam sejenis bunga-bungaan.
Pokoknya tanamlah sesuai hobi atau kesukaan. Ibarat kata penulis ”tulislah apa yang menjadi hobi Anda”. Ungkapan ini juga bisa kita terapkan untuk menjaga lingkungan kita.
Ok, sekarang kalian juga boleh memandang aku aneh. Karena aku suka nyinyir mengingatkan teman-temanku untuk disiplin membuang sampah. Ya, sampah adalah sesuatu yang tidak mengasyikkan. Tapi ia selalu ada. Ia ada juga karena aktifitas manusia itu sendiri. Nah, apabila manusia tidak sadar akan akibat yang dihasilkan oleh ketidakpeduliannya terhadap sampah, maka alamat manusia itu pula yang akan mendapatkan balasannya. Risih kan?
So, ada langkah simple yang sering aku ajarkan pada teman-temanku. Pertama, menyediakan di tempat tinggal masing-masing sarana pembuangan sampah sendiri. Misal, dengan membuat tempat pembuangan sampah yang menarik dan unik. Seperti memanfaatkan drum bekas, atau membuat lubang pembuangan sendiri. Tapi intinya, adalah disiplin. Jika disekitar tempat tinggal kita ada Tempat Pembuanagan Sampah (TPS), maka disiplinlah untuk memanfaatkannya. Jangan membiarkan sampah berserakan disekitar pekarangan rumah. Selain menimbulkan penyakit, ia juga akan membuat polusi udara.
Lalu, apa lagi yang bisa kita lakukan? Yaitu, bijaksana dalam penggunaan sumber-sumber energi. Seperti penghematan dalam memakai listrik. Kita harus peduli dan memperhatikan penggunaan listrik kita. Misalnya teman-teman yang tinggal di kos-kosan, sebaiknya harus lebih memperhatikan kapan listrik harus hidup dan kapan harus sudah mati.
Nah teman-teman, seiring dengan perkembangan teknologi, satu hal lagi yang tidak bisa kita pungkiri kehadirannya di tengah-tengah kita adalah personal computer (PC) dan juga laptop. Penghematan dalam menggunakannya adalah merupakan salah satu kepedulian terhadap lingkungan kita.
Kata A’a Gym, semuanya dilakukan dengan 3M. mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, dan mulai dari sekarang alias action.
Istilah A’a Gym ini ternyata juga bisa kita terapkan untuk menjaga lingkungan. Pertama dari diri kita sendiri. Kalau kesadaran pribadi telah terwujud, maka semuanya tidak akan sulit. Dari hal yang kecil. Kita mulai dari lingkungan kita masing-masing, dari rumah kita sendiri. Dimulai dari sekarang. Seringkali yang menjadi penyakit kita adalah menunda-nunda. Jika setiap orang mengamalkan prinsip 3M ini, dan dipadukan dengan tiga cara yang penulis tawarkan diatas tadi, bukan tidak mungkin akan tercipta lingkungan kita yang nyaman dan segar.
Teman-teman yang telah melakukan langkah-langkah diatas perlu kita contoh, bagi remaja yang mempunyai semangat muda, sudah saatnya menanamkan rasa cinta terhadap lingkungan masing-masing. Ketika cinta lingkungan telah bersemi, maka Indonesia akan terbebas dari polusi. Mari menuju Indonesia cinta lingkungan.

Hendri, a.n
0

Cara Unik Jaga Lingkungan: Program Lingkungan yang Aplikatif (Andes): Menanam dan Pelihara Pohon

Riau Pos - For Us Senin, 09 Januari 2012


     SEBUAH artikel di JPNN mengabarkan tentang sebuah program lingkungan dari Pemda Lombok Barat tentang cara mereka mengajak masyarakat agar mau turut serta dalam melestarikan hutan. Bupati Lombok Barat memberikan syarat khusus bagi muda-mudi yang ingin melangsungkan perkawinan. Dua mempelai itu diharuskan sudah menanam dan merawat sekurang-kurangnya dua batang pohon agar bisa dinikahkan oleh penghulu sekaligus tercatat di KUA. Program itu disebut dengan program Wedding Trees atau Pohon Perkawinan

     Hasilnya sejak dicanangkan program wedding trees ini telah berhasil menanam kurang lebih 25 ribu pohon. Inilah yang menjadi salah satu alasan Kementerian Kehutanan menobatkan Lobar sebagai juara tiga dalam program Penanaman Satu Milyar Pohon 2011 lalu. Hingga pihaknya dan masyarakat Lombok Barat telah berhasil menanam dan merawat sekitar 5,6 juta batang pohon. Selain dengan masyarakat lokal, mereka juga dukungan oleh sejumlah pihak termasuk para penggiat lingkungan dan NGO asing.


     Dan, lebih mengagumkannya, Pemda Lombok Barat juga membuat Peraturan Daerah (Perda) Jasa Lingkungan, yang mengharuskan setiap pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Lombok Barat untuk menyisihkan 1.000 rupiah saat membayar tagihan bulanan. Dana ini kemudian digunakan untuk pelestarian daerah hulu mata air. Bahkan Perda tersebut menjadi rujukan bagi daerah lain di Indonesia dalam melakukan konservasi hutan dan air.


     Menurut saya, program ini menjadi hal yang dapat dicontoh oleh Pemda Riau. Bukan hanya Pekanbaru, namun seluruh kabupaten/kota yang ada di Riau. Ehm… mungkin sedikit dimodifikasi sesuai dengan daerah masing-masing, tak apalah. Jangan terlalu mencontek betul. Lagi pula mencontek hal yang baik, juga membuat kita ikut baik.


     Misalnya modifikasi, jika di Lombok Barat itu adalah wedding trees. Tentang pengantin. Maka bagaimana kalau di Riau diwujudkan kepada para Pegawai Negeri Sipil dan Swasta. Jadi setiap PNS atau Calon PNS jika hendak diterima menjadi PNS maka salah satu syarat penerimaannya adalah harus sudah menanam dan memelihara minimal satu pohon di rumah atau di tempat tertentu.


     Ini juga berlaku untuk perusahaan swasta dan badan usaha milik nasional atau daerah. Jika ingin menerima karyawan lain, bikin peraturan bahwa mereka harus sudah menanam atau memelihara minimal satu pohon meskipun bukan di halaman rumahnya atau di tanah mereka sendiri. Tapi adalah satu pohon, terserah di mana saja. Namun catatan harus masih dalam lingkup wilayah kabupaten kota tersebut.


     Saya rasa hal ini cukup mudah dan sederhana untuk diterapkan di Riau. Apalagi Riau dalam program Green PON dan Green Riaunya ingin mengajak masyarakat turut serta dalam setiap aksi menjaga lingkungan. Jadi kenapa tidak, menanam pohon kita jadikan kewajiban, bukan lagi hanya sekedar ajakan saja.


     Selain itu, kegiatan ini juga efektif dalam penanaman pohon. Sebab masyarakat tidak hanya menanam. Kemudian ditinggal begitu saja, tanpa perawatan apapun. Yang dihitung berapa banyak bibit yang ditanam. Padahal hal tersebut salah. Bagaimana bisa hijau jika habis ditanam tidak dirawat. Pohon pasti akan mati, baik karena kekurangan air atau karena hal teknis lainnya.


     Memelihara, itulah kuncinya. Sebab peraturan itu jelas menyatakan harus menanam dan memelihara. Jadi secara otomatis. Pohon yang ditanam oleh seseorang juga sekaligus akan menjadi peliharaannya dia. Ini bisa menjadi kunci keberhasilan penanam pohon di daerah-daerah. Dan proses penanaman pohon bukan hanya sekedar ceremonial belaka. Serukan?***
0

Cara Unik Jaga Lingkungan: Haniva Sekar Deanty, Berbuah dan Oksigen

Riau Pos - For Us Senin, 02 Januari 2012




    Hai teman-teman, nama saya Haniva Sekar Deanty. Teman-teman bisa memanggil saya Dea. Saya duduk di kelas 8.5, SMP Islam As-Shofa Pekanbaru. Saya punya cerita tentang tanaman berbuah. Saya punya pohon mangga di rumah. Dan setelah pohon tersebut berbuah, saya selama sebulan tidak membeli mangga di pasar buah. Saya hanya memetik buah mangga saya dan hasilnya sangat memuaskan.

      Selain menghemat pengeluaran rumah tangga. Mangga yang bagus juga bisa dijual dan kita akan mendapat uang yang bisa kita pergunakan. Bukan hanya itu, tanaman berbuah juga dapat menghasilkan keuntungan yang lain selain misalnya oksigen. Udara disekitar rumah juga jadi segar, segar dan asri. Kamu punya tanaman apa di rumah?***

      Horee sudah tahun baru! Tak terasa ya waktu berlalu. Nah, berhubung sekarang tahun baru maka rubrik The Young Hero mau mengumumkan pemenang untuk edisi cara unik dalam menjaga lingkungan. Duh, penasaran ya!
     Nah, baiklah dari pada lama menunggu langsung saja kita umumkan pemenang untuk Cara Unik dalam Menjaga Lingkungan yakni Haniva Sekar Deanty. Sobat kecil kita yang satu ini sekarang sekolah di SMP Islam As-Shofa Pekanbaru. Haniva mengirim tulisan dengan judul Berbuah dan Oksigen. Isi tulisannya tentang keuntungan memiliki tanaman buah di rumah yang mana selain membuat udara sekitar rumah jadi segar dan asri juga menghasilkan buah yang bisa dinikmati oleh kita. Selamat ya Haniva... !

     Dan untuk edisi berikutnya, The Young Hero masih mengusung tema yang sama yakni Cara Unik Kamu dalam Menjaga Lingkungan! Nah, bagi siswa SD dan SMP sederajat segera kirimkan tulisan kalian ke email gsj.ripos@gmail.com, ditunggu ya!

0

Cara Unik Jaga Lingkungan: Peduli Masa Depan Sendiri

Riau Pos - For Us Minggu, 01 Januari 2012

Resty Ika Prahesti
Mahasiswa Pendidikan Kimia
UIN Suska Riau

Setiap orang selalu menyerukan untuk saling menjaga lingkungan. Sudah kah Anda memulainya? Ironisnya kadang kita hanya omdo alias omong doang. Jadi menjaga lingkungan kita ini mulai dari diri sendiri.

Kalian sering liat nggak sih, orang-orang yang bermobil (mengendarai atau memiliki mobil sendiri). Nah ketika mengemudi mobil dengan laju maksimum, seenakknya dan arogan (catatan bukannya saya jelous sama mereka ya) eh… tiba-tiba syuutt… membuang sampah sembarangan dari dalam mobilnya yang sedang melaju tersebut. Dan itu terjadi di depan mata kalian. Nggak banget deh!

Kalau semua orang yang memiliki mobil seperti itu, penuh tuh jalan raya dengan sampah. Katanya orang modern dengan kendaraan paling mutakhir abad ini. Tapi kok otak mereka nggak mengatakan hal yang sama ya?

Solusinya menurut saya simple aja kok. Misalnya siapin sendiri tong sampah di dalam mobil. Nah buang tuh sampah yang memang ke tempatnya. Bukan ke jalanan macam orang yang tidak beretika begitu. Plus kalo tong sampahnya sudah penuh dan kalian sedang mengemudi, mampir bentar ke pom bensin dan buang sampah yang sudah penuh di tempatnya tersebut ke tong sampah umum di pom bensin.
Easy kan?

Selain tentang etika berkendara dan sampah-sampah nggak pentingnya. Adalagi nih gadget yang sangat digemari orang-orang, notebook. Notebook barang mewah, tapi itu dulu. Sekarang notebook sudah menjadi barang primer alias kebutuhan. Tapi ada hal yang sering aku temui.
Dan ini biasanya berhubungan dengan kebiasaan buruk.

Seringkali para pengguna notebook membiarkan laptop atau perelengkapan mereka tersebut tidak terpakai dengan power masih menyala, program masih jalan dalam kondisi yang sangat lama bahkan hingga semalam suntuk. Ini jelas nggak bagus banget kan? Boros listrik. Katanya mau hemat energi tapi kok masih suka membiarkan power laptop nyala begitu lucunya malah ditinggal tidur. Udah gitu, paparan elektron atau radiasi bisa menimbulkan efek negatif kepada orang yang ada didekatnya. Apalagi kepada kita yang lagi tidur di dekat laptop yang tengah menyala. Plus itu juga berbahaya bagi ozon kita. So, pake aja deh segala sesuatu itu sesuai dengan kebutuhan. Sama dengan pemakaian lampu. Nyalakan saja mana yang perlu. Tapi jangan salah, ini bukan berarti aku menyuruh kalian ke tempat yang remang-remangnya. Ketawa amat keras (KAK).

By the way, kalau boleh curhat nih. Aku selalu bosan dengan jawaban-jawaban dari cowok-cowok yang bilang kalau nggak ngerokok itu nggak keren. Tapi bagi aku cowok yang nggak ngerokok itulah yang keren. Karena dia nggak ikut-ikutan mencemari udara. Dan, kalau dia disamping kita dia nggak akan kasih penyakit ke kita. Udah tahu dong, kalau perokok pasif itu (orang yang tidak merokok) lebih rentan terkena penyakit berbahaya (khususnya untuk efek-efek negatif merokok) daripada perokok aktif. Itulah alasan aku kenapa cowok gak ngerokok itu keren. Tanpa merokok dia telah menjaga kesehatan dirinya, menjaga kita para cewek-cewek dari bahaya menjadi perokok pasif. Dan yang pasti bisa menjaga lingkungan juga dengan menjadikan udara bersih tanpa asap rokok.

Itu semua ide-ide dari aku tentang menjaga lingkungan. Sesuatu yang menurut kita terkadang biasaaaa banget. Namun kadang alam menyatakan lain. So sebagai generasi muda, jangan hanya generasi tua yang peduli dengan kita. Kita juga harus peduli dengan masa depan kita sendiri.***
0

Green Teacher: Menonton Film dan Seminar

Riau Pos - For Us Senin, 26 Desember 2011


Siti Aminah S Pd
Guru Bahasa Inggris
SMKN 1 XIII Koto Kampar



Bagi saya, lingkungan itu nomor satu. Karena kita hidup di lingkungan. Lingkungan yang kita miliki sekarang ini hanya satu. Tuhan hanya menganugerahkan satu bumi kepada manusia. Meskipun banyak upaya oleh para ahli astronomi atau angkasa untuk mencari planet pengganti bumi. Namun hingga saat ini belum ditemukan yang benar-benar sama. Subhanallah ciptaan Allah SWT.
Kendatipun persoalan lingkungan tengah kritis-kritsinya namun masih banyak orang menyepelekan persoalan lingkungan ini, memang agak sulit untuk membangkitkan kesadaran mereka untuk menjaga lingkungan. Di sekolah sembari berkumpul, saya sempatkan untuk mengajak rekan-rekan sesama guru untuk menjaga kebersihan lingkungan. Selalu mengingatkan para siswa untuk selalu menghargai tempat mereka bernaung. Karena di sana mereka bisa melanjutkan hidup.
Polemik bangsa kita saat ini adalah perusak lingkungan yang terdiri dari stakeholder atau para pembuat keputusan. Mereka yang seharusnya menghasilkan keputusan baik untuk masyarakat umum malah sebaliknya menghasilkan keputusan untuk kepentingan kelompok dan diri mereka pribadi.
Ironis memang. Namun sebagai seorang guru, adalah tugas kita untuk melindungi generasi muda dari berbagai ancaman yang datang dari orang-orang seperti itu. Memutuskan rantai perusak lingkungan adalah tugas para pendidik. Sebab rantai tersebut akan bisa putus jika kita mendidik karakter anak bangsa dengan prilaku dan pola pikir yang mencintai lingkungan.
Untuk menciptakan kesadaran menjaga lingkungan terhadap anak-anak didik bisa di lakukan dengan memberikan pengetahuan tentang penyakit-penyakit yang bisa diakibatkan oleh lingkungan yg kotor ataupun bahaya-bahay bencana yang bisa ditimbulkan oleh lingkunagn yang kotor. yah... itu semua memang tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan, tapi itulah tugas yang diemban sebagai seorang guru untuk selalu mengingatkan siswa-siswi kita!
Selain itu, cara menjaga lingkungan yang bisa diterapkan oleh para siswa bisa dengan, mendaur ulang. Sebagai wali kelas atau guru kita harus kreatif, misalnya dengan    memanfaatkan bekas kemasan minuman yang kita beli seperti botol air mineral dan sejenisnya menjadi pohon hias ruangan, atau menjadi bunga hias, dan kreasi-kreasi kreatif lainnya.
Ini sudah kami terapkan di Kelas XI Agribisnis Produksi Tanaman yang kebetulan saya sendiri yang jadi wali kelasnya. Selain kelas menjadi Indah, juga bisa menciptakan kesadaran kebersihan lingkungan kepada siswa.
Cara berikutnya adalah dengan dengan mengadakan acara nonton bareng di sekolah yang bertemakan bencana alam akibat ulah manusia yang tidak menjaga lingkungan. Percaya atau tidak, film merupakan media pendidikan yang cukup efektif untuk meningkatkan kesadaran siswa-siswi. Karena melalui film siswa-siswi melihat langsung bagaimana kondisi lingkungan hancur oleh akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab.
Jalan berikutnya dengan mengadakan seminar-seminar yang bertemakan tentang lingkungan. Seperti hari Sabtu kemarin tanggal 18 Desember 2011, sekolah kami kedatangan tamu istimewa dari Daerah Aliran Sungai (DAS) yang mensosialisasikan perubahan cuaca. Mereka membahas berbagai macam dampak lingkungan yang kotor dan cara pencegahannya.
Melalui seminar tersebut siswa-siswi jadi belajar langsung dari para ahlinya. Kami guru-guru juga merasa sangat senang karena terbantu dalam menerapkan pola pikir ramah lingkungan kepada para siswa kami.
Begitulah yang bisa kita lakukan untuk menjadikan generasi muda kita generasi yang baik terhadap lingkungan. Kepentingan manusia untuk mengeksplorasi lingkungan mungkin memang tinggi. Namun kepentingan itu akan menjerat leher manusia sendiri jika tidak dicapai dengan cara baik-baik. Lingkungan harus dijaga dari kepentingan para serakah dan perusak.***
0

Cara Unik Jaga Lingkungan: Ubah Kebiasaan

Riau Pos - For Us


Stephanie Anggun Mering
SMA Cendana Pekanbaru


Tak pernah terlintas di pikiran saya akan masa depan bumi ini setelah 50 tahun ke depan. Bila kini banyak orang yang bersikap acuh tak acuh terhadap lingkungan dan sumber daya yang terkandung di dalamnya. Pernahkah kita berpikir akan kelangsungan hidup anak cucu kita dengan lingkungan dan sumber daya yang mungkin sudah sangat menipis karena telah habis terpakai oleh kita?
Ketika saya mengikuti seminar tentang topik lingkungan, saya sadar akan satu hal, ternyata selama ini kita telah mewariskan neraka bagi anak cucu kita. Segala sumber daya kita pakai secara habis-habisan. Dengan melesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi, bukannya manusia dapat memanfaatkannya untuk masa depan yang baik. Sekarang malah banyak manusia yang menyalahgunakan kemajuan tersebut untuk memakai hasil alam tanpa mengenal batas. Beberapa oknum-oknum yang tidak bertangung jawab hanya dapat memakai, kemudian ditinggalkannya dalam keadaan rusak, seperti kata pepatah “habis manis, sepah dibuang.”
Mungkin pada saat itu manusia dapat menikmati semua sumber daya secara bebas.Namun pada suatu hari nanti, mungkin 50 tahun mendatang, semua itu akan berhenti di satu titik puncak dimana bumi telah kehabisan segala suatunya. Di titik itulah manusia akan menyesal akan perbuatannya di hari-hari sebelumnya. Bayangkan anak cucu kita nanti, mungkin saja di masa-masa mereka air sudah menjadi salah satu sumber daya yang sangat langka. Air yang sekarang selalu dipandang sepele orang banyak itu mungkin saja akan menjadi emas yang berharga di kemudian hari.
Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menyelamatkan bumi kita ini. Mulai dari kebiasaan kecil contohnya seperti menghemat air dan menghemat segala sesuatu yang biasa kita pakai dalam kegiatan sehari-hari. Selain menipisnya Sumber Daya Alam (SDA), perusakan lapisan ozon bumi juga semakin lama semakin parah. Tak pernah kita sadari bahwa ada beberapa kelakuan kita yang secara sengaja maupun tidak sengaja telah merusak lapisan pelindung bumi. Ada pula dampak-dampak yang mungkin terjadi bila lapisan ozon semakin menipis. Contohnya saja terjadi penaikan suhu dari suhu normal suatu tempat. Kota kita pun sempat mengalami penaikan suhu dari suhu normalnya, yaitu 300C. Penaikan suhu ini tergolong dampak-dampak yang masih biasa.  
Bayangkan, apa yang akan terjadi di tahun-tahun berikutnya bila kita terus melakukan kegiatan yang selalu merugikan bumi kita. Mungkin orang-orang akan banyak yang terjangkit penyakit atau bahkan mati karena permasalahan tersebut. Contohnya saja kanker kulit, sinar Ultra Violet (UV) B yang datang akibat menipisnya lapisan ozon bumi dapat mengakibatkan kanker kulit bila kulit seseorang terlalu lama terpampang oleh sinar tersebut.
Terlalu banyak permasalahan di bumi ini. Permasalahan tersebut terjadi akibat tingkah laku manusia yang seenaknya sendiri. Kita selalu melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang, maka dari itu mulai dari sekarang. Selamatkanlah bumi kita demi masa depan anak cucu kita. Janganlah wariskan neraka pada mereka. Mari lakukan kegiatan-kegiatan positif yang bermula dari hal-hal yang kecil, karena dengan melakukan hal-hal kecil tersebut,berarti kita telah menyelamatkan sepersekian persen dari kerusakan bumi kita.
So, nggak kalah gaul kan? Mengubah kebiasaan dengan lebih ramah pada lingkungan bisa memperpanjang usia bumi. Kalian pilih yang mana? Gaul dengan cara merusak diri dan lingkungan serta mewariskan neraka kepada anak cucu kita. Or, Save the world for a better future!***

0

Cara Unik Jaga Lingkungan: Sentuhan Kreativitas

Riau Pos - For Us Selasa, 20 Desember 2011




Paradigma sekarang tentang anak muda yang identik dengan kebebasan berekspresi  sepertinya patut diacungi jempol. Karena dengan adanya hal itu dapat memacu munculnya kreativitas anak muda yang terbiasa atau membiasakan dirinya berfikir di luar kotak (out of box), yaitu mencoba menembus batas-batas pikiran yang biasanya diakui oleh orang-orang kebanyakan.
Pola pikir seperti ini terbukti mampu memberikan benefit di bidang industri kreatif yang tidak mengesampingkan faktor perubahan pada lingkungan. Bahkan bisa dikatakan bahwa kondisi lingkungan dan kekhawatiran manusia menjadi sebuah inspirasi penuh bagi pelaku industri kreatif untuk bisa tampil di publik. Sebagai contohnya, ada beberapa industri sepatu berskala rumahan yang tentunya dimotori oleh anak muda lahir dari sisa-sisa potongan kain batik yang melahirkan produk sepatu berkualitas dan punya gaya. Lalu ada industri tas dan dompet yang lahir dari sisa-sisa wallpaper juga pada dasarnya mempunyai pola pikir yang sama, yaitu jika sisa-sisa benda tersebut dibuang maka sudah pasti akan menjadi limbah yang mengganggu lingkungan, daripada dibuang lebih baik dimanfaatkan.
            Adanya contoh-contoh sederhana tersebut rasanya patut kita jadikan teladan dalam hal menjaga lingkungan. Apa lagi jika kita mampu menghasilkan produk yang bagus tentu saja hal ini dapat mengangkat perekonomian kita pribadi. Faktor yang dirasa cukup penting saat kita mencoba untuk berkarya dari sisa-sisa barang bekas adalah dengan tidak melakukan plagiarism.
Kebanyakan dari mereka yang berkecimpung di dunia ini adalah dengan melihat kondisi di lingkungan sekitar mereka pribadi. Kita juga bisa mulai dari lingkungan sekitar kita, apa yang ada dan apa yang bisa kita perbuat. Kita yang sudah jengah dengan prilaku sekumpulan orang yang sama sekali tidak peduli dengan keadaan lingkungan, dan butuh cara baru untuk memberikan perubahan di publik mungkin bisa memilih cara ini dengan memproduksi suatu barang menjadi alternative kampanye kita terhadap lingkungan. Dengan demikian, orang-orang yang dahulunya tidak peduli sekalipun, secara tidak langsung ternyata juga mendukung soft campaign yang kita lakukan.
            Hal tersebut diatas sebagai sebagai gambaran jika kita memposisikan diri sebagai calon produsen untuk suatu produk ramah lingkungan. Namun partisipasi kita lebih sederhana lagi jika kita memposisikan diri sebagai konsumen produk ramah lingkungan, cukup dengan menggunakan produk-produk tersebut. Selain terlibat secara tidak langsung terhadap soft campaign dari produsen, kita juga turut serta dalam kampanye cinta produk dalam negeri, dan tetap mempertahankan keberlangsungan usaha kecil menengah di Indonesia. Ditambah lagi jika produk yang dibeli adalah produk fashion yang memang diproduksi khusus dengan target pasar anak muda. Benar-benar sebuah efek domino yang positif, bukan?
            Hal itu kemudian akan menjadi cara gaul dalam menjaga lingkungan. Sebab dalam mengembangkan produknya tentu produsen melihat selera pasar namun mereka juga harus idealis terhadap upaya penyelamatan lingkungan. Dengan cara seperti ini, tidak terasa baik produsen maupun konsumen telah ramah terhadap lingkungan. Apalagi jika kemudian, produsen sengaja menyisipkan pesan-pesan lingkungan terhadap produk-produk mereka. Lihatlah bahwa go green telah menjadi gaya hidup. Bukan hanya bagi beberapa kalangan. Namun anak muda atau remaja yang ingin punya citra bagus dilingkungannya mereka harus mengetahui apa itu semangat go gree. Pergeseran makna gaul tersebut dari yang tadinya identik dengan hura-hura sekarang lebih kepada go green merupakan kemajuan. Tapi jangan lupa sentuhan kreativitas itu perlu.



Teguh Budianto
Mahasiswa UIN Sultan Syarif Kasim Riau

0

Green Teacher: Ajarkan Kearifan Lokal

Riau Pos - For Us





Masyarakat Indonesia merupakan bagian dari rumpun besar melayu dunia. Kita memiliki beranekaragaman kebudayaan dan adat istiadat. Riau tidak kalah dengan daerah-daerah lain. Riau kaya akan kearifan lokal yang menjadi budaya dan tata prilaku masyarakatnya. Kearifan tersebut berlaku bukan hanya antara manusia. Namun juga menjadi sebuah khasanah hidup bagi hubungan dengan Tuhan dan alam.
Kearifan masyarakat Melayu Riau terhadap alam tak terperi dan terbilang bijaknya. Kita memiliki pendahulu/nenek moyang yang sangat santun menyikapi alam. Mereka berkebun, mereka bertani namun mereka tidak pernah mengeksploitasi. Mereka memelihara, mencintai, menyanyangi dan mengasihi. Mereka menjadikan alam sahabat. Bagi mereka jika alam kesakitan maka manusia akan lebih sakit menanggung akibatnya.
Itu gambaran tentang penghargaan pendahulu kita kepada alam. Alam diibaratkan sebagai sumber daya namun juga sumber bencana. Oleh karena itu jika manusia mampu mengelola alam tersebut tanpa merusak keseimbangannya antara sumber daya dan bencana. Ia akan menjadi kehidupan bagi manusia. Begitu juga sebaliknya alam akan menjadi bencana jika sumber daya yang dikandungnya dikuras habis, sebab alam juga butuh diri mereka sendiri untuk mampu memenuhi kebutuhan manusia.
Ajaran kearifan lokal dari leluhur kita tentang alam. Saat ini seolah sebagai ajaran kuno namun tidak klasik. Karena kalau klasik masih banyak orang yang mengincarnya untuk dijadikan pelajaran alih-alih dikoleksi. Barang kuno adalah barang yang tidak lagi berguna untuk saat ini. Karena sudah ada barang modern sebagai penggantinya yang ”mungkin” lebih canggih. Namun apakah kecanggihan itu ramah terhadap alam?
Menelaah ini, adalah tugas para pengajar, bukan hanya guru di sekolah namun juga orangtua dan masyarakat di lingkungan siswa untuk mengingatkan siswa atau anak-anak kita bahwa Riau punya kearifan terhadap alam.
Nenek moyang orang Riau memiliki sudut padang berkelanjutan terhadap pengelolaan alam. Meski sekalipun mereka tidak mengenal apa itu global warming, apa itu perubahan iklim. Sebab mereka memahami bahwa jika alam rusak manusialah yang akan menanggung akibatnya. Ini secara jelas juga tercantum dalam kitab suci al-quran.
Sekarang para siswa kita diajarkan tentang berbagai ilmu. Mulai dari ilmu sosial, alam, etika dan sebagainya yang semuanya bernafaskan modernisasi. Namun muatan lokal hanya menggambarkan tentang budaya. Padahal dalam mata pelajaran ini termakhtub kearifan yang bisa digali oleh para guru sebagai bagian dari manusia melayu Riau seutuhnya. Manusia peduli alam.
            Mengajarkan siswa kearifan lokal menjadi hal yang krusial saat ini. Sebab sudah saatnya kita kembali pada kearifan yang kita miliki, kearifan lokal yang peduli kepada ala. Riau memilikinya itu tergambar dari hutan larangan adat dan adat-istiada atau prilaku lainnya yang tercermin dibeberapa masyarakat saat ini. Mereka begitu bijak bahkan meperlakukan hewan sekalipun. Sebab bagi mereka itu adalah bagian dari keseimbangan alam.
            Ketika kita bicara keanekaragaman hayati, mungkin mereka tidak akan mengetahuinya. Namun mereka percaya bahwa keberadaan harimau dapat mengotrol hama babi hutan dikebun mereka. Oleh karena itu si dia tidak boleh diburu sembarangan. Kemudian ketika berkebun, masyarakat pendahulu memperhatikan bahwa ada kawasan-kawasan terlarang dari hutan untuk dibuka. Karena di sana merupakan sumber daya kehidupan. Yaitu air yang mengalir. Hutan harus lestari. Hingga budaya modern datang dengan teknik perkebunan modernnya. Hutan hilang, air tiada yang muncul adalah bencana bagi manusia. Nah, sekarang siapa yang lebih modern?***


0

Green Holic: Limbah Kayu Jadi Benda Seni Padat Guna

Riau Pos - For Us Jumat, 16 Desember 2011
Filsuf Cina, Konfisius, mengungkapkan bahwa onggokan sampahpun jika ditata dengan baik akan tampak indah. Ungkapan tersebut seolah tergambar dari karya-karya yang dihasilkan oleh Richard. Di tangannya berbagai jenis limbah kayu sisa sawmill (penggergajian) menjelma jadi karya seni padat guna.


    Ditemui disebuah bangunan yang tengah ditatanya, Richard tampak berantakan dengan tangan bernoda cat aneka warna. “Saya sedang membuat lukisan dengan tema culture creative” ceritanya memulai percakapan. Lukisan tersebut sebagian besar berasal dari material seperti batangan-batangan lidi dan kain perca bercorak hitam putih khas Bali.






    Demi mendapatkan efek tertentu, ia memakai gerindra yang dapat memberikan warna corak putih alami secara acak di kampas dengan ukuran sekitar 2 x 1,5 meter tersebut. “Profesi asli saya adalah fotografer,” tuturnya. Namun seiring perjalanan hidupnya Richard memilih mendedikasi diri untuk bermanfaat bagi orang lain. Cara yang dipilihnya adalah dengan mendirikan Yayasan Sapulidi. Satu di antara program kerja yayasan ini adalah mendaur ulang limbah kayu menjadi karya seni yang berdaya pakai.

    “Saya menjadikan barang bekas apapun khususnya kayu menjadi sesuatu yang lain,” ungkapnya. Misalnya, tambah bapak satu anak ini, pot bunga, rak buku, kap lampu, bingkai foto, kursi minimalis, aneka bentuk lampu, aneka pajangan dinding berupa puzzle kayu, kotak tisu dan apa saja yang bisa dibuat dengan bahan dasar limbah kayu tersebut.
    Usut punya usut ternyata Richard bukanlah seorang yang mengenyam pendidikan seni. Ia berlatar belakang teknik mesin di sebuah universitas di Medan. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan menjadi fotografer profesional. “Saya juga sempat memiliki talkshow sendiri di sebuah televisi swasta nasional di Jakarta,” ujarnya. Hingga kemudian jalan hidup membawanya kembali kepada keluarganya di Minas. “Saya belum banyak punya teman di Pekanbaru, oleh karena itu saya mengerjakan semua kegiatan mendaur ulang ini sendiri,” lanjutnya.

    Ditanya soal kegiatanya mendaur ulang, profesi utama dan latar pendidikan yang menyimpang bak mata angin, selatan dan utara tersebut, Richard menjawabnya seperti filosofi yang ditanamkan kepada anggota Green Student Journalists (GSJ) Riau Pos. “Banyak membaca, mendengar, melihat dan menulis akan membuat kita tahu tentang berbagai hal,” tuturnya. Dengan melakukan hal tersebut, tambahnya, saya jadi bisa mengerjakan banyak hal, meski itu tidak berhubungan dengan pendidikan atau latar belakang saya sebelumnya. “hanya saja jangan lupa, kerjakanlah dengan hati,” pesannya.
    Hingga kemudian ia berusaha menjadikan segala sesuatu yang ada di sekitarnya, terutama benda-benda yang tak lagi berguna dan menyampah menjadi bentuk lain yang bisa di manfaatkan. Jadi jangan aneh ketika berkunjung ke Yayasan Sapulidi, sekaligus lokasi tempat kediaman ayah dari Hosaku Bintang Khatulistiwa ini di Simpang Tiga, Jalan Pahlawan Kerja tersebut. Di sini Anda akan menemukan wastafel yang terbuat dari tiga tindihan ban bekas yang ditempel dengan sebuah kuali besar bekas. Kamar mandi yang setengahnya Aquarium. “Untuk efek cahaya,” kilahnya tersenyum.

    Amati juga di sekitar lahan seluas lapangan sepak bola tersebut, maka kita akan menemukan pot seperti tugu yang ditanami dengan rumput. Pot itu berasal dari pipa dan kuali yang di desain sedemikian rupa. Jangan ditanya asalnya karena itu juga barang-barang bekas. Bahan karya Richard bisa datang dari mana saja, seperti, kap lampu dari besi bekas mesin cuci yang akan dibuatnya, atau pohon kelapa yang menjadi rak buku di pojok ruangannya.
    “Yayasan Sapulidi baru delapan bulan berjalan,” tuturnya. Selama itu, Richard mengelola dan melakukan semua pembenahan di lahan yang dulunya hanya semak belukar tersebut sendiri. “Ingin menggaji orang tak ado piti,” seru pria keturunan batak tersebut. Lagipula tambahnya, saya masih bisa mengerjakannya sendiri dan syukurlah kondisi di sini menjadi lebih baik, komentarnya sambil mengedarkan pandangan.

    Ia menuturkan untuk membuat satu pigura atau bingkai foto membutuhkan waktu hingga dua hari. “Karena detail yang harus di perhatikan dan tingkat kerumitan pigura yang akan dibuat,” katanya. Selain memakai kayu bekas, karya Richard bertambah indah dengan berbagai ornamen yang ditempelkan pada karya itu. Sebut saja untuk sebuah bingkai foto, Richard membuatnya aneka bentuk dengan memanfaatkan limbah lainnya. Misalnya wallpaper bekas hingga cangkang telur. Namun mengenai harga perkarya pria 38 tahun ini mengaku belum menetapkannya.

    Selain telah menghasilkan berbagai karya seni dari kayu bekas tersebut, Richard juga membuat dinding kurang lebih seluas 1,60x1,20 meter dari balok-balok kayu bekas. Bentuk uniknya yang menggambarkan karakter bonafit pemiliknya, siapa sangka terbuat “hanya” dari kayu bekas bangunan sebuah ruko.

    “Saya mengumpulkan kayu-kayu itu dari mana saja,” jawab Richard ketika ditanya ia mendapatkan bahan seninya dari mana. Bahkan tak jarang saya turun dari kendaraan ketika menemukan sebentuk kayu di tong sampah, lanjuntya. Richard juga tak segan untuk langsung ke tempat penampungan barang bekas para pemulung untuk menemukan aneka jenis kayu. “Hampir semuanya saya dapatkan gratis, namun ada juga yang sebagian beli,” ucapnya sambil memamerkan beberapa foto-foto yang pernah diambilnya dari berkeliling Indonesia dengan menjadi fotografer.

    “Keberadaan Richard membuat rasa bersalah saya terhadap limbah kayu hasil proyek yang saya kerjakan menjadi berkurang,” ungkap Dedi Ariandi praktisi arsitektur di Pekanbaru yang ditemui di tempat berbeda. Karena saya tidak perlu bingung lagi untuk membuangnya kemana atau menjadikannya sebagai apa, ungkapnya kemudian.

    Bukan hanya tentang pengolahan limbah kayu, Richard memiliki perhatian khusus kondisi lingkungan. “Saya mencetak 4000 pembatas buku yang berisi pesan-pesan lingkungan dan itu dibagikan gratis kepada siapa saja, khususnya pelajar,” ungkapnya sambil membagikan pembatas buku kepada tim Riau Pos For Us yang bertuliskan “setelah pohon, ikan, sungai terakhir ditebang, ditangkap, diracuni, baru kita menyadari bahwa uang tidak dapat dimakan.”

    Ia menuturkan bahwa ingin berkunjung ke sekolah-sekolah yang ada di Pekanbaru dan memberikan pelatihan keterampilan khusus kepada para pelajar. “Saya bersedia mengajarkan siswa-sisiwa tentang bagaimana cara memanfaatkan barang-barang yang ada disekitar kita dengan sederhana namun bagus,” ungkapnya. Misalnya mereka bisa membuat pigura sendiri dari bahan-bahan yang mereka miliki sehingga tak perlu membelinya lagi. “Buat apa membeli bingkai foto kalau kita bisa membuatnya sendiri. Saya lihat generasi muda sekarang maunya instan, serba tersedia, padahal itu mematikan kreatifitas,” serunya pendiri Richard Foundation ini.

    Richard juga bercerita tentang kegiatan lainnya, bahwa ia juga membagikan bibit tanaman gratis untuk diberikan ke sekolah-sekolah. “Di Jakarta dulu saya menanam bibit tanaman buah sendiri,” kenangnya. Jika musim mangga maka kami mengambil bijinya dan membibitkannya. Demikian juga jika musim buah lainnya, baik itu durian ataupun rambutan. Tanaman buah sengaja dipilih demi dwifungsi atau nilai gunanya.

    Sekarang setelah tinggal di Pekanbaru, Richard, tidak merasa keberatan jika menenteng segoni biji ketapang untuk dibibitkan di lahan Yayasan Sapulidi. Kegiatan tersebut sama seperti yang dilakukan ketika ia bermukim di Jakarta. Menanam biji pohon buah sendiri, dan membaginya sendiri ke sekolah-sekolah untuk ditanami. “Bangunlah dan kerjakanlah sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak,” pesannya berkali-kali.(tya-gsj)
0

Green Holic: Panen Madu di Sekolah

Riau Pos - For Us Selasa, 06 Desember 2011



Wajah senang dan gembira terlihat diraut wajah para siswa-siswi yang tergabung dalam anggota BeeSA atau yang di kenal dengan peternak lebah SMAN 1 Pangkalan Kerinci, karena lebah yang mereka pelihara sudah bisa dipanen.
Pemanenan di lakukan saat sore hari, Jum’at (30/9) lalu. Sengaja dilakukan sore hari agar lebah tidak mengamuk saat proses pemanenan berlangsung.

Proses pemanenan madu ini tidak saja dihadiri oleh anggota BeeSA saja, namun banyak diantara siawa-siswi SMA Negeri 1 Pangkalan Kerinci yang turut menyaksikan proses pemanenan madu.
Sebelum pemanenan dilakukan, para anggota baru BeeSA di ajak untuk bersama-sama menanam bunga pukul delapan yang nantinya berguna sebagai stok nectar untuk  makanan lebah mereka. Setelah itu dilanjutkan dengan mempresentasikan bagaimana cara-cara dalam pemanenan lebah madu oleh Ari Arditya, Ketua BeeSA.

Kemudian sekitar pukul 17.30 waktu setempat, pemanenan dilakukan. Wajah pucat dan rasa takut mulai tampak di wajah anggota baru BeeSA.
Para anggota baru BeeSA  dengan seksama menyaksikan pemanenan lebah yang dilakukan oleh siswa senior dari kejauhan, hal ini dilakukan demi keselamatan para anggota baru BeeSA dari serangan lebah.
 “Memang  takut  saat kotak lebah sudah mulai diambil dari tempatnya, apalagi saat kotak mulai dibuka dan lebah mulai berterbangan, wah takut benget kalau nanti tersengat, apalagi ini pengalaman pertama melihat pemanenan lebah secara langsung,” ungkap Ayu, anggota baru BeeSA.
            Setelah sekitar dua jam proses pemanenan, akhirnya Ari dan kawan-kawan bisa membawa dua belas sisir sarang lebah yang berisi madu. Kemudian para anggota BeeSA di ajak ke aula sekolah untuk mengolah sarang lebah yang telah diambil tersebut secara bersama-sama untuk diperas dan dimasukkan kedalam botol kemasan.

Semua siswa siswi baik yang senior maupun yang junior berperan aktif dalam pengolahan sarang lebah tersebut.
“senang sekali rasanya bisa melihat dan mengolah langsung madu hasil ternak lebah madu dari SMAN 1 Pangkalan Kerinci, walaupun sempat juga tersengat lebah,” ungkap Ryan salah seorang anggota BeeSA.
            Selanjutnya hasil dari pemanenan madu ini disetorkan kepada pembimbing ekstrakulikuler BeeSA, Salmiyati M.Pd dan sisanya dibagikan kepada para anggota BeeSA yang ikut dalam proses pengambilan lebah.(Yesi-gsj Pangkalan Kerinci)
           
             



D:\ALBUM\BEESA\camera\IMG_0921.JPG
D:\ALBUM\BEESA\camera\IMG_0896.JPG















                                                                                                                                                




D:\ALBUM\BEESA\camera\IMG_0891.JPG
D:\ALBUM\BEESA\camera\IMG_0916.JPGD:\ALBUM\BEESA\camera\IMG_0926.JPG