Blogger Tricks


0

Green Holic: Limbah Kayu Jadi Benda Seni Padat Guna

Riau Pos - For Us Jumat, 16 Desember 2011
Filsuf Cina, Konfisius, mengungkapkan bahwa onggokan sampahpun jika ditata dengan baik akan tampak indah. Ungkapan tersebut seolah tergambar dari karya-karya yang dihasilkan oleh Richard. Di tangannya berbagai jenis limbah kayu sisa sawmill (penggergajian) menjelma jadi karya seni padat guna.


    Ditemui disebuah bangunan yang tengah ditatanya, Richard tampak berantakan dengan tangan bernoda cat aneka warna. “Saya sedang membuat lukisan dengan tema culture creative” ceritanya memulai percakapan. Lukisan tersebut sebagian besar berasal dari material seperti batangan-batangan lidi dan kain perca bercorak hitam putih khas Bali.






    Demi mendapatkan efek tertentu, ia memakai gerindra yang dapat memberikan warna corak putih alami secara acak di kampas dengan ukuran sekitar 2 x 1,5 meter tersebut. “Profesi asli saya adalah fotografer,” tuturnya. Namun seiring perjalanan hidupnya Richard memilih mendedikasi diri untuk bermanfaat bagi orang lain. Cara yang dipilihnya adalah dengan mendirikan Yayasan Sapulidi. Satu di antara program kerja yayasan ini adalah mendaur ulang limbah kayu menjadi karya seni yang berdaya pakai.

    “Saya menjadikan barang bekas apapun khususnya kayu menjadi sesuatu yang lain,” ungkapnya. Misalnya, tambah bapak satu anak ini, pot bunga, rak buku, kap lampu, bingkai foto, kursi minimalis, aneka bentuk lampu, aneka pajangan dinding berupa puzzle kayu, kotak tisu dan apa saja yang bisa dibuat dengan bahan dasar limbah kayu tersebut.
    Usut punya usut ternyata Richard bukanlah seorang yang mengenyam pendidikan seni. Ia berlatar belakang teknik mesin di sebuah universitas di Medan. Kemudian ia hijrah ke Jakarta dan menjadi fotografer profesional. “Saya juga sempat memiliki talkshow sendiri di sebuah televisi swasta nasional di Jakarta,” ujarnya. Hingga kemudian jalan hidup membawanya kembali kepada keluarganya di Minas. “Saya belum banyak punya teman di Pekanbaru, oleh karena itu saya mengerjakan semua kegiatan mendaur ulang ini sendiri,” lanjutnya.

    Ditanya soal kegiatanya mendaur ulang, profesi utama dan latar pendidikan yang menyimpang bak mata angin, selatan dan utara tersebut, Richard menjawabnya seperti filosofi yang ditanamkan kepada anggota Green Student Journalists (GSJ) Riau Pos. “Banyak membaca, mendengar, melihat dan menulis akan membuat kita tahu tentang berbagai hal,” tuturnya. Dengan melakukan hal tersebut, tambahnya, saya jadi bisa mengerjakan banyak hal, meski itu tidak berhubungan dengan pendidikan atau latar belakang saya sebelumnya. “hanya saja jangan lupa, kerjakanlah dengan hati,” pesannya.
    Hingga kemudian ia berusaha menjadikan segala sesuatu yang ada di sekitarnya, terutama benda-benda yang tak lagi berguna dan menyampah menjadi bentuk lain yang bisa di manfaatkan. Jadi jangan aneh ketika berkunjung ke Yayasan Sapulidi, sekaligus lokasi tempat kediaman ayah dari Hosaku Bintang Khatulistiwa ini di Simpang Tiga, Jalan Pahlawan Kerja tersebut. Di sini Anda akan menemukan wastafel yang terbuat dari tiga tindihan ban bekas yang ditempel dengan sebuah kuali besar bekas. Kamar mandi yang setengahnya Aquarium. “Untuk efek cahaya,” kilahnya tersenyum.

    Amati juga di sekitar lahan seluas lapangan sepak bola tersebut, maka kita akan menemukan pot seperti tugu yang ditanami dengan rumput. Pot itu berasal dari pipa dan kuali yang di desain sedemikian rupa. Jangan ditanya asalnya karena itu juga barang-barang bekas. Bahan karya Richard bisa datang dari mana saja, seperti, kap lampu dari besi bekas mesin cuci yang akan dibuatnya, atau pohon kelapa yang menjadi rak buku di pojok ruangannya.
    “Yayasan Sapulidi baru delapan bulan berjalan,” tuturnya. Selama itu, Richard mengelola dan melakukan semua pembenahan di lahan yang dulunya hanya semak belukar tersebut sendiri. “Ingin menggaji orang tak ado piti,” seru pria keturunan batak tersebut. Lagipula tambahnya, saya masih bisa mengerjakannya sendiri dan syukurlah kondisi di sini menjadi lebih baik, komentarnya sambil mengedarkan pandangan.

    Ia menuturkan untuk membuat satu pigura atau bingkai foto membutuhkan waktu hingga dua hari. “Karena detail yang harus di perhatikan dan tingkat kerumitan pigura yang akan dibuat,” katanya. Selain memakai kayu bekas, karya Richard bertambah indah dengan berbagai ornamen yang ditempelkan pada karya itu. Sebut saja untuk sebuah bingkai foto, Richard membuatnya aneka bentuk dengan memanfaatkan limbah lainnya. Misalnya wallpaper bekas hingga cangkang telur. Namun mengenai harga perkarya pria 38 tahun ini mengaku belum menetapkannya.

    Selain telah menghasilkan berbagai karya seni dari kayu bekas tersebut, Richard juga membuat dinding kurang lebih seluas 1,60x1,20 meter dari balok-balok kayu bekas. Bentuk uniknya yang menggambarkan karakter bonafit pemiliknya, siapa sangka terbuat “hanya” dari kayu bekas bangunan sebuah ruko.

    “Saya mengumpulkan kayu-kayu itu dari mana saja,” jawab Richard ketika ditanya ia mendapatkan bahan seninya dari mana. Bahkan tak jarang saya turun dari kendaraan ketika menemukan sebentuk kayu di tong sampah, lanjuntya. Richard juga tak segan untuk langsung ke tempat penampungan barang bekas para pemulung untuk menemukan aneka jenis kayu. “Hampir semuanya saya dapatkan gratis, namun ada juga yang sebagian beli,” ucapnya sambil memamerkan beberapa foto-foto yang pernah diambilnya dari berkeliling Indonesia dengan menjadi fotografer.

    “Keberadaan Richard membuat rasa bersalah saya terhadap limbah kayu hasil proyek yang saya kerjakan menjadi berkurang,” ungkap Dedi Ariandi praktisi arsitektur di Pekanbaru yang ditemui di tempat berbeda. Karena saya tidak perlu bingung lagi untuk membuangnya kemana atau menjadikannya sebagai apa, ungkapnya kemudian.

    Bukan hanya tentang pengolahan limbah kayu, Richard memiliki perhatian khusus kondisi lingkungan. “Saya mencetak 4000 pembatas buku yang berisi pesan-pesan lingkungan dan itu dibagikan gratis kepada siapa saja, khususnya pelajar,” ungkapnya sambil membagikan pembatas buku kepada tim Riau Pos For Us yang bertuliskan “setelah pohon, ikan, sungai terakhir ditebang, ditangkap, diracuni, baru kita menyadari bahwa uang tidak dapat dimakan.”

    Ia menuturkan bahwa ingin berkunjung ke sekolah-sekolah yang ada di Pekanbaru dan memberikan pelatihan keterampilan khusus kepada para pelajar. “Saya bersedia mengajarkan siswa-sisiwa tentang bagaimana cara memanfaatkan barang-barang yang ada disekitar kita dengan sederhana namun bagus,” ungkapnya. Misalnya mereka bisa membuat pigura sendiri dari bahan-bahan yang mereka miliki sehingga tak perlu membelinya lagi. “Buat apa membeli bingkai foto kalau kita bisa membuatnya sendiri. Saya lihat generasi muda sekarang maunya instan, serba tersedia, padahal itu mematikan kreatifitas,” serunya pendiri Richard Foundation ini.

    Richard juga bercerita tentang kegiatan lainnya, bahwa ia juga membagikan bibit tanaman gratis untuk diberikan ke sekolah-sekolah. “Di Jakarta dulu saya menanam bibit tanaman buah sendiri,” kenangnya. Jika musim mangga maka kami mengambil bijinya dan membibitkannya. Demikian juga jika musim buah lainnya, baik itu durian ataupun rambutan. Tanaman buah sengaja dipilih demi dwifungsi atau nilai gunanya.

    Sekarang setelah tinggal di Pekanbaru, Richard, tidak merasa keberatan jika menenteng segoni biji ketapang untuk dibibitkan di lahan Yayasan Sapulidi. Kegiatan tersebut sama seperti yang dilakukan ketika ia bermukim di Jakarta. Menanam biji pohon buah sendiri, dan membaginya sendiri ke sekolah-sekolah untuk ditanami. “Bangunlah dan kerjakanlah sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak,” pesannya berkali-kali.(tya-gsj)
1

Menyibak Danau Cantik di Tahura SSH

Riau Pos - For Us Kamis, 15 Desember 2011
 Cerita tentang Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim (Tahura SSH), ternyata bukan saja tentang keindahan tingginya puluhan anak tangga yang dibangun memanjat bukit atau pemandangan hutan sekundernya lengkap dengan jogging track-nya. Tetapi ada juga danau cantik di dalamnya yang kerap tak terungkap.

Laporan MASHURI KURNIAWAN, Minas mashurikurniawan@riaupos.com

    SECUIL informasi tentang danau cantik yang tersembunyi di Tahura SSH yang direncanakan sebagai objek pengembangan wisata alam, mengantarkan Tim Riau Pos For Us untuk menelusuri keberadaan danau tersebut. Tepatnya pada hari pertama di Bulan Februari.

Siang itu, saat tim berkunjung cuaca sedang bersahabat. Hari tidak hujan, padahal sebelumnya hujan selalu turun. Sehingga medan jalan tanah menuju danau itu, tak begitu berat. Walaupun sisa hujan sebelumnya membuat tim harus melangkah hati-hati di tengah-tengah jalan yang becek.

    “Yang aku tahu, ini jalan menuju danau,” ungkap salah satu anggota tim, di sebuah persimpangan yang bertuliskan “hati-hati binatang buas, tempat lintasan hewan” dengan gambar Harimau Sumatera di bawahnya. Plang itu lokasinya sekitar 500 meter dari gerbang utama Tahura SSH yang terletak di jalan lintas Pekanbaru – Minas.
    Bergidik juga saat melewati jalan itu. Untung saja, akses jalan yang cukup lebar dan terang. Terlihat jelas bahwa jalan itu baru dibuka atau diperlebar. Itu terlihat dari tanah yang baru saja digeledor dan pohon hutan yang terpotong ditepian. Dengan kondisi itu, tim jadi berani untuk melangkah menemukan danau tersebut.
Di kiri kanan sepanjang perjalanan menuju danau, terlihat jelas plang bertuliskan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL). Itu menandakan jalan yang tim lalui bukan hutan primer. Ia merupakan hutan sekunder. Meski demikian kondisi pepohonan di tempat itu sudah lebat. Tumbuh sangat rapat dan terlihat gelap di bawah tajuk-tajuk pohon. Monyet-monyet hitam juga terlihat melompat dan bergelantungan di dahan dan ranting-ranting pohon. Selain itu terlihat juga beberapa burung melintas terbang di antaranya.
   Setelah melangkah sekitar 1,5 kilometer dengan jalan yang menanjak dan menurun, akhirnya tim menemukan danau itu. Danau itu membentang cantik di sebuah lembah yang dibatasi dua sisi bukit. Sayangnya, bukit yang berada di seberang tempat tim berdiri adalah hamparan kebun sawit. Sehingga keindahan danau itu hanya terlihat ketika mata ditujukan ke bagian hilir tepian bukit yang berasal dari arah tim datang.
    Mulanya tim berpikir, danau itu tersembunyi di balik Tahura dan tak terakses sebagai tempat wisata. Namun setelah melihat kebun sawit di seberangnya dan terlihat dua perahu, serta sejumlah anak-anak bergelak tawa dan bermain di bagian hulu danau, tim pun menduga ada jalan lain menuju danau tersebut selain lewat medan berat dari tahura.
    Ternyata benar, setelah tim berjalan memutar mencari cara untuk mendekati anak-anak yang terlihat bersenda-gurau tadi, tim menemukan akses jalan lebih dekat ke jalan raya dibandingkan lewat tahura. Tepatnya tak jauh dari bagian belakang halaman Hotel Rindu Sepadan.
    Apep, salah seorang petugas tahura yang keesokannya Riau Pos wawancarai, menyebutkan cerita tentang danau itu memang tak banyak terpublikasi. Pasalnya, menurut petugas yang tergolong paling lama bekerja di tahura tersebut, danau itu sebenarnya hanyalah sungai yang dibendung. “Danau itu terbentuk akibat perusahaan ikan arwana membendung Sungai Takuana. Jadi memang tidak ada namanya,” ujar Apep menjawab pertanyaan Riau Pos apa nama danau tersebut.
    Danau tersebut menyimpan cukup banyak ikan. Setidaknya itu terlihat dari hasil tangkapan ikan dan cerita anak-anak yang bergelak tawa tadi. Ternyata sambil bermain dan mandi mereka juga menjala ikan.
“Cukup banyak ikannya di sini Bang,” ujar salah seorang dari mereka. Mereka juga menyebutkan beberapa jenis ikan yang biasa mereka temui di tempat itu. Yakni baung (Macrones planiceps), gabus (Chana pleurothalmus), mujair (Tilapia pleurothalmus), sepat (Trichogaster trichopterus), puyu (Anabas testudeneus), dan jenis ikan air tawar lainnya.
***
    Cerita danau itu memang tak banyak terungkap. Mengingat Tahura SSH terbilang luas, yakni 6.172 hektare dan meliputi tiga wilayah kabupaten/kota, yakni Kota Pekanbaru, Kabupaten Siak dan Kampar.
    Tahura SSH memiliki keane-karagaman hayati yang cukup tinggi. Terdapat 127 flora dan 42 fauna. Beberapa di antaranya merupakan fauna dan flora langka. Misalnya beruang madu, harimau Sumatera, tapir, burung srigunting, burung gagak, babi hutan, dan jenis hewan lainnya.
    Dengan berbagai potensi dan kekayaan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kawasan tersebut ke depan diproyeksikan menjadi magnet wisata baru di Riau.
    Itu sebabnya, menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Tahura Dinas Kehutanan Provinsi Riau, Ir Fredrick Sully MM, Rabu (2/2) banyak perbaikan yang dilakukan di tahura. Misalnya tentang akses jalan menuju danau. Jalan itu, katanya, memang baru saja diperlebar dan bantuan dari pihak ketiga yang perduli dengan alam. Keindahan danau, tambahnya, yang pemikat pihak ketiga tersebut.

‘’Jalan menuju danau memang sedikit rumit karena hanya tanah kuning. Danau ini merupakan anu-gerah bagi kita semua,’’ ujarnya kepada Riau Pos saat dihubungi melalui selulernya.
Dia menyebutkan danau tersebut akan dikembangkan sebagai wisata tirta. Master plan mengenai rencana pengembagan wisata itu sudah dilakukan Dinas Kehutanan (Dis-hut) Riau.
Selain itu, juga akan dikembangkan berbagai sarana prasarana penunjang rekreasi. Misalnya sepeda air dan bebek air untuk atau uji nyali dan ketangkasan lewat sarana adventure seperti flying fox, elfis bridge, spider climbing, speed boat, memancing, berenang atau bahkan melihat aneka satwa asli Riau.
‘’Kami ingin membuat pengunjung merasa tenang di tengah kawasan hutan yang eksotis. Layaknya magnet baru tujuan wisata bagi warga di Kota Pekanbaru maupun masyarakat di Riau,’’ terang Fredrick Sulli
Selain itu, menurut Fredrick saat ini Tahura telah memiliki berbagai fasilitas. Misalnya guest house dengan tujuh kamar, pusat informasi, pendopo, gazebo, musala, areal tempat bermain, lapangan luas dan bumi perkemahan. Selain itu ada fasilitas jalan menuju bumi perkemahan Pramuka, Pusat Latihan Gajah (PLG), dan Danau Tahura.
Hutan Tahura SSH, tambahnya, merupakan track pendidikan atau wisata pendidikan paling pas yang dikembangkan. Menurutnya saat ini sedang trend kegiatan ekstraku-rikuler lingkungan di sekolah-sekolah yang melakukan kunjungan-kunjungan ke hutan. Sebagai wisata pendidikan, pengembangan Tahura sebagai sarana pendidikan. Sekaligus juga dalam mendorong peran serta program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan untuk membantu mengembangkan Tahura.
Dari penuturan Fredrick, pengawasan keliling oleh anggota pengamanan hutan secara intens dilakukan. Untuk mencegah terjadinya pembalakan liar dan pemburu liar. Sosialisasi kepada masyarakat yang hidup berdekatan dengan hutan Tahura SSH, sambungnya juga dilakukan.
‘’Sosialisasi kepada masyarakat mengenai pemeliharaan lingkungan hutan juga dilakukan untuk menjaga kawasan hutan tetap asri dan indah. Keseimbangan alam disekitar memang harus dilakukan secara bersama,’’ ujarnya.
***
Selain memiliki pesona keindahan, Tahura SSH juga diyakini masih menjadi habitat bagi Harimau Su-matera (Panthera tigris suma-trae). Sub-spesies harimau satu-satunya yang masih dimiliki Indonesia setelah dua saudaranya Harimau Bali (Panthera tigris balica) dan Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dinyatakan punah.
Hal itu menurut Apep, dibuktikan dari jejak kaki harimau. Jejak harimau tersebut, katanya, dalam bentuk jejak tapak kaki harimau. Diperkirakan ada dua harimau yang masih ada di dalam hutan tersebut.
    Hanya saja, kata Apep, dua he-wan ini tidak mengganggu manusia. Dikarenakan, di dalam kawasan hutan masih ada makanannya. Mereka (dua harimau, red), sambungnya, mencari mangsa babi hutan. ‘’Babi hutan masih banyak populasinya di dalam kawasan Hutan Tahura SSH. Harimau ini sudah memiliki makanan jadi tidak mengganggu manusia. Dua ekor saya perkirakan masih ada didalam hutan Tahura,’’ sebutnya kepada Riau Pos melalui selulernya seraya mengatakan hanya saja berapa ukuran panjang dan bobot harimau tidak diketahui.
Semoga semua keindahan dan potensi Tahura SSH ini tetap ter-jaga.(ndi)
0

Popehramu Menari di Bibir Sungai

Riau Pos - For Us




Di Negeri Seribu Suluk, mata Anda bisa dibuat terpesona oleh cantiknya kupu-kupu yang menari di bibir sungai. Atau melihat cantiknya koleksi awetan serangga bersayap indah di Pusat Informasi Kupu-kupu Sumatera.

Laporan Andi Noviriyanti, Rambah

andinoviriyanti@riaupos.com
   Tiba-tiba saja sekelompok kupu-kupu aneka warna berhamburan terbang dari bibir Sungai Suaman, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rohul, Rabu (9/2) siang. Makhluk cantik bernama lokal Popehramu itu sepertinya sedikit terusik melihat kehadiran tim Riau Pos For Us yang memang tengah mencari-cari keberadaannya. Pinggiran sungai itu kerap  dikabarkan tempat kupu-kupu hinggap.
    Melihat kupu-kupu yang berhamburan itu, tim pun memilih duduk diam tenang sembari mengamatinya dengan jarak sekitar tiga meter. Kupu-kupu yang terbang tadi pun melayang terbang seakan-akan menari dan kembali hinggap di bibir sungai. Sepertinya asyik mengisap sesuatu dari atas tanah.
    “Itu kelompok kupu-kupu jantan. Biasanya mereka keluar di siang hari dari jam 12-an sampai pukul empat petang nanti. Ada sesuatu di tanah itu yang mereka hisap,” ujar Yusri Syam, seorang peneliti kupu-kupu di Rohul yang hari itu mendampingi tim.
   Pesona kupu-kupu di Rohul kini memang tengah digesa. Bahkan tak jauh dari sungai tempat kami mengamati kupu-kupu tersebut, telah dibangun pusat informasi kupu-kupu Sumatera lengkap dengan penangkarannya. Tepatnya berada di objek wisata air panas Hapanasan, Desa Sialang Jaya, Kecamatan Rambah, sekitar 9 Km dari pusat kota Pasirpengaraian, ibu kota Kabupaten Rohul.
    Menurut Kabid Pariwisata Rohul Zainal Abidin, yang hari itu turut mendampingi tim, kekayaan kupu-kupu yang dimiliki daerah itu, kini telah dijadikan objek wisata. Khususnya untuk memperkaya objek wisata air panas di tempat itu.
    Itulah sebabnya melalui dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Rohul tahun 2009 dibangun pusat informasi kupu-kupu. Bangunannya menyerupai bentuk kupu-kupu.
    Di dalamnya berisi lengkap informasi tentang kupu-kupu lengkap dengan penamaannya dalam bahasa daerah Rokan. Terdapat juga di dalamnya koleksi awetan kupu-kupu. Beberapa di antaranya merupakan spesies langka dan dilindungi. Misalnya spesies Trogonoptera, Idea sp, Papilionidae, dan Brokiana Sp.
    Tahun 2010, tambahnya, atas bantuan Dinas Kebudayaan, Kesenian dan Pariwisata (Disbudsenipar) Provinsi Riau, dibangunkan pula tempat penangkaran kupu-kupu tepat di sampingnya. Ukuran 8 x 12 meter. Namun karena masih baru, belum ada kupu-kupu yang ditangkarkan di tempat itu. Tempat penangkaran itu baru saja ditanami beberapa jenis tumbuhan yang menjadi pakan bagi ulat kupu-kupu dan tumbuhan berbunga yang menjadi tempat menghisap nectar bagi kupu-kupu dewasa (imago).
    Objek wisata kupu-kupu itu dirintis oleh Yusri Syam, staf Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Rohul, sejak tahun 2003 lalu. Kegiatan itu diawali karena suatu kebetulan  karena saat pulang kampung mengantar istrinya yang orang Sulawesi Selatan. Di sana dia mengunjungi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TNBB), terkenal sebagai Kerajaan Kupu-kupu (habitat kupu-kupu, red).
    Selain itu, Yusri juga mengaku sangat cinta pada lingkungan hidup dan kelestarian budaya di tanah kelahirannya,  Negeri Seribu Suluk, julukan bagi Kabupaten Rohul. Oleh karena itu baginya melestarikan kupu-kupu sama halnya dengan melestarikan lingkungan dan budaya. Pasalnya kelimpahan kupu-kupu menjadi pertanda lingkungan di sekitarnya masih baik.
    “Jika lingkungan rusak, maka kebudayaan akan hilang. Misalnya ketika hutan rusak, atau sungai rusak, maka banyak kegiatan adat tidak dapat dilaksanakan. Karena prasarana dan sarananya terganggu. Jadi bukan moderisasi yang menghilangkan kebudayaan,” ujarnya.
    Lebih jauh, tentang kupu-kupu sebagai indikator kelestarian lingkungan diterangkannya lewat pernyataan bahwa kupu-kupu merupakan herbivora spesialis. Keragamannya menjadi bertanda keragaman jenis tumbuhan tempat itu. Bila ada 200 jenis kupu-kupu di tempat itu, maka bisa dipastikan ada 200 jenis pula jenis tumbuhan di tempat itu. Pasalnya ulat kupu-kupu hanya memakan satu jenis tanaman sebagai pakannya.
    “Saya pernah membuktikan, memberikan pakan lain pada ulat kupu-kupu. Terbukti ulat itu mati. Jadi kalau kita melihat ada satu jenis kupu-kupu dan tahu tumbuhan yang jadi pakan ulatnya, maka tampan melihat tumbuhannya, kita bisa tahu dalam raidus 3 Km di tempat itu bisa ditemukan jenis tanaman tersebut,” jelas pria kelahiran 10 Februari 1972 itu.
    Sementara kaitannya dengan kebudayaan, menurutnya kupu-kupu merupakan intaian atau pertanda (sarana informasi) bagi masyarakat Rokan. Baik di bidang pertanian, cuaca, perubahan alam, ramalan, mistik, dan lain sebagainya.
    Misalnya, jika kupu-kupu muncul di rumah maka itu menandakan ada sesuatu yang terjadi dalam kehidupan seseorang, keluarga ataupun diri yang melihatnya. Contoh lainnya misalnya kupu-kupu di halaman, itu menandakan keadaan hari ataupun suasana tamu yang menyenangkan dan memberikan kebahagian di sekitar rumah. Itu bisa pula diartikan murah reski atau ada jalan keluar dari suatu masalah.
    Selain itu, dia menyebutkan bahwa pusat informasi kupu-kupu yang ada di Hapanasan merupakan media edukasi cinta lingkungan kepada anak-anak. “Jadi kita memasukkan aspek-aspek lingkungan tidak dengan teori belaka. Tetapi lewat praktek langsung kepada generasi muda. Di sini mereka melihat bahwa kupu-kupu membutuhkan pakan tertentu untuk bisa hidup. Oleh karena itu kelestarian hutan dan aneka jenis tanaman menjadi penentu mati hidupnya kupu-kupu,” terang pria berkulit hitam manis itu.
Menurut Suhara dari Jurusan Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam makalahnya tentang Ordo Lepidoptera, kupu-kupu memiliki nilai penting dalam berbagai kehidupan. Baik, nilai ekonomi, ekologi, endemisme, konservasi, estetika, pendidikan dan nilai budaya.
    Nilai penting ekonomi terlihat dari beberapa jenis kupu-kupu yang mempunyai harga jual di pasaran cukup tinggi. Bukan hanya imagonya yang dapat dijual dalam bentuk cendera mata, tetapi juga kepompongnya. Bahkan kepompong memiliki nilai ekspor yang cukup tinggi. Saat ini kepompong beberapa jenis kupu-kupu tertentu telah di ekpor ke pasaran internasional, terutama ke Inggris. Di negara tujuan, kepompong itu dimasukkan ke taman kupu-kupu untuk dipertontonkan kepada pengunjung, bagaimana spektakulernya imago yang sedang keluar dari kepompong.
    Namun nilai ekonomi itu juga menjadi ancaman bagi kehidupan kupu-kupu di alam. Mengingat masyarakat melakukan pemanenan tanpa melakukan pertimbangan terhadap pertumbuhan populasi dari jenis kupu-kupu yang laku‘dijual di pasaran.
    Dari segi ekologi, kupu-kupu sangat penting, karena melakukan pollinasi terhadap tumbuhan tertentu. Selanjutnya kupu-kupu memiliki nilai pendidikan karena para pelajar dan mahasiswa dapat melakukan penelitian terhadap berbagai aspek kupu-kupu tersebut. Masih banyak masalah yang mempengaruhi kehidupan kupu-kupu yang belum diketahui, seperti jenis pakan ulat dari setiap jenis kupu-kupu.
Untuk nilai konservasi karena beberapa jenis kupu-kupu terancam punah. Hal ini juga berlaku bagi jenis kupu-kupu endemik, terutama yang statusnya endemik lokal. Jenis-jenis yang masuk dalam kedua kategori tersebut, mempunyai nilai konservasi yang sangat tinggi, sehingga memiliki nilai perioritas utama untuk di konservasi dan dilindungi.
    Terakhir nilai budaya. Menurutnya, masyarakat sekitar Bantimurung (TNBB) Sulawesi Selatantelah lama memanfaatkan sumberdaya kupu-kupu, baik untuk dijual atau sekedar dijadikan hiasan. Bahkan akhir-akhir ini, masyarakat telah mempu membuat souvenir dari sayap kupu-kupu yang disusun dalam bentuk dekoratif dan bernilai senih yang indah.
    Sementara itu di Rohul, nilai budaya yang dikembangkan oleh Yusri Syam adalah tentang etnozoologist-nya. Etnozoologi adalah penamaan ilmiah penggunaan serta hubungan budaya antara hewan dan manusia suatu suku bangsa.
Yusri Syam yang dibantu oleh Taslim F (Etnozoologist Rohul) telah membukukan tentang penamaan berbagai kupu-kupu dalam bahasa Rokan.***
0

Saat Sungai Siak menjadi Tong Sampah Raksasa, Mereka Menjadi Nelayan Pemulung Sampah

Riau Pos - For Us
Apapun yang terjadi, Sungai Siak tetap menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya. Itulah sebabnya, kini sejak merosotnya jumlah tangkapan ikan mereka, beberapa nelayan ditempat itu beralih profesi menjadi nelayan pemulung sampah.

Laporan Mashuri Kurniawan, Pekanbaru, mashurikurniawan@riaupos.com

    Selasa (15/2) pagi menjelang siang di Sungai Siak, Beberapa kilometer dari pelabuhan Sungai Duku, Kota Pekanbaru arah hulu Sungai Siak. Terlihat seorang kakek berkaos putih dan bercelana pendek warna gelap mendayung sampannya ke arah hulu. Di atas sampannya itu, tidak ada ikan. Yang terlihat hanya berbagai jenis sampah, termasuk di dalamnya ada helm bekas. Namun yang paling mendominasi adalah botol plastik dan gelas plastik air mineral.

    Kakek itu, belakang diketahu bernama Ahmad. Usianya cukup lanjut, menurut penuturannya, sudah 81 tahun. Ia dulunya seorang nelayan ikan, namun kini selain tetap menjadi nelayan ikan, dia juga menjadi nelayan penjaring sampah.




    ‘’Pagi tangkap ikan, siang cari sampah plastik. Ikan dah mulai habis,’’ ujarnya sembari menyebutkan hari itu tangkapan sampahnya sudah cukup. Lambung sampannya memang terlihat sudah penuh sesak dengan sampah. Sampah-sampah itu katanya, akan dijual ke penampung di dekat rumahnya.

Selasa itu, tak hanya Ahmad yang menjadi nelayan sampah. Tim Riau Pos For Us, juga bertemu dengan Surya (45) dan istrinya. Mereka ini juga nelayan penjaring sampah. Mereka mengaku telah melakoninya sejak tahun 2007 lalu. Pekerjaan itu, tambahnya, untuk menambah keperluan harian mereka.
‘’Apo kojo lai bang, ikan tak ado,’’ ujar Surya kepada tim sembari meneruskan aktivitasnya memunguti sampah. Sampah-sampah tersebut akan dijualnya. Perkilogramnya dihargai Rp2-3 ribu. Dalam sehari paling-paling dapat hanya 3kg-5kg. Tidak banyak memang, tetapi itulah penyambung kehidupan.

    Dari pantauan tim selama dua jam mengarungi Sungai Siak di wilayah Kota Pekanbaru, memang nelayan pencari sampah ini jumlahnya cukup banyak. Mungkin karena sampah di sungai ini memang juga sangat banyak. Tim melihat para pengambil sampah ini hanya memungut sampah-sampah bernilai jual. Khususnya sampah plastik dari kemasan air mineral. Sementara sampah lainnya dibiarkan memenuhi badan sungai.

Sementara itu, saat tim menelusuri lebih jauh tentang bagaimana kehidupan nelayan pencari ikan di Sungai Siak, terlihat masih cukup banyak yang mencari ikan di sungai yang dulu dikenal terdalam tersebut. Itu ditandai dengan masih banyaknya nelayan yang menjaring ikan di badan-badan sungai. Sungai Siak seperti dikapling-kapling oleh nelayan pemilik jaring.

    Menurut Nuradi (64) tahun, seorang nelayan yang tim temui di rumah terapungnya, ikan di Sungai Siak masih ada. Tapi jumlahnya tak sebanyak dulu. Terutama, sejak berapa tahun lalu Sungai Siak tercemar limbah Pabrik Kelapa Sawit (PKS).


    Menurutnya, saat itu ribuan ekor ikan dari berbagai jenis mati. Ikan mati mulai dari arah

hulu ke hilir kawasan Tapung, Kabupaten Kampar hingga Kota Pekanbaru. Berbagai jenis ikan seperti baung, patin, selais, tapah, patin, juaro dan udang mati terapung diatas permukaan sungai.

    ‘’Sejak ikan terkena limbah itu, sekarang sudah susah mencari ikan. Beda pada tahun 1980 an, ikan sangat senang mencarinya. Banyak nelayan yang menggantungkan hidup di Sungai Siak saat itu. Udang juga banyak sekali tahun 1980 an,’’ pria yang sudah 23 tahun menjadi nelayan ini.


    Ia juga menuturkan bahwa sejak kejadian itu, tak ada lagi dari mereka yang berani membangun kerambah di Sungai Siak. Karena khawatir sungai itu dicemari kembali. Jadi yang ada saat ini hanya menjaring ikan secara alami.


    Selain sejumlah ikan yang berkurang, Nuradi juga bercerita bawah kini banyak jenis ikan yang menghilang. Misalnya, Ikan Arwana.


    ‘’Di daerah Tapung, Kabupaten Kampar dulu (tahun 1980-an,red) ikan arwana sangat mudah dijumpai di Sungai Siak. Bahkan Ikan Arwana di tempat itu menjadi tempat indukan arwana,’’ ujar Nuradi.

***

    Sungai Siak masih dianggap sebagai tong sampah raksasa. Berbagai jenis sampah dan limbah di alirkan ke satu-satunya sungai yang hanya berada di Provinsi Riau ini. Kondisi itu, menjadi keprihatinan Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Pekanbaru Drs Adriman MSi dan Direktur Rona Lingkungan Universitas Riau T Ariful Amri. Mengingat sampah dan limbah tersebut menjadi penyebab pendangkalan sungai, banjir, mamatikan ikan dan biota sungai lainnya.


    “Kegiatan nelayan pemulung sampah di badan sungai cukup bagus untuk mengurangi mengurangi jumlah sampah. Namun itu tidak cukup. Mengingat sampah-sampah yang dipulung oleh nelayan pemulung hanyalah sampah pilihan. Sementara sampah lainnya tetap memenuhi badan sungai. Oleh karena itu, walaupun ada mereka, saya tetap menghimbau agar masyarakat tidak membuang sampah ke dalam sungai,” paparnya kepada Riau Pos.


    Menurutnya, jumlah sampah di Pekanbaru cukup besar. Sesuai dengan jumlah penduduknya yang juga terus bertambah dengan pesat. Setidaknya dengan penduduk  779.899 jiwa, produksi sampah setiap harinya 268 ton. Sampah-sampah itu ada yang masuk ke badan sungai secara langsung, maupun tidak langsung (karena di buang di badan air (parit), terus mengalir ke sungai.


    “Sebenarnya, pemerintah kota telah melakukan pemungutan sampah-sampah tersebut dengan memanfaatkan tenaga kebersihan, baik yang ada di Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Pekerjaan Umum, maupun yang berada di kecamatan. Namun seberapa seringpun dibersihkan, kalau masyarakatnya terus membuang, ya tetap banyak juga jadinya masuk ke sungai,” ujarnya.


    Oleh karena itu, sat ini yang terpenting adalah kesadaran masyarakatnya. Sementara itu, Direktur Rona Lingkungan, T Ariful menyatakan memang kehidupan habitat ikan di sungai itu terganggu karena limbah. Limbah rumah tangga dan pabrik menyebabkan banyak ikan punah. Termasuk Ikan Arwana yang dahulu menggantungkan hidup didalam Sungai Siak.


    ’Biodata Ikan Arwana sulit ditemukan. Ikan jenis lain juga sangat sulit sekarang. Ini karena pencemaran ekosistim yang terjadi disepanjang Sungai Siak. Kondisi ini harus segera diatasi bersama,’’ ujarnya.


    Untuk mengatasi persoalan pencemaran tersebut, menurut T Ariful, harus ada upaya merelokasi permukiman penduduk di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Siak. Tepian dengan lebar selebar 100 meter pada kiri dan kanan Sungai Siak dikosongkan.

    Kemudian, tepian ini diubah sebagai kawasan penyangga utama. Ariful mengingatkan, tekanan terberat yang dialami oleh Sungai Siak yakni limbah rumah tangga. Diperkirakan 60 persen limbah yang mencemari Sungai Siak berasal dari limbah rumah tangga.
    Dari hasil penelitian yang dilakukan tim Rona Lingkungan, tumpukan sampah plastik di badan sungai Siak terutama di areal pemukiman dan dermaga terus mengalami peningkatan. Tidak hanya di ruas pemukiman Kota Pekanbaru yang mengalami penumpukan sampah plastik.

    Dibeberapa lokasi yang padat pemukiman juga terjadi penumpukan sampah karena Sungai Siak yang panjangnya melalui empat kabupaten/kota yakni kabupaten Kampar, Rokan Hulu, Siak dan Kota Pekanbaru. Pencemaran limbah padat yang terbesar terjadi di ruas Pekanbaru karena pemukiman di daerah ini padat. Ditambah pula sampah yang  dihanyutkan anak-anak sungai yang bermuara di Sungai Siak.

    ‘’Prilaku masyarakat sebetulnya dapat diubah jika saja ada kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan pemerintah daerah mau membangun tempat pembuangan sampah di lingkungan padat penduduk yang berada di tepian sungai,’’ ungkapnya. Semoga ke depan Sungai Siak lebih bersih. Tidak menjadi tempat pemulungan sampah.(ndi)