Blogger Tricks


0

Green Techno: Apple Siapkan Paten Teknologi Fuel Cell MacBook

Riau Pos - For Us Senin, 02 Januari 2012


     Keterbatasan dalam penggunaan baterai memicu Apple untuk membuat teknologi yang lebih tepat sebagai suber energi bagi produk laptopnya. Kini, Apple tengah mempersiappkan paten untuk teknologi baru bagi MacBook tersebut. Rencananya MacBook akan menggunakan fuel cell.
     Ternyata tak hanya Apple yang tertarik dengan pengganti baterai ini. Panasonic pun telah melakukan riset yang sama beberapa tahun sebelumnya. Bahkan, rencananya fuel cell panasonic ini akan mulai diproduksi di 2012. Dipastikan teknologi baterai harus berkembang lebih jauh jika tidak ingin tersingkirkan oleh fuel cell jika kedua perusahaan ini membawa fuel cell pada berbagai peralatan elektronik produksinya.
0

Target Perbaikan Lingkungan Riau 2012 Fokus ke Kualitas Air dan Udara

Riau Pos - For Us
     Tahun 2012 akan menjadi tahun air dan udara yang bersih dan sehat bagi masyarakat Riau. Hal itu diungkapkan oleh Fadrizal Labay Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Riau.


     Tim Riau Pos For Us berkesempatan berbincang dengan Fadrizal Labay (27/12). Ketika ditanya tentang kondisi umum lingkungan hidup di Riau selama tahun 2011, Labay, begitu ia akrab dipanggil menyatakan bahwa kondisi lingkungan hidup Riau masih relatif dalam artian rata-rata. “Sepanjang tahun 2011 program-program lingkungan yang telah kita canangkan atau agendakan berjalan sesuai dengan rencana semula,” ungkapnya menjelaskan makna rata-rata tersebut. Meski, tambahnya, saya belum bisa yakin bahwa program-program tersebut efektif. Sebab sangat banyak indikator yang menentukan kondisi suatu lingkungan  layak dinyatakan sebagai lingkungan yang baik.

     Berdasarkan rangking lingkungan hidup 2011 yang diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia, kondisi lingkungan hidup Riau berada diperingkat 22 dari seluruh provinsi di Indonesia. “Hal tersebut dinilai berdasarkan luas atau tipisnya tutupan hutan alami yang masih dimiliki oleh masing-masing provinsi,” jelasnya.
     Sementara untuk tahun 2012, ungkap labay, dibidang lingkungan hidup Pemerintahan Riau akan lebih menitik beratkan pada perbaikan kualitas air bersih dan penurunan pencemaran udara. “Tahun 2012 Riau akan mendapatkan banyak kunjungan dengan adanya penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON), oleh karena itu jangan sampai polusi udara akibat pembakaran lahan danhutan menurunkan image Riau,” tuturnya.
     Untuk mengimplementasikan resolusi tersebut, tambahnya, maka ke depan Undang-Undang Lingkungan dan upaya-upaya penegakan hukum harus ditingkatkan.


     Hal senada juga diungkapkan oleh pengamat lingkungan hidup sekaligus  Penggagas yayasan Center for Tropical Peat Swamp Restoration and Conservation Indonesia (CTPRC),  Haris Gunawan ketika diwawancara di tempat terpisah (30/12). Ia menyatakan kondisi lingkungan hidup di Riau masih jauh dari bagus. Belum ada usaha optimal untuk pengelolaan lingkungan. Jika pun ada, hal itu belum menyentuh substansi persoalan lingkungan yang ada. Misalnya terus terjadi pembakaran hutan dan lahan, hingga konflik manusia dan satwa liar di sepanjang 2011 yang masih saja jadi lagu lama.


     Demikian juga halnya dengan semakin menipisnya tutupan hutan Riau. Ia mengungkapkan bahwa dilapangan kondisinya mungkin lebih parah lagi. Beberapa tutupan hutan alam dengan kategori hutan sekunder yang sudah pulih kerap menjadi incaran untuk dikonversi menjadi perkebunan skala di bawah satu hektare. “Ini tantangan bagi kita,” tuturnya.


    Oleh karena itu, dalam mengelola lingkungan hidup Riau, pemerintah harus mengimplementasikan Inpres Moratorium Juni 2011 atau Inpres Nomor 10 Tahun 2011 tentang penundaan pemberian izin baru dan penyempurnaan tata kelola hutan alam primer dan lahan gambut.


     Tahun 2012, tambahnya, pemerintah Riau harus memberdayakan masyarakat untuk penyelamatan tutupan hutan alami yang tersisa. Sebab masyarakat di sekitar hutan harus sejahtera dan harmonis hidup di lingkungannya.


    Pembangunan sudah saatnya mengedepankan kepentingan masyarakat tempatan. Terutama masyarakat yang hidup turun temuturun di lingkungan di sekitar hutan. Selain mengedepankan aspek ekonomi, pembangunan juga harus memperhatikan lingkungan dan masyarakat.


     “Saya yakin kalau kita tidak serius mengelola lingkungan hidup, maka Riau akan kehilangan potensi-potensi hutan alam, sumberdaya perikanan air tawar dan lahan gambutnya,” ujar Dosen Univeristas Riau yang sedang melanjutkan pendidikan S3 di Negeri Sakura.


     Oleh karena itu, lanjutnya, konversi hutan alam untuk kepentingan apapun harus dihentikan. “Saya pikir sudah cukup lah lokasi pengembangan untuk pembangunan. Hutan alam yang tersisa biarkan kita kelola dengan pendekatan yang berkelanjutan dan kita pasti mampu,” katanya yakin.


     Selain persoalan hutan dan lahan. Haris juga menambahkan harapannya untuk lingkungan hidup Riau yang lebih baik di tahun 2012 ini.


     “Perbaikan sempadan-sempadan sungai dengan penanaman pohon-pohon yang menjadi ciri khas hutan sempandan sungai, penyelamatan anak-anak sungai, merupakan pekerjaan yang harus segera kita lakukan di tahun ini,” tegas Bapak dua anak ini. Yah… sebelum sungai-sungai tersebut mengering dan hilangnya, mirisnya. So, Apa resolusi Anda untuk lingkungan dan Riau yang lebih baik? Happy New Year.(tya-gsj)
0

Bebaskan Hutan Lindung Bukit Suligi dari Sawit

Riau Pos - For Us
Dalam angka-angka di atas kertas, Hutan Lindung Bukit Suligi memiliki luas 25.160,96 hektare. Namun ril di lapangan, kini yang tersisa hanya 600 hektare.  Hutan itu bersaing dengan perkebunan sawit ilegal yang berada di dalamnya. Kini Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu, berupaya untuk mempertahankan yang tersisa agar tidak terus dirambah. Pelan-pelan juga akan  membebaskan hutan itu dari keberadaan kebun-kebun sawit ilegal. Mampukah?

Laporan Mashuri Kurniawan Tandun 
mashurikurniawan@riaupos.co.id

     Hutan Lindung Bukit Suligi berada di kawasan Desa Aliantan, Kecamatan Kabun dan Desa Dayo Kecamatan Tandun, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul). Hamparan hutan tropis  basah di atas lahan tersebut merupakan salah satu habitat flora dan fauna di Riau.

     Bila masuk ke kawasan hutan lindung itu awalnya masih terlihat suasana asri dan sejuk langsung menyambut. Pepohonan yang rindang dengan batang besar dan tinggi menjulang, banyak terlihat di sepanjang jalan. Pohon meranti berjejer menyambut. Hanya saja pemandangan itu bisa dilihat hanya sebentar saja.

      Begitu memasuki jalan tanah kuning selebar empat meter, pepohonan dan jenis tanaman lainnya berubah menjadi lahan perkebunan sawit dan karet. Hamparan perkebunan sawit milik masayarakat dan para pengusaha tersebut begitu menggiurkan bagi pemiliknya. Ribuan hektare kebun sawit  yang siap panen itu dan memberikan keuntungan bagi pemiliknya.

     Pemandangan lainnya, kayu hasil olahan tanpa pemilik dibiarkan begitu saja di pinggir jalan setapak tanah kuning itu. Raungan mesin chainsaw dari dalam tengah hutan terdengar sayup-sayup. Artinya, masih terjadi pembalakan di dalam kawasan hutan lindung itu sekarang ini.

     Pemandangan itu terlihat jelas ketika Riau Pos berkunjung belum lama ini memasuki kawasan Hutan Lindung Bukit Suligi. Hutan yang seharusnya dilindungi dan dilestarikan flora dan faunanya justru dijadikan lahan pencari uang. Hutan yang sangat layak untuk dikunjungi karena terdapat didalamnya anak sungai yang memiliki air jernih itu sekarang sudah tidak seindah dahulu lagi.

     Hamparan pepohonan hijau menjulang tinggi yang bisa dilihat tahun 1960-an lalu sudah tidak bisa dinikmati lagi keindahannya. Sesuai data dari Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), dari luas awal hutan Lindung Bukit Suligi di Kecamatan Tandun dan Kabun yang mencapai 25.160,96 hektar.

     Saat ini luas hutan tersebut hanya bersisa sekitar 600 hektare lagi. Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu, sudah memiliki perencanaan untuk melakukan reboisasi. Ini sebagai bentuk penyelamatkan kawasan dari jarahan oknum tidak bertanggungjawab dialihfungsikan menjadi perkebunan.

     Zainal salah seorang warga Desa Aliantan, Kecamatan Kabun menjelaskan, penebangan pohon dilakukan oknum pengusaha yang ingin menambah luas lahan perkebunan sawit mereka. Kayu yang sudah dirambah dibawa dengan mempergunakan truk untuk dibawa ke Sumatera Utara dan Pekanbaru.

     Biasanya, kata dia, kayu dibawa pada malam hari. Bahkan ada yang dibawa pagi hari juga ketika petugas tidak ada yang patroli. Hutan ini dahulunya, sambung Zainal, menjadi habitat hewan seperti harimau, monyet, macan tutul, burung murai batu, dan jenis hewan lainnya.

     ‘’Tahun 1960-an banyak pohon tinggi besar di Hutan Lindung Bukit Suligi.Pemandangannya juga sangat bagus. Alamnya sejuk, air sungai yang mengalir didalamnya menjadi salah satu penarik wisatawan datang. Hanya saja sekarang berubah, pohon sudah tak ada lagi,’’ ungkapnya kepada Riau Pos.
Dari penuturan Zainal, pembukaan kebun sawit itu terjadi sejak tahun 2000-an lalu. Banyak masyarakat dan pengusaha berbondong ke Hutan Lindung Bukit Suligi untuk merambah hutan tersebut. Pertama hanya, lima atau enam orang saja yang membuka lahan secara diam-diam dalam hutan itu.

     Namun, seiring dengan waktu banyak masyarakat yang melakukan pembukaan lahan perkebunan sekarang ini. Bunyi suara chainsaw, ungkap Zainal, masih bisa di dengar juga didalam hutan tersebut.

     Warga lainnya, Surya (53) menambahkan, hutan itu banyak tumbuh pepohonan buah seperti durian, rambutan dan jenis pohon lainnya. Hanya saja, sekarang sudah tidak bisa ditemukan lagi, habis ditebang.

     ‘’Hutan sudah banyak beralih fungsi menjadi kebun sawit. Ada juga kebun karet, tapi tidak banyak,’’ ungkapnya.

     Surya sangat berharap, pemerintah segera melakukan tapal batas yang jelas kawasan Hutan Lindung Bukit Suligi itu. Untuk menghindari terjadinya permasalahan dengan masyarakat yang sudah memiliki lahan perkebunan sejak lama.

     Bahkan hutan Bukit Suligi yang dikelilingi sejumlah desa di Kecamatan Tandun, seperti Desa Suligi, Tandun, Sei Kuning, Puo Raya, Kumain, Dayo, dan Bono Tapung, termasuk Kecamatan Kabun, seperti Desa Bonca Kusuma, Koto Ranah, dan Desa Aliantan, juga ada sejumlah desa yang masih masuk dalam kawasan hutan lindung.

     Dalam rencana penyelamatan hutan lindung Bukit Suligi, kini masuk dalam pembahasan serius Pemkab dengan sejumlah instansi. Pemkab berkonsentrasi, dalam penyelamatan 600 hektare kawasan yang tersisa. Karena, jika dikaji lagi ke belakang, masyarakat sudah menyalahi hukum, sebab mereka sudah berani masuk ke dalam kawasan hutan diklat.

     Wakil Bupati Rokan Hulu Ir H Hafith Syukri MM, meminta agar pengawasan hutan lindung dan hutan diklat Bukit Suligi dibawah komando kades setempat. Dimana usaha itu untuk selamatkan sisa hutan 30 persen lagi, dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan disatukan, sehingga dua kewenangan tidak timpang tindih.Pemerintah, tegasnya, sangat komitmen dalam pengawasan hutan di Rohul.

     Pemerintah juga sangat konsisten mengembalikan fungsi hutan tersebut dan tidak ada tarik ulur lagi. Direncanakan untuk pengaman hutan yang tersisa, hutan dijadikan hutan pendidikan dan pelatihan sertapenelitian.

     Bahkan, lanjutnya, di kawasan Hutan Lindung Suligi saat ini ada pembangunan rumah liar yang dijadikan sebagai kegiatan bersenang-senang. Selain itu juga terdapat kebun kelapa sawit. Untuk memfungsikan kembali kawasan Hutan Lindung Suligi, perlu dilakukan koordinasi terpadu lintas sektor, yakni kepolisian, kejaksaan, pemerintah serta komponen masyarakat.

     Untuk tahap awal, tertibkan rumah liar tempat hiburan di kawasan hutan. Penertiban ini jelas akan ada aspek hukum dan perlawan dari masyarakat. Itu pentinyanya koordinasi terpadu lintas sektor. Diperlukan juga aktifnya seluruh elemen masyarakat menjaga kawasan hutan alam yang ada.

     Dengan demikian, kawasan hutan lindung tetap menjadi hutan lindung. Sedangkan yang telah dirambah akan dikembalikan seperti semula. Diharap, pengembaliannya tidak memakan waktu yang terlalu lama.

     Dia juga berpendapat, belakangan ini banjir tak bisa dicegah, semua akibat hutan mulai gundul dan tak mampu menahan air. Sehingga pada musim kemarau, air makin sulit ditemukan masyarakat karena tak ada hutan serapan lagi. Dan dari sekitar 25 ribu hektare luas hutan Bukit Suligi, kini tinggal 2.183 hektare luas hutan diklat.

    Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Rokan Hulu, Hen Irpan menjelaskan, Hutan Lindung Bukit Suligi harus mendapatkan perlindungan seluruh elemen masyarakat. Bagaimana hutan lindung bisa dijaga ke alamiannya dan tetap menjadi kawasan hijau milik masyarakat Riau.Dishutbun Rohul, sambungnya, dengan jumlah petugas yang hanya sekitar 30 an orang pihaknya selalu melakukan patroli di Hutan Lindung Bukit Suligi. Hanya, saja dalam pelaksanaannya petugas kucingan dengan perambah hutan. Ketika petugas, datang di lokasi sangat sepi sekali aktivitas.

     Namun begitu, pihak Dishutbun Rohul terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar untuk tidak melakukan penebangan dan pembukaan lahan perkebunan sawit. ***
0

Cara Unik Jaga Lingkungan: Peduli Masa Depan Sendiri

Riau Pos - For Us Minggu, 01 Januari 2012

Resty Ika Prahesti
Mahasiswa Pendidikan Kimia
UIN Suska Riau

Setiap orang selalu menyerukan untuk saling menjaga lingkungan. Sudah kah Anda memulainya? Ironisnya kadang kita hanya omdo alias omong doang. Jadi menjaga lingkungan kita ini mulai dari diri sendiri.

Kalian sering liat nggak sih, orang-orang yang bermobil (mengendarai atau memiliki mobil sendiri). Nah ketika mengemudi mobil dengan laju maksimum, seenakknya dan arogan (catatan bukannya saya jelous sama mereka ya) eh… tiba-tiba syuutt… membuang sampah sembarangan dari dalam mobilnya yang sedang melaju tersebut. Dan itu terjadi di depan mata kalian. Nggak banget deh!

Kalau semua orang yang memiliki mobil seperti itu, penuh tuh jalan raya dengan sampah. Katanya orang modern dengan kendaraan paling mutakhir abad ini. Tapi kok otak mereka nggak mengatakan hal yang sama ya?

Solusinya menurut saya simple aja kok. Misalnya siapin sendiri tong sampah di dalam mobil. Nah buang tuh sampah yang memang ke tempatnya. Bukan ke jalanan macam orang yang tidak beretika begitu. Plus kalo tong sampahnya sudah penuh dan kalian sedang mengemudi, mampir bentar ke pom bensin dan buang sampah yang sudah penuh di tempatnya tersebut ke tong sampah umum di pom bensin.
Easy kan?

Selain tentang etika berkendara dan sampah-sampah nggak pentingnya. Adalagi nih gadget yang sangat digemari orang-orang, notebook. Notebook barang mewah, tapi itu dulu. Sekarang notebook sudah menjadi barang primer alias kebutuhan. Tapi ada hal yang sering aku temui.
Dan ini biasanya berhubungan dengan kebiasaan buruk.

Seringkali para pengguna notebook membiarkan laptop atau perelengkapan mereka tersebut tidak terpakai dengan power masih menyala, program masih jalan dalam kondisi yang sangat lama bahkan hingga semalam suntuk. Ini jelas nggak bagus banget kan? Boros listrik. Katanya mau hemat energi tapi kok masih suka membiarkan power laptop nyala begitu lucunya malah ditinggal tidur. Udah gitu, paparan elektron atau radiasi bisa menimbulkan efek negatif kepada orang yang ada didekatnya. Apalagi kepada kita yang lagi tidur di dekat laptop yang tengah menyala. Plus itu juga berbahaya bagi ozon kita. So, pake aja deh segala sesuatu itu sesuai dengan kebutuhan. Sama dengan pemakaian lampu. Nyalakan saja mana yang perlu. Tapi jangan salah, ini bukan berarti aku menyuruh kalian ke tempat yang remang-remangnya. Ketawa amat keras (KAK).

By the way, kalau boleh curhat nih. Aku selalu bosan dengan jawaban-jawaban dari cowok-cowok yang bilang kalau nggak ngerokok itu nggak keren. Tapi bagi aku cowok yang nggak ngerokok itulah yang keren. Karena dia nggak ikut-ikutan mencemari udara. Dan, kalau dia disamping kita dia nggak akan kasih penyakit ke kita. Udah tahu dong, kalau perokok pasif itu (orang yang tidak merokok) lebih rentan terkena penyakit berbahaya (khususnya untuk efek-efek negatif merokok) daripada perokok aktif. Itulah alasan aku kenapa cowok gak ngerokok itu keren. Tanpa merokok dia telah menjaga kesehatan dirinya, menjaga kita para cewek-cewek dari bahaya menjadi perokok pasif. Dan yang pasti bisa menjaga lingkungan juga dengan menjadikan udara bersih tanpa asap rokok.

Itu semua ide-ide dari aku tentang menjaga lingkungan. Sesuatu yang menurut kita terkadang biasaaaa banget. Namun kadang alam menyatakan lain. So sebagai generasi muda, jangan hanya generasi tua yang peduli dengan kita. Kita juga harus peduli dengan masa depan kita sendiri.***